Beranda > News > Kudeta Tak Berdarah KAMMI

Kudeta Tak Berdarah KAMMI

Ketum dan Sekjen Digusur, KAMMI Dikudeta Salah Satu Capres

kammidalam

Jakarta – Musyawarah Luar Biasa (MLB) Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) yang digelar di Graha Wisata Kuningan, Jakarta, Rabu (17/6/2009) memutuskan menonaktifkan Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal KAMMI. MLB ini diduga digelar karena adanya desakan dari salah satu capres dalam pilpres 2009.

“Kita dikudeta. Ini sarat kepentingan politik terkait pilpres. Ada salah satu capres yang menghubungi MPP KAMMI untuk segera menggelar MLB,” kata Sekjen KAMMI Pusat Fikri Aziz saat dihubungi detikcom, Kamis (18/6/2009).

Penonaktifan ini terkait juga dengan kehadiran Ketua Umum KAMMI Rahman Toha di acara penandatanganan kontrak politik antara cawapres Prabowo dengan mahasiswa yang diselenggarakan BEM se-Indonesia di Universitas Indonesia (UI) Depok.

“Ketua umum hadir di Depok sebagai undangan. Tidak terkait dengan suatu dukungan. KAMMI konsisten menolak UU BHP, kebetulan Prabowo berani memberikan kontrak politik mengenai hal itu,” kata Fikri.

Fikri mengaku tidak diberi kesempatan untuk mengklarifikasi atas apa yang sebenarnya terjadi, sehingga KAMMI di beberapa daerah juga mendesak untuk menggelar MLB. “Ketua umum dan sekjen digusur bukan karena melanggar. Tapi karena kami konsisten mengusung agenda kerakyatan dan menolak agenda neolib,” tegasnya.

Ketika ditanya apakah KAMMI mendukung salah satu capres yang mengusung ekonomi kerakyatan, Fikri mengatakan cenderung ke capres yang mengusung prinsip ekonomi pasar.

“Kita cenderung ke presiden dengan prinsip ekonomi pasar dibandingkan ekonomi riil,” jawab Fikri.

Apakah MLB ini juga ada intervensi Partai Keadilan Sejahtera (PKS)? “Silakan tanya langsung ke petinggi-petinggi PKS,” tutupnya.
( mpr / asy )

Sumber: http://pemilu.detiknews.com/read/2009/06/18/141509/1150104/700/ketum-dan-sekjen-digusur-kammi-dikudeta-salah-satu-capres

KAMMI, PKS, dan Cawapres Boediono

Jakarta, RMOL. Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) adalah salah satu gerakan mahasiswa Muslim terbesar di Indonesia selain Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). KAMMI didirikan pada tanggal 29 April 1998 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jawa Timur. Pendirian KAMMI berawal dari pelaksanaan Forum Silahturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FS-LDK) X se-Indonesia di Malang.

Anggaran Dasar KAMMI pasal 5 menyebutkan bahwa KAMMI adalah organisasi yang bersifat terbuka dan independen. Namun, banyak kalangan menganggap bahwa KAMMI merupakan underbrow Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Anggapan ini semakin kuat karena sebagian alumni KAMMI menjadikan PKS sebagai pilihan alternatif dan perjuangan politik.

Seiring waktu berjalan, kedekatan PKS dan KAMMI mengalami pasang surut. Dalam milis KAMMI yang terbuka—KAMMI memiliki milis yang tertutup, kammi-clsd—pernah terjadi perdebatan antara Yusuf Caesar (Humas KAMMI Pusat) dengan Novri yang dikatakan Yusuf sebagai alumni KAMMI. Perbedaan pandangan tentang Independensi KAMMI secara konseptual, mengakibatkan retaknya dalam tataran gerakan yang bersifat strategis dan taktis.

