Beranda > Tulisan Orang > Syi’ah di Aceh Budaya atau Aqidah?

Syi’ah di Aceh Budaya atau Aqidah?

TULISAN Dr. M. Hasballah M. Sa’ad; “Syiah di Aceh” (Serambi, Minggu, 22/02/2009) telah menggugah saya dan memberi tanggapan, khususnya berkait Hikayat Muhammad Nafiah, putra Ali bin Abi Thalib dari isterinya yang lain, yang didudukkan di paha kanan Rasulullah saw. Sementara, cucu kesayangan beliau saw, Hasan dan Husen didudukkan di paha kiri Rasul yang kemudian membuat Saida Fatimah, bermasam muka. Lalu Rasul saw, menjelaskan bahwa Hasan dan Husein akan menemui ajal karena dibunuh, dan Muhammad Nafiah akan menuntut bela atas kematian mereka ini.

Bila benar yang dimaksudkan Muhammad Nafiah adalah anak Ali bin Abi Thalib dari isteri yang lain, maka saya ingin memperjelas bahwa isteri tersebut bernama Khaulah yang berasal dari Sind yang tertawan pada perang Yamamah kemudian menjadi budak Bani Hanafiah. Khalifah Abubakar memberikannya kepada Ali, dan hasil perkawinan ini lahirlah Muhammad bin Ali bin Abu Thalib pada tahun 21 H. yang terkenal bernama Ibnu Al-Hanafiah. Cerita yang menyebutkan Rasul Saw memangkunya adalah sangat musykil sekali terjadi karena Rasul wafat pada tanggal 12 Rabiul’awal tahun 11 hijrah, dan Muhammad Nafiah baru lahir pada tahun 21 H.

Sejarah mencatat Ali bin Abi Thalib pada perang Jamal tahun 36 H, dan pada perang Shiffin tahun 37 H. Dia terkenal gagah berani, alim dan wara’. Meskipun dia keturunan dari Ali bin Abi Thalib tapi Syi’ah Itsna Asy’ariyah tidak memasukkannya sebagai salah satu Imam karena mereka membatasi imam, yaitu hanya pada anak-anak Ali dari Fatimah r.a. Namun oleh faham Syi’ah sekte Al-Kisaniyah tidak membatasi hanya dari anak-anak Fatimah r.a. Mereka mengangkat Muhmmad bin Al-Hanafiah, menjadi salah satu Imam mereka, setelah berjuang memerangi penguasa yang zalim akhirnya. Dia wafat pada tahun 81 H sekembali dari Makkah menunaikan haji. Dia dikuburkan di Baqi.

Tragedi Karbala memang sangatlah tragis, memilukan, dan keji. Sebagaimana disebutkan oleh Dr. Hasballah dalam tulisannya. Duka nestapa dan airmata terus mengucur. Belum lagi kering atas duka suatu peristiwa terjadi lagi peristiwa lain. Sejak terbunuhnya Sayyidina Ali as oleh Abdurahman bin Muljam (kelompok Khawarij) pada tanggaj 17 Ramadhan tahun 40 H, cucu kesayangan Rasul saw, Hasan pun diracun oleh anak perempuan Shail bin Amr atas bujukan Muawiyah sehingga menemui kesyahidannya pada tahun 50 H setelah menderita selama empat puluh hari di pembaringan. Dan puncak kepiluan adalah terbunuhnya Husen di Karbala pada tahun 61 H dengan cara yang sangat keji oleh Ubaidillah bin Ziyad atas perintah Yazid bin Muawiyah.

Apa yang terjadi pada Sayyidina Husen kembali terulang pada cucunya Zaid bin Ali Zainal Abidin bin Husen pada tahun 122 H. Saat itu beliau berjuang melawan kekuasaan zalim Hisyam bin Abdul Malik, kepalanya tertembus anak panah hingga menemui ajalnya. Pengikutnya berusaha menyembunyikan jasad Zaid dengan menguburkan pada tempat yang tersembunyi tetapi dapat diketahui oleh lasykar Bani Umayyah lalu kuburannya digali kepalanya dipenggal dikirim ke Damaskus sedangkan tubuhnya disalib di Kufah. Tragedi yang syahidnya Hasan dan Husen menjadi tradisi keagamaan di Aceh sebagai penghormatan. Itu menandakan bahwa di Aceh ada pemeluk Syi’ ah yang sering ditentang karena beda faham dengan Ahlussunnah.

