Untuk kesekian kalinya KPU melakukan tindakan kontroversial. Pasalnya, spanduk sosialisasi pilpres yang dikeluarkan oleh KPU, tanda contreng diberi pada calon nomor 2. Menurut KPU, spanduk tersebut dicetak sebelum penetapan capres-cawapres. Demikian alasan KPU untuk menegaskan bahwa mereka tidak berpihak ke calon tertentu.

Terlepas dari apakah logis alasan yang disampaikan oleh KPU tersebut, hanya saja aku ingin sedikit memberikan masukan kepada KPU. Mbok ya kalau mau bikin spanduk seperti itu dipikirkan lebih matang dan bijak lagi.

Berikut ini adalah contoh spanduk yang dikeluarkan oleh KPU:

spanduk-pilpres-dalam
yang dicontreng gambar pasangan yang tengah.

Dari spanduk diatas, kesimpulannya contoh yang dicontreng itu gambar pasangan no 2 atau yang ke 2. Entah itu mau dibaca dari gambar sebelah kiri maupun kanan. Tetap saja, no. 2 atau yang ke 2.

Inilah yang dikhawatir oleh sebagian kalangan. Mereka khawatir jika pola pikir masyarakat kalangan bawah akan terbentuk bahwa yang dicoblos itu no 2 atau ke 2. Asumtif? Betul, tetapi apa yang dilakukan oleh KPU setidaknya menunjukkan bahwa KPU terkesan mendukung salah satu calon capres dan cawapres, yaitu pasangan no. 2.

Aku menggugat KPU untuk mencabut kembali poster-poster seperti itu. Solusinya apa?

OK, nih aku beri solusi buat KPU (Komisi Pekok Uh, kata seorang temanku).

spanduk-pilpres-dalam 1

Di gambar diatas, yang ditampilkan hanya 1 pasang calon saja. Ini menurutku jauh lebih independent ketimbang gambar spanduk yang pertama. Yang pentingkan pesan yang ingin disampaikan, tersampaikan dengan baik. Intinya biar rakyat tahu gimana cara nyontreng yang bener khan cuy? Gitu aja kok repot, KPU.