Kemarin (17/6), bertempat di Graha Wisata, Kuningan, Jakarta, Pengurus KAMMI 2008-2011 dilengserkan melalui Muktamar Luar Biasa (MLB). Melalui MLB, pengurus teras KAMMI resmi tergusur. Diantara yang dilengserkan itu adalah Ketua Majelis Permusyawaratan Pusat (MPP) Taufik Amarullah, Ketua KAMMI Pusat Rahman Thoha dan Sekjen KAMMI Pusat Fikri Aziz. Diduga, Tifatul Sembiring dan Ketua Pembina Wilayah PKS se-Indonesia, Martri Agung, berada di balik MLB itu. Pasalnya, Tifatul dianggap tersinggung karena demo KAMMI dibawah kordinasi Rahman Thoha yang menolak cawapres Boediono yang diusung PKS. [yan]

Sumber: http://www.rakyatmerdeka.co.id/news/2009/06/18/76524/KAMMI,-PKS,-dan-Cawapres-Boediono

Tifatul Sembiring Diduga di Balik Munaslub KAMMI

Jakarta, RMOL. Proses Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) yang berjalan sangat cepat diduga berada dalam bayang-bayang politik kepentingan menghadapi Pilpres 2009 .

Demikian dikatakan Ketua Majelis Permusyawaratan Pusat (MPP) KAMMI, Taufik Amarullah, kepada Rakyat Merdeka Online (18/6). Taufik mengatakan bahwa proses Munaslub yang diadakan di Graha Wisata Kuningan, Jakarta, Kemarin (17/6) telah menjadikan dirinya sebagai korban politik.

“Saya baru sadar bahwa ada intervensi politik dari beberapa petinggi PKS secara individu dalam proses Munaslub ini. Saya menduga hal ini karena ketersinggungan Pak Tifatul Sembiring karena KAMMI melakukan aksi menolak cawapres Boediono yang dilakukan tanggal 12 Mei lalu di depan KPU,” kata Taufik.

Taufik mengkonfirmasi bahwa kalau Munaslub ini diadakan MPP murni pasti prosesnya tidak akan secepat ini. [yan]

Sumber: http://www.rakyatmerdeka.co.id/news/2009/06/18/76511/Tifatul-Sembiring-Diduga-di-Balik-Munaslub-KAMMI

Pembina Wilayah PKS, Tangan Tifatul untuk Dongkel KAMMI

Jakarta, RMOL. Diduga mendongkel Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) melalui Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub), tangan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Tifatul Sembiring tetap bersih.

Sebelumnya, Ketua Majelis Permusyawaratan Pusat (MPP) KAMMI, Taufik Amarullah menduga Munaslub yang berjalan cepat ini, disebabkan ketersinggungan Pak Tifatul Sembiring karena KAMMI melakukan aksi menolak cawapres Boediono yang dilakukan tanggal 12 Mei lalu di depan KPU. Cawapres Boediono adalah cawapres yang didukung PKS mendampingi SBY dalam pilpres 2009.

“Namun Pak Tifatul tidak langsung. Saya menduga yang mengeksekusi di lapangan adalah Martri Agung, Ketua Pembina Wilayah PKS se-Indonesia. Beliaulah, saya duga, yang mengkoordinir pimpinan daerah KAMMI untuk Munaslub ini,” kata Taufik kepada Rakyat Merdeka Online (Kamis, 18/6).

Melalui Munaslub KAMMI di Graha wisata Kuningan, Jakarta, kemarin (17/6), pengurus teras KAMMI resmi tergusur. Diantara yang dilengserkan itu adalah Ketua Majelis Permusyawaratan Pusat (MPP) Taufik Amarullah, Ketua KAMMI Pusat Rahman Thoha dan Sekjen KAMMI Pusat Fikri Aziz. [yan]

Sumber: http://www.rakyatmerdeka.co.id/news/2009/06/18/76519/Pembina-Wilayah-PKS,-Tangan-Tifatul-untuk-Dongkel-KAMMI

Nasib Naas KAMMI yang Anti-Neolib!

Oleh drusle – 18 Juni 2009 – Dibaca 801 Kali –

Bagi yang mengikuti peta pergerakan kemahasiswaan di era reformasi pasti mengenal atau minimal pernah mendengar KAMMI, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia. Salah satu pilar pergerakan kemahasiswaan era reformasi ini dikenal sebagai salah satu komunitas yang konsisten berdemonstrasi memperjuangkan ideologi Islamnya dengan ciri khas demo santun dan lautan jilbab nya.

KAMMI dan PKS

Semua juga mahfum adanya, ketika kristalisasi gerakan reformasi bergerak membentuk kuadran-kuadran politik pasca kejatuhan Soeharto, KAMMI mendekat ke parpol yang ideologinya kongruen – sejalan sebangun. Dan partai yang paling kongruen dengan misi politik mereka adalah PK yang kemudian bermetamorfosis menjadi PKS, sebuah parpol Islam yang konstituennya sangat beririsan dengan KAMMI, yang lahir dari rahim pendidikan tarbiyah atau dakwah kampus.