Mengenai Muawiyah dan anaknya Yazid, Syeikh Nuruddin ar-Raniry yang menjadi mufti Kerajaan Aceh Darussalam masa kekuasaan Iskandar Tsani (1045 -1050 M) mengeluarkan fatwa dalam bentuk syair berikut. Kata Nuruddin ebeunu Hasanji, meunan neupekri lam katanya Meupakat ulama dum na Aceh. menoe neupegah kalam calitra Saidina Ali ngon Muawiyah. nibak Allah pangkat beusa, Soe yang ceureuca dua ureung nyan. nibak Tuhan keunong meureuka Misei Yazid aneuk Muaw iyah, Fe/ora lidah he syeedara.

Bek keuh takheun Yazid kaphe, hana dali Yang peusiasa. Hana hadih nibak nabi, hana dali kheun Rabbana. Indonesianya : Kata Nurddin ibn Hasanji, demikian tegas dalam katanya Ulama Aceh telah mufakat demikian riwayat ceritanya Saidina Ali dan Muawiyah, disisi Allah mereka sama Siapa yang cerca orang dua itu. dari Allah murka menimpa Juga Yazid anak Muawiyah, jaga lidahmu wahai saudara Janganlah dikata Yazid kaf’ir, tiada dalil menopangnya Tiada hadis ucapan nabi, tiada bukti firman Ilahi (Dr- Ahmad Daudy. MA .Allah dan Manusia dalam Konsepsi Nuruddin Ar-Raniry, CV. Rajawali Jakarta).

Fatwa itu menunjukkan bahwa telah terjadi perbedaan pemahaman dalam kontek peristiwa Perang Siffin (tahun 37 H) dan Perang Karbala (tahun 60 H) dalam pandangan Sunni. Syeikh Nuruddin mencoba mengaburkan dan memperingatkan ulama-ulama pada masa itu untuk tiduk terpengaruh dengan ajaran Syi’ah. Perbedaan faham antara Syi’ah dan Ahlussunnah terajut dalam rentang sejarah yang panjang yang membias sampai ke Aceh dan mula berdirinya Kerajaan Peureulak (249 H) disusul Kerajaan Samudra Pase (433 H) sampai pada Kerajaan Aceh Darussalam (920-1322).

Fatwa itu merupakan juga suatu ilustrasi bahwa paham Syi’ah pernah berkembang di Aceh. Bait terakhir adalah merupakan suatu pengunci agar hal itu tidak dibicarakan lagi. Berdasarkan fakta sejarah saya tidak merasa enggan untuk berkesimpulan bahwa faham Syi’ah pernah berkembang di Aceh. Namun dengan banyaknya ulama Ah1ussunnah baik di Aceh ataupun yang datang dari Mekah yang menganut mazhab Syafi’iah pengaruh Syi’ah pun mulai memudar. Dan bila sekarang ada yang melantunkan syair Hasan Husen atau ritual lainnya dengan simbol- simbol Syi’ah adalah semata-mata karena kecintaan mereka kepada ahlu1 bait, tapi mereka mungkin (?) bukan penganut faham Syi’ah. ***

Sumber: Serambinews

  1. sagifah BSA
    Juni 10, 2009 pukul 1:13 pm

    (REVISI tuk COMMENT Sebelumnya)🙂
    ya akhy….,kalau memang jawaban dari kami selalu seperti ini, tentu mudah kan bagi anda tuk menjawab komentar balasan bukan?!…..,so….,kenapa harus berbasa-basi….,afwan.
    to the poin aja….,

    koreksi lagi ya akhy….,menurut kami bahasa yang lebih tepat bukan “tidak memberikan baiat”, tetapi belum memberikan baiat.
    sebab, terbukti setelah enam bulan beliau akhirnya memberikan baiat.

    jadi,silahkan anda buktikan disini, jika memang kekhalifahan Abubakar dianggap tidak syah….,sekali lagi silahkan anda paparkan disini dalilnya….
    wallahu’alam

  2. Juni 10, 2009 pukul 2:26 pm

    1. Apakah sah tidaknya kekhalifahan Abu Bakar diukur dari baiat Imam Ali?

    2. Kira-kira, apa sih penyebab Imam Ali (dalam bahasa Anda) terlambat atau menunda membaiat Abu bakar? Kemana aje Imam Ali selama 6 bulan?

