Ternyata diskusi tentang wahyu yang turun kepada selain Nabi pun masih hangat untuk diperbincangkan. Para peserta diskusi ada yang memang berargumen dengan ilmiah walaupun terkadang kurang tepat dalam memahami dasar argumen mereka, tetapi tidak jarang juga ada diantara peserta diskusi yang senang sekali berkomentar kasar dan bahkan jorok.

Untuk orang-orang jahil seperti itu, saya hanya bisa mengucapkan “SALAM”.

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْناً وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَاماً

(QS. Al-Furqan ayat 63)

Beberapa orang yang berargumen dengan ilmiah, ada diantaranya yang mencoba membantah argumen saya dengan sesuatu yang sepintas terlihat ilmiah, tetapi jika kita jeli, ada hal yang aneh disana.

Sebelum membantah argumen saya dengan berbagai macam “teori”nya, dia terlebih dahulu mengatakan bahwa saya tidak menghormati pendapat dan keyakinan orang lain.

Sepanjang yang saya ketahui, saya senantiasa menghormati pendapat dan keyakinan orang. Selama orang itu bisa mempertanggungjawabkan pendapat dan keyakinannya, saya hargai itu. Namun sayang ada saja orang-orang memiliki pendapat dan keyakinan, tetapi mereka tidak mampu mempertanggungjawabkannya dengan ilmiah. Bahkan tidak jarang ketika mereka menyampaikan pendapat, disisipkan sedikit kalimat paksaan dan ancaman yang menjijikan.

Perbincangan mengenai kemungkinan wahyu turun kepada selain Nabi, sebetulnya tidak perlu kita sikapi dengan bersusah payah mengeluarkan banyak teori dan prinsip hanya untuk mencoba mencari penbenaran atas pendapat dan keyakinan kita.

Persoalan ini adalah persoalan yang simple, hanya tinggal dibutuhkan ketundukan terhadap kebenaran dan konsisten terhadap pernyataan awal.

Sebelum saya memperluas kembali argumen saya, saya ingin menyampaikan terlebih dahulu bahwa ternyata masih saja ada orang yang menilai bahwa apa yang saya sampaikan ini berdasarkan ra’yu saya sendiri. Dia mengatakan bahwa saya menafsirkan Al-Qur’an dengan pikiran saya sendiri.

Nanti akan saya buktikan, betulkah tuduhan dia itu ataukah itu hanya bualan kosong dari seseorang yang dari dulu tidak pernah mampu berargumen dengan ilmiah?

Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِن بَعْدِهِ وَأَوْحَيْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأَسْبَاطِ وَعِيسَى وَأَيُّوبَ وَيُونُسَ وَهَارُونَ وَسُلَيْمَانَ وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُوراً

Artinya: Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, ‘Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud. (QS. An-Nisaa’ ayat 163)

Jadi dalam ayat diatas, bahwa kata “Auhaina َّا أَوْحَيْنَا itu berarti “Kami Wahyukan atau Kami telah memberikan wahyu”.

Konsekuensi logisnya sebagai sebuah bentuk konsistensi, maka jika ada ayat lain yang menggunakan kata “auhaina”, maka sudah seharusnya kata tersebut diterjemahkan sama dengan kata “auhaina” dalam surat An-Nisa ayat 163 diatas.

Mari kita simak surat Al-Qashash ayat 7. Disana Allah berfirman:

وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلَا تَخَافِي وَلَا تَحْزَنِي إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِين

Artinya: artinya: Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa; “Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.َ (QS. Al-Qashash ayat 7)

Mari kita simak ayat yang kedua (QS.  Al-Qashash ayat 7). Ternyata ada juga kata “auhaina” pada ayat tersebut.

Seperti yang saya katakan diatas, bahwa untuk menunjukkan bahwa terdapat konsistensi dalam Al-Qur’an, maka sudah sepantasnya jika kata “auhaina” dalam surat Al-Qashash ayat 7 tersebut diterjemahkan sama dengan kata “auhaina” dalam surat An-Nisaa’ ayat 163, yaitu “Kami wahyukan atau Kami telah memberikan wahyu”.

Saya hanya ingin para pembaca untuk bersikap obyektif dalam mengomentari pendapat saya diatas. Jangan hanya karena Anda tidak suka dengan saya, kemudian Anda begitu tendensius dalam mengomentar pendapat saya.

Apa yang saya lakukan diatas adalah menafsirkan ayat Al-Qur’an dengan ayat lain. Tidak ada itu penafsiran berdasarkan ra’yu dalam tulisan saya ini. Jika memang ada, silakan tunjukkan dimana letaknya. Saya juga terkadang harus melakukan otokritik.

Berbicara mengenai kebenaran, ada 3 teori yang menyimpulkan definisi dari kebenaran, yaitu teori koherensi atau konsistensi, teori korespondensi, dan teori pragmatis.

Mengenai teori koherensi atau konsistensi (The Consistence/Coherence Theory of Truth), ada dua hal yang patut dicermati, yaitu:

  1. Kebenaran ialah kesesuaian antara suatu pernyataan dengan pernyataan-pernyataan lainnya yang sudah lebih dahulu diketahui, diterima dan diakui sebagai benar.
  2. Suatu putusan dianggap benar apabila mendapat penyaksian (pembenaran) oleh putusan-putusan lainnya yang terdahulu yang sudah diketahui,diterima dan diakui benarnya.

Contoh:

“Semua manusia akan mati. Si Fulan adalah seorang manusia. Si Fulan pasti akan mati.” “

Teori ini dianut oleh mazhab idealisme. Penggagas teori ini adalah Plato (427-347 S.M.) dan Aristoteles (384-322 S.M.), selanjutnya dikembangkan oleh Hegel dan F.H. Bradley (1864-1924).

Mari kita coba menggunakan teori ini dalam menganalisa persoalan kita di atas:

Kata “auhaina” diterjemahkan dalam surat An-Nisa ayat 163 menjadi wahyu.

Pada surat Al-Qashash terdapat kata “auhaina”.

Maka, kata “auhaina” dalam surat Al-Qashash diterjemahkan menjadi wahyu.

Jadi jika pada surat An-Nisa ayat 163 itu kata “auhaina” diterjemahkan menjadi “wahyu” dan pada surat Al-Qashash ayat 7 kata “auhaina” diterjemahkan menjadi ilham atau tidak diterjemahkan sama dengan surat an-nisa ayat 163 yaitu wahyu, maka itu bukanlah kebenaran.