Hingga kemudian, KAMMI dan PKS sulit dipisahkan dari stereotyp bahwa keduanya ibarat satu keluarga. KAMMI adalah pemasok utama aktifis PKS, dan PKS adalah laboratoritum atau keran politik formal aktivis KAMMI. Sebagai misal, salah satu penggagas dan ketua KAMMI di awal berdirinya, Fakhri Hamzah kini duduk di kursi teras pengurus pusat PKS.

KAMMI Anti-Neolib

Namun demikian, KAMMI sebagai gerakan mahasiswa berbasis kampus, tetap berusaha independen dalam bersikap dan mengusung ide-ide yang islami dan keindonesiaan. Independensi KAMMI dari magnitude keberpihakan politik PKS terlihat jelas ketika di pertengahan Mei 2009, KAMMI bersikap tegas menolak kandidat capres-cawapres yang ditengarai berpaham Neolib. Dalam situs resminya, KAMMI mengeluarkan pernyataan sikap bertajuk: TOLAK CAPRES-CAWAPRES REZIM NEO-LIBERAL YANG TIDAK PRO RAKYAT.

Padahal, di saat yang sama bandul politik PKS mengarah ke pasangan SBY-Boediono, meski sebelumnya PKS gerah karena sangkaan busana neolib melekat kuat pada sosok cawapres Boediono. KAMMI tetap keukeuh mengusung ideologi anti-neolib, sedang PKS kemudian berdamai dengan menerima SBY-Boediono.

KAMMI sevisi dengan Mega-Prabowo?

Untuk menegaskan keberpihakannya pada rezim anti-neoliberalisme, Ketua Umum Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia, Rahman Toha, hadir dalam deklarasi Capres yang terkenal pro-Rakyat Mega-Prabowo di Hotel Bumi Wiyata, Depok, Jawa Barat, 10 Juni 2009. Amang, demikian ia bisa dipanggil, bahkan menyampaikan orasi politik di acara itu.

“Sampai kapanpun kami akan menolak neoliberal. Jika pemerintahan mendatang dipegang orang neolib, kami akan berada di garda depan untuk menentang,” ujar Rahman dalam pidatonya yang disimak langsung Prabowo Subianto, Rabu 10 Juni 2009. “Kami di sini bukan dalam rangka dukung-mendukung, tapi kita semua yang ada di sini satu visi, satu misi,” ujar Rahman melanjutkan pidatonya. Prabowo pun tersenyum mendengarnya

Semenjak itu, hubungan KAMMI dan PKS lantas berjarak makin menjauh. Tidak lagi sehangat anak dan bapaknya, karena issue-issue politik yang rupanya berbeda haluan. Badai issue kemudian menerpa para pimpinan KAMMI, yang diantaranya adalah mereka didakwa merapat ke kutub politik yang lain selain SBY-Boediono. Sebagaimana kemudian tersiar dalam satu berita di Vivanews: “KAMMI Sevisi dengan Mega-Prabowo.”

Nasib Naas Pengurus KAMMI: DIPECAT!

Kesenjangan jarak yang makin menjauh itu bisa diduga arah akhirnya. Umur kepengurusan KAMMI dibawah pimpinan Rahman Toha, atau lebih akrab dipanggil Amang rupanya dibayangi Malaikat Maut yang dikirim para senior yang berafiliasi di Partai induknya. Dalam sebuah Muktamar Luar Biasa yang digelar kemarin, 17 Juni 2009, di Wisma Pemuda, Kuningan, Jakarta, Rahman Toha resmi DIPECAT!.

Mudah ditaksir, KAMMI di beberapa hari mendatang akan berubah arah kemudi. Tidak lagi gesit mendengungkan lagu Anti-Neolib dan Pro-Rakyat! Mungkin malah akan riuh dengan slogan: Lanjutkan! sambil tersenyum miris.

Sumber: http://public.kompasiana.com/2009/06/18/nasib-naas-kammi-yang-anti-neolib/


Kategori:News
  1. muhammad fuad
    Juni 30, 2009 pukul 8:01 am

    Allah dapat melihat ke dalam hati kita masing-masing.
    mana yang berjuang dengan ikhlas dan mana yang hanya setengah hati..
    hidup tarbiyah..ganyang PKS

    • Juli 6, 2009 pukul 2:28 am

      iya ganyang…..boikot pks. mari kita konsisten dengan independnsi kita dan dakwah islam. luruskan niat kita..

  2. Juni 30, 2009 pukul 12:19 pm

    Allah SWT menilai perjuangan kaum muslimin berdasarkan niat dan bentuk perbuatannya. Maka berbuatlah hanya untuk Allah dan RasulNYA.

    Perjuangan hanya untuk Islam dan hanya untuk Islam. Bukan yang lain. Dukunglah partai yang mau memperjuangkan Syariah dan untuk Kemajuan Islam.

    bukan malah mendukung partai yang jelas-jelas mengatakan bahwa Syariah sudah tidak relevan lagi.

    Mari dukung Partai yang memperjuangkan Syariah Allah…

    • Juli 6, 2009 pukul 2:31 am

      saya kira partai besar islam yang masi konsisten dengan syariat islam ada di PBB. yuk ke PBB yuk kan ada kang ngablin siap didepan suarakan islam sama2 kita.

      • muhammad fuad
        Juli 11, 2009 pukul 2:53 am

        PBB ga punya taring lagi. untuk melawan sistem tidak mungkin hanya mengandalkan ketokohan seorang ja

  3. Juni 30, 2009 pukul 5:41 pm

    mungkin dah nasib kale yah .. organisasi mahasiswa yg jadi “bamper” parpol, semuanya harus ngikut atasannya…. btw katane mo bikin KAMMI tandingan ???

  4. Juli 1, 2009 pukul 7:29 am

    Siapa yg mw bwt mas?

  5. adedepok
    Juli 1, 2009 pukul 3:58 pm

    kammi tandingan??? aneh jg dengernya… kaya gerakan mahasiswa lain doonk..
    pecah eh buat tandingan..
    bagusnya c qt introspeksi diri aja.. luruskan niat rapatkan barisan..
    ikhlas karena Allah..
    soryy kalo ada yang ga sependapat..

  6. Juli 1, 2009 pukul 4:52 pm

    Otokritik harus dilakukan oleh seluruh elemen gerakan mahasiswa, apakah merdka masih tetap di pijakan independensi mereka atau tidak?

  7. Fajri
    Juli 3, 2009 pukul 3:03 am

    namanya organisasi ya, ada yg dipecat. gitu aja kok repot.

    • Juli 3, 2009 pukul 3:41 am

      Jangan-jangan, Anda juga berpendapat, namanya juga hidup. Ada yang miskin. Tanpa perlu tau mengapa mereka bisa miskin. Gitu aja kok repot.

  8. Juli 3, 2009 pukul 3:49 pm

    ideologi dan arah perjuangan seringkali digadaikan hanya demi kepentingan politik sesaat belaka … demi mendapatkan “jatah kekuasaan” , PKS “memaksa” KAMMI untuk tetap berada di jalur pemenangan SBY-Boediono.

    • Juli 4, 2009 pukul 1:31 am

      semoga tidak benar mas. Karena kalau benar, independensi KAMMI dipertanyakan.

  9. Juli 4, 2009 pukul 12:11 pm

    ralat tuch pak,akh taufik amaralullah tergusur bukan karena menolak neoliberalisme,tapi pas hari itu saat kudeta berdarah, akh taufik termasuk dalam tim kampanye SBY,so dia mengundurkan diri,tapi ana kuatir koq rahasia ini di pulikasi akh??

    antum pengurus kammi bukan??

    • Juli 4, 2009 pukul 1:55 pm

      Saya bukan kader KAMMI. So what?

  10. Juli 5, 2009 pukul 9:04 am

    jadi kronologisnya begitu ya

  11. Juli 6, 2009 pukul 2:35 am

    benar2 bobrok ya itu tifatul cs, kok orang dengan idealisme dan semangat konsistensinya malah di cambuk abis… kepada teman2 KAMMI yang lain yang masi di jalur interpensi pks sadarlh dan bebaskan dirimu dari sifat pragmatis, berjuanlah dengan setulus hati dan dari nurani yang dalam……syukran. ALLLAHU AKBAR.

  12. Juli 6, 2009 pukul 5:14 am

    setiap perjuangan pasti ada rintangan seperti dalam mars kammi.didepan kita masih banyak onak dan duri ini cuma satu dari sekian banyak duri yang siap menghadang kita.akhina fillah mari kembali kebarisan ana ma tmn2 di ntb rindu akan suasana kesolidn seperti dulu .kembali kebarisa .musuh2 da’wah tertawa melihat kondisi kita saat ini.allahu akbar……!

  13. Juli 9, 2009 pukul 7:09 am

    Sekarang adalah momentum yang tepat untuk menggelorakan gerakan anti neoliberalisme = anti neo kolonialisme = anti neo imperialisme.
    Karena sekarang ekonomi negara penjajah (AS dan sekutunya) mulai runtuh dan di Indonesia lagi banyak orang sakit hati karena gagal berkuasa.
    Tidak ada salahnya orang yang gagal berkuasa kita ajak bergabung untuk melawan neoliberalisme dan neokolonialimse.
    Mumpung situasi masih panas dan SBY-Boediono sudah mendapat label pemimpin penganut madzhab neo liberalisme.
    Dulu antifis anti neo liberalisme begitu sulit untuk mem blow up isu neo liberalisme. Sekarang isu itu cukup terbuka menganga untuk terus kita gaungkan dan perjuangkan.
    Saatnya bergerak dengan lebih cepat bukan???
    Bukan saatnya melihat siapa orangnya, yang paling penting adalah apakah dia mau berkontribusi dalam gerakan melawan neo liberalisme.

  14. muhammad fuad
    Juli 11, 2009 pukul 2:59 am

    kudeta tersebut adalah aib bagi KAMMI.
    mudah-mudahan aib2 yang lain tidak “terbongkar”

  15. Juli 11, 2009 pukul 7:11 pm

    lah ko aib sech??

    aib itu perbuatan yang memalukan keluarga,diri sendiri

    itu bukan terbongkar akh,kebetulan mungkin akh ressay masuk milist kammi,tidak ad yang perlu disembunyi2kan koq,masalah yang membuat artikel ini bukan orang yang punya kapasitasnya,kan ad proseses tabayun dll….

    bukannkah kita bersaudara ( masih islam kan )

  16. Juli 11, 2009 pukul 7:15 pm

    Sayang Rahman Thoha langsung ditelikung tanpa tabayyun. Aneh…

  17. Juli 17, 2009 pukul 2:45 am

    apa yang terjadi mahasiswa, katanya intelektual, ingat kawan tugas kita masih banyak, jangan terlalu sibuk mengurusi rumah tangga orang lain, coba anda lihat lingkungan sekitar anda jangan2 lebih dari apa yang anda ekspos, dan siapa tahu anda sedang mencari kambing hitam.ahirnya saya cuma bisa berpesan ” lihat lah sekitarmu sebelum kau mengomentari orang lain”.

  18. Juli 17, 2009 pukul 4:57 pm

    Berhentilah berasumsi dan berkomentarlah sesuai dengan topik.

  19. Juli 18, 2009 pukul 11:53 am

    Hemm.. Jadi lg ada gejolak di kawan2 KAMMI, menurut saya lebih baik pihan yg bersangkutan (Ex Ketum KAMMI & PKS cs) memberikan statement yg jelas. Bukan apa apa.. Kasihan kader KAMMI ditingkat grass root yg tidak tau apa-apa.

  20. nhedu
    Oktober 14, 2009 pukul 7:11 am

    terus berjuang……

  21. Desember 9, 2010 pukul 2:38 am

    haa.. haa.. seorang mujahid tidak akan gentar sedikitpun atas cobaan yang menghadang seberat apapun. Selagi Qur’an dan Sunnah tetap ada ditangan, tiada perlu rasa takut dan bersedih hati. Akhii fillah…, da’wah tidak hanya bisa dengan lewat KAMMI, lihatlah lahan yang luas masih terbentang luas…!! Jadikan barisan jihad ini tidak semakin keruh!! kokohkan ukhuwah.. gandakan kesabaran…!! selamat untuk akhii amang.., bersyukurlah..amanah berat antum telah berkurang!! bukankah ini adalah bukti cinta & tarbiyah dari Alloh!! Semangat selalu akhii… dan TETAPLAH DALAM BARISAN MUJAHID JIHAD!! (dari saudaramu, pengurus KAMMI UGM thn 2000/2001 teman sekontrakan antum di Ibnu Sabil bait)

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: