Tulisan ini masih terkait dengan sebuah blog yang dalam beberapa kesempatan pemiliknya berdiskusi dengan saya. Dan isi diskusi kami sebagian sudah saya postingkan dalam blog ini, diantaranya adalah Wahyu dan Ilham dalam Terjemahan dan Wahyu Turun Kepada Selain Nabi?

Dalam sela-sela diskusi kami, ia tampak sekali kehabisan argumen sehingga ia merasa perlu untuk mendiskreditkan saya dengan mengubah wajah dari foto saya. Ada juga gambar-gambar yang ia buat, yang menurut saya tidak pantas dilakukan oleh seorang muslim.

Di tengah-tengah sesi diskusi itu, ada salah seorang pengunjung yang mengkritik ketika saya menuliskan salah satu ayat Al-Qur’an.

Beliau berkata:

Menurut Al Qur’an (QS 16: 98):
“Maka apabila engkau membaca Al Quran maka mintalah perlindungan kepada Allah dari godaan syaithan yang terkutuk “

Jadi tolong setiap menulis 1 ayat AL Quran yang lengkap dibiasakan didahuli dengan ta’awwudz.

Sepintas membaca kritikan tersebut, saya langsung berucap istighfar mohon ampun jika memang ada kesalahan. Tetapi setelah saya cermati lagi, ada hal yang perlu dikritisi balik, menurut saya.

Pada kutipan diatas, saya sengaja memberikan cetak tebal pada dua buah kalimat, yaitu membaca dan menulis. Biasanya sih, itu untuk menunjukkan bahwa dua kalimat tersebut yang merupakan titik fokus pengkritisan kita.

Beliau mengutip surat An-Nahl ayat 98 untuk mendukung kritikan beliau atas saya. Tetapi nampaknya ada perbedaan konteks antara ayat yang ia kutip dengan nasehatnya.

Pada surat An-Nahl ayat 98 diatas, Allah memerintahkan kita untuk membaca ta’awwudz ketika hendak membaca Al-Qur’an. Membaca ta’awwudz maksudnya meminta perlindungan kepada Allah SWT dari godaan syaitan yang terkutuk yaitu dengan mengucapkan kalimat “A’udzubillahi Minasy-syaithanir-rajim (aku berlindung kepada Allah dengan godaan setan yang terkutuk).

Tetapi perintah Allah ini, berbeda dengan nasehat beliau bahwa saya hendaknya menuliskan ta’awwudz dulu sebelum menulis ayat Al-Qur’an.

Sekejap saya langsung sadar bahwa ada ketidaksesuaian antara perintah Allah dengan nasehat beliau. Dan tanpa mengurangi rasa hormat saya terhadap beliau, saya lebih memilih perintah Allah ketimbang nasehat seseorang yang saya tidak tahu menahu tentang pribadinya.