  3. sagifah BSA
    Juni 17, 2009 pukul 12:05 am

    salam….
    ya akhy…..,to the point aja….ok..
    dalil saya (sebagai sunni syafi’i) sudah saya paparkan diatas….,jadi saya nggak perlu untuk mengkopi lagi komentar saya yang diatas,silahkan baca kembali jika lupa.

    sekarang giliran anda memaparkannya…..,sebab disini kita berdialog berdasar dengan dalil yang ada….,bukan berarti mengkondisikan, seakan-akan Imam ALi tidak setuju dengan kekhalifahan Abu bakar hanya karena menunda baiat.

    namun……,jikalau,andaikata,seumpama……kami mau sedikit lunak kepada anda untuk menyetujui apa yang antum pahami, seperti apa yang antum sebutkan bahwa penundaan baiat Imam Ali kepada Abubakar sebagai Khalifah dipahami sebagai penolakan dan tidak syahnya Kekhalifahan pada waktu itu…..,lalu menurut keyakinan anda (yg mengaku sebagai Syiah atau pengikut Imam ALi),apa yang melatar belakangi sikap Imam Ali yang meyakini bahwa sebenarnya kekhalifahan Abubakar tidak syah….?

    jika kami (sunni syafi’i) justru sebaliknya, yang melatar belakangi pembaitan Imam Ali walau sedikit agak terlambat merupakan bukti bahwa beliau menyetujui kekhalifahan yang ada pada waktu itu.

    sebab,andaikan mengikuti seperti yg anda pahami, bahwa 6 bulan pertama sebenarnya Imam ALi menolak,kemudian setelah itu membaiat Abubakar. bukankah berarti hukum yang baru menghapus yang lama, seperti istilah nasikh-mansukh yang ada dalam Al-Qur’an….? itu berarti Imam Ali tlah menyetujui Kekhalifahan yang ada.

    so….,sekali lagi, poin saya sebenarnya simple kok,hanya memohon kepada akhy Ressay untuk menyebutkan dalil yang menyatakan bahwa kekhalifahan Abubakar TIDAK SYAH….,itu aja kok…..mudah bukan…?!

    Jadi silahkan jawab sendiri pertanyaan anda yang ke 2…,karena sebenarnya sedari awal saya menanyakan hal itu kepada anda…..!

    • Juni 17, 2009 pukul 1:28 pm

      Salam wa rahmah,

      santai, belum saatnya saya berdalil. Karena masih banyak hal yang perlu dikritisi dari pemaparan Anda.

      Poin saya pun sebetulnya simple. dari komentar Anda yang panjang lebar, sama sekali belum menjawab kedua pertanyaan saya.

      1. Apa yang melatarbelakangi Imam Ali menunda (kata Anda) membaiat Abu Bakar?

      2. Apakah sah tidaknya kekhalifahan Abu Bakar diukur dari baiat Imam Ali?

  4. sagifah BSA
    Juni 17, 2009 pukul 2:20 pm

    🙂
    ya akhy….,mengkritisi pendapat saya itu memang hak anda….,saya pun akan melakukan hal yang sama….,karena itu….,agar dialog nya nggak terkesan panjang lebar kita mulai dari dalil masing2.cause….,bukankah perbedaan kita dalam memahami syah tidaknya kekhalifahan sebelum Imam Ali adalah karena perbedaan penggunaan atau pemahaman dalil yang ada.

    selain itu,kalau pun nanti seandainya kritikan anda benar, dan saya yang salah atau sebaliknya…,saya yang benar dan anda yang salah…,tentu masing2 dari kita akan mencari pembenaran dari argumen yang diutarakan….,dan itu nggak ada selesainya ya akhy….

    so…,tuk apa beradu argumen jika masing2 tidak memiliki dalil atas kebenaran argumennya…., karena masing2 dari kita jelas merasa argumennya yang benar dan orang lain adalah salah…bukan begitu….

    singkatnya…,mari kita diskusikan dari pokok permasalahannya….,bukan mencari kebenaran argumen sendiri tanpa dalil yang shorih dari Qur’an dan Hadis…
    wallahu’alam

    • Juni 17, 2009 pukul 2:59 pm

      Salam wa rahmah,

      Bukankah kita sedang membahas mengenai sah tidaknya kekhalifahan Abu Bakar? ya gak? ya gak?

