al_quran1

Tulisan ini masih menyambung tulisan yang terdahulu mengenai ilham dan wahyu yang nampaknya masih memberikan efek sampai saat ini kepada orang-orang yang sudah kadung taqlid dengan penerjemahan Al-Qur’an versi DEPAG RI. Sampai-sampai ada seorang blogger yang tidak kesampaian untuk membantah apa yang jadi pendapat saya, sehingga merasa perlu untuk mendiskreditkan saya dengan mengubah-ubah foto wajah saya menjadi wajah keledai. Mungkin pengubahan wajah tersebut sebetulnya adalah representasi dari sifat keledai yang ada di dalam diri blogger tersebut.

Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada beliau, izinkan saya untuk menuliskan apa yang menjadi pendapat saya pada sesi diskusi dengan beliau ini.

Pada tulisan sebelum ini, saya menyampaikan kritikan atas penerjemahan Al-Qur’an versi DEPAG RI atas surat Asy-Syura ayat 52, surat Al-Maidah ayat 111, dan surat Asy-Syams ayat 8. Sebelum Anda menuntaskan membaca tulisan ini, silakan Anda baca kembali tulisan terdahulu tersebut.

Ok, jika sudah, berikut ini saya akan melanjutkan tulisan tersebut.

Persoalannya, apakah mungkin wahyu itu turun kepada selain Nabi?

Sebelum itu, saya ingin mengkritisi kembali penerjemahan Al-Qur’an versi DEPAG.

Mari kita buka lagi Al-Qur’an kita dan cari surat asy-syura ayat 52.

Dalam surat asy-syura ayat 52 Allah berfirman:

وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنْ أَسْرِ بِعِبَادِي إِنَّكُم مُّتَّبَعُونَ

artinya: Dan Kami wahyukan (perintahkan) kepada Musa: “Pergilah di malam hari dengan membawa hamba-hamba-Ku (Bani Israil), karena sesungguhnya kamu sekalian akan disusuli”.

Pada ayat diatas, ada kata yang saya cetak tebal dan saya garis bawahi. Ini menandakan bahwa saya ingin mengajak Anda untuk memfokuskan diri pada satu kata tersebut. Itulah yang akan jadi obyek pengkritisan saya.

Jika sudah, mari kita buka ayat lain.

Dalam surat Al-Qashash ayat 7, Allah berfirman:

وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلَا تَخَافِي وَلَا تَحْزَنِي إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ

artinya: Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa; “Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.

Silakan Anda cermati kedua ayat yang saya kutipkan diatas dengan tetap memfokuskan pada kata yang saya cetak tebal dan saya garis bawahi.

Pada kedua ayat tersebut, terdapat kata “auhaina” yang sebetulnya berasal dari kata dasar Wa-Ha-Ya yang berarti wahyu. Baik Surat Asy-Syura ayat 52 dan surat Al-Qashash ayat 7, sama-sama menggunakan kata “auhaina”. Tetapi mari kita lihat dengan cermat terjemahannya.

Pada surat Asy-Syura ayat 52, kata “auhaina” diterjemahkan menjadi wahyu. Tetapi anehnya pada surat Al-Qashash ayat 7, kata “auhaina” diterjemahkan menjadi ilham.

Ini aneh menurutku. Seharusnya kata “auhaina” dalam surat Al-Qashash ayat 7 ini diterjemahkan sama dengan kata “auhaina” dalam surat Asy-Syura ayat 52, yaitu wahyu. Mengapa?

Mari kita bersilogisme:

Pada surat Al-Qashash terdapat kata “auhaina”.

Kata “auhaina” diterjemahkan dalam surat asy-syura ayat 52 menjadi wahyu.

Maka, kata “auhaina” dalam surat Al-Qashash diterjemahkan menjadi wahyu.

Jadi, menurut pendapat saya, penerjemahan yang dilakukan oleh tim DEPAG RI, ternyata salah.

Lalu kita kembali pada persoalan yang hendak kita tuntaskan.

Apakah mungkin wahyu itu turun kepada selain Nabi?

Pertanyaan ini saya munculkan setelah berdiskusi dengan salah seorang blogger yang sampai saat ini masih kelimpungan bagaimana harus membantah argumen saya. Sehingga untuk menyelamatkan rasa malunya, ia berusaha membuat beberapa tulisan untuk mendiskreditkan pribadi saya. Apa yang ia komentari bukan lagi pendapat saya yang senantiasa menggunakan Al-Qur’an, tetapi yang ia komentari adalah foto saya yang wajahnya ia rubah menjadi keledai. Mungkin ia menginginkan saya berwajah sama dengan wajah asli dia, yaitu keledai. Simbol dari kedunguan.

Bagaimana kita menjawab pertanyaan tersebut?

Cara menemukan jawabannya tentu dari Al-Qur’an, khan kita muslim.

Semoga kita tidak bosan untuk terus mempelajari kitab suci kita, yaitu Al-Qur’an.

Saya menemukan beberapa ayat yang menurut saya dapat menjawab pertanyaan diatas.

Allah mewahyukan kepada LEBAH:

وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتاً وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ

Artinya: Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”, (QS. An-Nahl 16:68)

Allah mewahyukan kepada para malaikat:

إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلآئِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُواْ الَّذِينَ آمَنُواْ سَأُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُواْ الرَّعْبَ فَاضْرِبُواْ فَوْقَ الأَعْنَاقِ وَاضْرِبُواْ مِنْهُمْ كُلَّ بَنَانٍ

Artinya: (Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat : “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman”. Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka. (QS. Al-Anfaal 8:12)


Allah mewahyukan kepada langit:

فَقَضَاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ فِي يَوْمَيْنِ وَأَوْحَى فِي كُلِّ سَمَاء أَمْرَهَا وَزَيَّنَّا السَّمَاء الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَحِفْظاً ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

Artinya: Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. (QS. Fush Shilat 41:12)

Jadi, menurut saya, wahyu bisa diturunkan juga kepada selain Nabi. Sekali lagi, menurut saya. Adalah hak Anda untuk tidak mempercayai apa yang jadi pendapat saya. Saya tidak pernah mengklaim apa yang jadi pendapat saya merupakan representasi dari Islam yang sesungguhnya menurut Allah. Ini hanya persoalan penafsiran saya atas Islam.

Jika ada yang tidak setuju, silakan ajukan pendapat. Siapa tahu pendapat Anda jauh lebih kuat sehingga saya bisa sama-sama dengan Anda meyakini sesuatu yang sama.

Berpendapatlah dengan ilmiah, bukan dengan fallacy.