      Nah, dari komentar Anda sebelum ini, terkesan Anda berpendapat bahwa sahnya kekhalifahan Abu Bakar ini karena Ali bin Abi Thalib membaiat Abu Bakar, ya walaupun terlambat tetapi pada intinya Ali membaiat Abu Bakar dan tidak melakukan perlawanan. Gitu khan/

      Nah saya tanya, apa Anda yakin bahwa sah tidaknya kekhalifahan Abu Bakar ini tolak ukurnya adalah baiatnya Ali bin Abi Thalib?

      Terus ngemeng2, kok Imam Ali telah memberikan baiatnya bahkan selama 6 bulan? itu knapa cuy?

  5. sagifah BSA
    Juni 17, 2009 pukul 4:51 pm

    Ya akhy….,anda lupa yaa….. ,baiklah,sepertinya saya harus mengingatkan kembali pokok pembahasan kita.

    bukankah telah anda katakan dalam comment yang lalu,bahwa:
    “Ahlulbayt itu mengkritik dan menunjukkan fakta-fakta penyimpangan yang dilakukan oleh sebagian sahabat lho. Ya kita harus ngikutin donkz. Ngikutin untuk menunjukkan fakta-fakta penyimpangan yang dilakukan oleh sahabat nabi, agar tidak diikuti oleh umat Islam apalagi jika orang yang melakukan penyimpangan itu dianggap sebagai sahabat yang mulia.”

    lalu saya meminta anda untuk membuktikan tentang ahlul-bayt yang mengkritik dan menunjukkan fakta2 penyimpangan yang dilakukan oleh sahabat Nabi …..,tetapi sampai saat ini anda tidak menunjukkannya.

    akhirnya, kami pun mengalah untuk membuktikan dahulu sebelum anda. bukti itu adalah bahwa Ahlul Bayt justru menunjukkan bukti2 kebenaran yang tlah dilakukan oleh khalifah sebelum Imam Ali
    , khususnya Abubakar dengan membaiatnya walau setelah 6 bulan!

    so….,karena itu,sebenarnya sedari awal saya telah memulai terlebih dahulu untuk memberikan terlebih dahulu tentang pembuktian2 yang ditunjukkan oleh Ahlul-bayt tentang kebenaran2 yang tlah dilakukan oleh sahabat Nabi.

    so….,mana pembuktian tentang penyimpangan sahabat Nabi yang ditunjukkan Ahlulbayt Nabi yang menurut anda itu….,silahkan anda paparkan disini…., karena saya ingin mengetahuinya….

    • Juni 17, 2009 pukul 5:16 pm

      ok, ternyata jelas kok siapa yang sebetulnya melebar dalam berdiskusi. Awalnya membahas apakah Ahlulbayt juga mengkritik sahabat? Tetapi Anda malah melebar mengenai pembahasan pembaiatan Imam Ali kepada Abu Bakar. ah…itu ntar dulu deh.

      Saya sepakat untuk membahas mengenai persoalan, “Apakah Ahlulbayt mengkritik penyimpangan yang dilakukan oleh sahabat Nabi?”

      Sedari awal, sepanjang yang saya ketahui, saya sudah memberikan dua link weblog yang bisa Anda baca mengenai kritik Ahlulbayt terhadap penyimpangan yang dilakukan oleh sahabat Nabi. Disana banyak tulisan-tulisan mengenai hal itu. Jadi, silakan Anda pelajari disana.

      Ya, disini juga ada sih. silakan saja di cari.

  6. sagifah BSA
    Juni 23, 2009 pukul 3:47 pm

    salam…
    afwan ya akhy….,saya rasa tuduhan anda nggak berdasar. karena nggak ada yg keluar dari dialog saya…!

    bukankah anda mengatakan , bahwa anda ingin membuktikan penyelewengan Sahabat yang diungkap oleh para Ahlul Bayt, namun sampai sekarang belum diungkap, meskipun sudah memberikan link yang berkaitan dengan itu…..,(saya hanya minta anda ungkap di dialog kita, agar pembaca yang membaca dialog kita mengerti maksud anda. tidak harus membaca kembali link2 ataupun postingan2 yang laen secara pangjang lebar)

    maka saya pun sebaliknya….,ingin membuktikan kepada anda pembenaran yang dilakukan oleh Imam Pertama Ahlul Bayt terhadap para sahabat, dalam hal ini pembaitan Imam Ali kepada Abubakar.dan itu sudah saya sebutkan dari awal.

    so….,sekali lagi tuduhan anda tidak benar. karena nggak ada yg keluar dari pembahasan.bahkan semakin memperjelas pembahasan…,silahkan anda baca kembali jika tlah lupa…

    • Juni 23, 2009 pukul 3:56 pm

      Silakan Anda baca lagi tiap2 komentar. Itulah kecerdasan Anda. Melompat-lompat, padahal tema sebelumnya belum selesai dibahas.

      Mengenai penyelewengan yang dilakukan oleh sahabat Nabi, saya pikir cukup dibahas di blog yang memang memuat tulisan mengenai itu. Bukankah Anda ingin membuktikannya apa betul Para sahabat itu melakukan penyimpangan atau tidak? So, silakan saja kunjungi. Mudah khan bagi Anda?:mrgreen:

  7. sagifah BSA
    Juni 23, 2009 pukul 4:27 pm

    ok deh….,sepertinya anda berat hati untuk melanjutkan dialog kita…..

    ok saya pahami itu….,tapi jangan salah….,ternyata anda tdak kalah cerdasnya lo untuk menempatkan diri di posisi yang aman… 🙂

    (tapi jangan salah,kita bukan mencari aman dalam berdebat atau berdialog, tetapi mencari kebenaran yg terungkap….)

    beberapa tahun kemudian……

    Akhy Ressay, masih berminat kah menerima jawaban dari saya tentang 2 pertanyaan yang tlah anda ajukan tentang “baiat Imam ALi sebagai tolak ukur Syah tidaknya kekhalifahan” dan “kemana aja beliau selama 6 bulan”…..,

    semoga aja anda masih membuka diri tuk melanjutkan dialog dengan saya….

    • Juni 23, 2009 pukul 4:30 pm

      Hehehehe….Silakan tanggapi tulisan2 yang menyimpulkan bahwa para sahabat Nabi pun melakukan penyelewengan. Mudah khan?:mrgreen:

      Saya tunggu…

  8. sagifah BSA
    Juni 23, 2009 pukul 4:51 pm

    SALuuuut…..buat anda.
    benar2 anda sangat cerdas dalam menghindari “tekanan”…bahkan menjauhi dari “tekanan”.
    padahal saya tidak pernah merasa menekan anda.

    bukankah kita sedang mencari kebenaran yang terungkap seperti yang dikatakan fuad diatas, bukan mencari kemenangan dalam berargumen.

    karena itu, sudikah anda mengizinkan saya tuk menanggapi 2 pertanyaan anda itu…

  9. Juni 23, 2009 pukul 4:59 pm

    Anda tidak pernah merasa memberikan tekanan khan? kok Anda berkomentar seperti diatas seakan-akan saya menghindari tekanan? konyol ah itu mah.

    Hehehe….mau bahas masalah khalifah atau penyimpangan sahabat Nabi? ah kacau nih, plin-plan.:mrgreen:

  10. sagifah BSA
    Juni 23, 2009 pukul 5:20 pm

    akhy ressay….,justru itu….,kalau memang nggak ada yang merasa tertekan disini….,apa susahnya sih buat anda tuk buktikan di dialog kita (bukan ditempat lain) pembuktian tentang penyimpangan sahabat Nabi yang diungkap oleh Ahlul Bayt!?.

    kalau saya mampu membuktikan pembenaran Ahlul Bayt terhadap Sahabat Nabi DISINI….,kenapa anda nggak bisa….?!

    asal anda pahami, pemaparan saya tentang kekhalifahan yang dibaiat Imam ALi itu kan…,untuk menunjukkan kepada anda bahwa Imam yang pertama dari Ahlul Bayt justru mendukung penuh terhadap kekhalifahan yang ada,walau setelah 6 bulan. itu bukti konkret kami.

    jadi, jelas saya tidak plin-plan.justru semakin menunjukkan bahwa kami (sunni syafii) benar2 konsisten dalam mengikuti Ahlul bayt dalam sikap dan perbuatan.karena mustahil para AHlul-Bayt yang suci bertutur dan bersikap yang jauh dari sifat kesucian dan kebersihannya, ataupun menyebut kejelekan orang lain, walau kepada makanan sekalipun.

    wallahu’alam

  11. Juni 23, 2009 pukul 5:26 pm

    Hehehehe…maka hentikanlah asumsi Anda. Itu jika Anda tidak ingin menjatuhkan kehormatan Anda sendiri.

    Saya sudah mempersilakan Anda untuk menanggapi tulisan-tulisan yang berkaitan dengan penyimpangan yang dilakukan sahabat Nabi. Apa sih susahnya Anda lakukan itu? Bisa juga khan pertanyaan itu saya lemparkan kepada Anda?:mrgreen:

    Disitulah letak keplin-planan Anda. Anda ini ingin membahas atau membuktikan mengenai penyimpangan yang dilakukan oleh sahabat Nabi atau ingin membahas mengenai sikap Ahlulbayt terhadap sahabat Nabi?

    Silakan perbaiki alur berpikir Anda. Janganlah terburu-buru untuk “menghajar” semua tema. Santailah…gitu cuy.

  12. sagifah BSA
    Juni 23, 2009 pukul 6:13 pm

    🙂

    anda mengatakan:
    “Saya sudah mempersilakan Anda untuk menanggapi tulisan-tulisan yang berkaitan dengan penyimpangan yang dilakukan sahabat Nabi. Apa sih susahnya Anda lakukan itu? Bisa juga khan pertanyaan itu saya lemparkan kepada Anda? :mrgreen:”

    maka akan ada pertanyaan balik tuk anda…., bukankah anda sendiri yang mengatakan akan membuktikannya dalam dialog ini….,tentang penympangan yang anda maksud?!

    so kenapa harus berubah ketempat lain?

    bukankah sikap seperti ini yang justru dipahami sebagai cerminan dari sikap plin-plan??!

    sekali lagi, buktikan didalam dialog ini…!
    saya aja bisa membuktikannya disini….,masak mas yaser nggak bisa…..?!

    oh ya,jangan mengalihkan pembicaraan dengan tema-tema yang baru lagi yach…..,seperti “plin-plan lah”,”menjatuhkan kehormatan diri sendiri lah”,”memperbaiki alu pikir lah”….,karena saya tidak tertarik tuk membahas tema itu, karena sudah sangat keluar dari pembahasan.

    sekarang kembali ke pokok pembahasannya aja….,ok
    ,buktikan dahulu menurut dalil alqur’an dan alhadis tentang penyimpangan yang dilakukan oleh Sahabat Nabi, yang kata anda Ahlul Bayt telah menunjukkannya….disini ya,jangan dialihkan ke link2 yg laen, agar pembaca yang membaca dialog kita lebih mudah untuk mengikuti…,ok. sehingga akan mudah menemukan kebenaran yang terungkap.

    sekali lagi….,TO THE POINT AJA…… 🙂 (semoga anda dapat membuktikannya dalam dialog ini)

    wassalam

  13. sagifah BSA
    Juni 24, 2009 pukul 1:53 pm

    masya-ALLAH ….banyak amat ya akhy…..,saya rasa tidak punya banyak waktu tuk menanggapi link2 yg anda sebutkan.
    bisa nggak bantu saya tuk menyebutkan salah satunya dan anda paparkan dalam dialog kita….?

    artinya begini ya akhy…..,bukankah saya sedang berdialog dengan anda….,bukan ingin belajar dengan anda….? jadi nggak perlu terlalu repot tuk ngasih PR kepada saya agar membaca link2 itu.

    sekali lagi,kita disini berdialog, bukan saling memberi tugas?!

    jadi silahkan anda paparkan kepada saya didialog ini…..,

    maaf, saya tidak mau menanggapi tema baru anda tentang ”plin-plan”, karena siapapun yang mau membaca dialog kita akan tahu siapa sebenarnya yang plin-plan!
    jadi sebaiknya, tema itu nggak perlu anda angkat lagi….,ok.

    kembali aja ke topik awal…,gmn….,terserah anda mau memilih topik yg mana diantara dua topik yang kita bicarakan.
    saya nggak akan menentukan, agar anda nggak main tuduh plin-plan lagi….,gmn….,anda terima tawaran saya ya akhy….
    wassalam

    • Juni 24, 2009 pukul 2:06 pm

      Hehehe…silakan pilih salah satu. Jika sudah selesai, maka lanjut ke tema yang berikutnya. mudah khan?

      Silakan Anda lihat kembali tulisan awal diatas mengenai apa jika Anda masih ingin bersikeras meneruskan diskusi ini. Berakhlaklah dalam berkomentar diblog. Tempatkan komentar Anda pada tempatnya.

      Ya sudah jika tidak ingin membahas mengenai plin-plan. Semoga bukan karena ketakutan Anda setelah Anda berlaku plin-plan disini.

      Silakan pilih topik mana yang akan Anda diskusikan di link yang saya berikan. Ok? ciah…

  14. Juni 25, 2009 pukul 7:58 am

    Wah……. gimana kalo penentangan sahabat ditunjukkan semua seperti ‘membangkang perintah Rasul’ sebagaimana tragedi hari kamis. Atau seperti enggan berangkat pada ekspedisi Usamah. Atau ‘membangkang’ pada saat perang uhud. Atau…………….

    • Juni 25, 2009 pukul 8:03 am

      kalau mau membahas itu, bahaslah ditulisan yang khusus mengenai tragedi kamis kelabu.

  15. sagifah BSA
    Juni 27, 2009 pukul 6:35 pm

    “berakhlaq”….? topik baru nieh….?! baiklah,saya siap tuk membahasnya dengan anda…
    kalau begitu,dimana sikap anda yg dapat saya contoh sebagai akhlaq yang baik…

    ya akhy, sudahlah….,nggak perlu kita mengharap dari pengakuan orang terhadap perilaku kita yg baik, karena mereka bisa melihat sendiri kok siapa2 orang yang berakhlak baik.

    maksud saya, jika anda fair, seharusnya anda berakhlak dengan “menyerang” pokok pikirannya, bukan seperti selama ini yang seringkali anda melakukan pembunuhan karakter terhadap teman dialog anda.
    dengan tema “plin-plan”,”nggak berakhlaqlah”, etc (seperti yang sudah2 diatas)…..,jika mmg anda konsis terhadap menjalankan akhlak yang baik, cara yang anda lakukan itu bukan cara yang tepat. afwan….,sekali lagi afwan.

    saya masih berminat melanjutkan dialog ini dengan anda, atau pun dengan yang lain….
    namun, masukan saya,kita hindari dari kalimat2 yang mengandung “pembunuhan karakter”.

    kalaupun anda siap, kami siap berdialog dengan anda dengan tema “Kekhalifahan setelah Rasul”, karena dari sinilah asal mula perbedaan Sunni-Syiah bermula. adapun yang lain kita kan lanjutkan setelah itu kelar…

    “alfaqir sagifah BSA”

    • Juni 28, 2009 pukul 4:49 am

      :mrgreen: santai saja cuy, tidak ada yang berusaha membunuh karakter Anda disini. Yang ada hanya orang yang ingin mengkritisi sikap Anda disini.

      Mengenai diskusi kekhilafahan, silakan cari blog yang memuat artikel tentang itu. Dialoglah disana. Bukankah Anda ingin berdialog mengenai hal itu? Tentunya, carilah tema dialog seperti yang Anda inginkan, dengan siapapun, dimanapun.

      Saya tunggu Anda di http://jakfari.wordpress.com dan http://secondprince.wordpress.com.

  16. sagifah BSA
    Juli 9, 2009 pukul 7:29 am

    akyh ressay…
    saya sudah kasih comment ke blog sahib nt Jakfari….,tapi kenapa ya…,comment saya nggak ditampilin.
    nggak seperti anda yang fair langsung menampilkan dialognya ….,

    sampien dong sama sahibak jakfari….,jangan kelamaan moderasinya…

  17. sagifah BSA
    Juli 9, 2009 pukul 8:26 am

    🙂

    ini dah berjalan hari ke dua lho…..,apa memang harus menunggu sampai selama ini….?

    • Juli 9, 2009 pukul 8:36 am

      Ya terkadang cepat, terkadang lama. Tunggu saja…xixixixixi….:mrgreen:

  18. barika
    April 30, 2010 pukul 2:41 am

    LABAIKA YA SYIAH ALI

Comment pages
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: