Beranda > Tanggapan, Tulisanku > Konsistensi Terhadap Penerjemahan Kata “Auhaina”

Konsistensi Terhadap Penerjemahan Kata “Auhaina”

Ternyata diskusi tentang wahyu yang turun kepada selain Nabi pun masih hangat untuk diperbincangkan. Para peserta diskusi ada yang memang berargumen dengan ilmiah walaupun terkadang kurang tepat dalam memahami dasar argumen mereka, tetapi tidak jarang juga ada diantara peserta diskusi yang senang sekali berkomentar kasar dan bahkan jorok.

Untuk orang-orang jahil seperti itu, saya hanya bisa mengucapkan “SALAM”.

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْناً وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَاماً

(QS. Al-Furqan ayat 63)

Beberapa orang yang berargumen dengan ilmiah, ada diantaranya yang mencoba membantah argumen saya dengan sesuatu yang sepintas terlihat ilmiah, tetapi jika kita jeli, ada hal yang aneh disana.

Sebelum membantah argumen saya dengan berbagai macam “teori”nya, dia terlebih dahulu mengatakan bahwa saya tidak menghormati pendapat dan keyakinan orang lain.

Sepanjang yang saya ketahui, saya senantiasa menghormati pendapat dan keyakinan orang. Selama orang itu bisa mempertanggungjawabkan pendapat dan keyakinannya, saya hargai itu. Namun sayang ada saja orang-orang memiliki pendapat dan keyakinan, tetapi mereka tidak mampu mempertanggungjawabkannya dengan ilmiah. Bahkan tidak jarang ketika mereka menyampaikan pendapat, disisipkan sedikit kalimat paksaan dan ancaman yang menjijikan.

Perbincangan mengenai kemungkinan wahyu turun kepada selain Nabi, sebetulnya tidak perlu kita sikapi dengan bersusah payah mengeluarkan banyak teori dan prinsip hanya untuk mencoba mencari penbenaran atas pendapat dan keyakinan kita.

Persoalan ini adalah persoalan yang simple, hanya tinggal dibutuhkan ketundukan terhadap kebenaran dan konsisten terhadap pernyataan awal.

Sebelum saya memperluas kembali argumen saya, saya ingin menyampaikan terlebih dahulu bahwa ternyata masih saja ada orang yang menilai bahwa apa yang saya sampaikan ini berdasarkan ra’yu saya sendiri. Dia mengatakan bahwa saya menafsirkan Al-Qur’an dengan pikiran saya sendiri.

Nanti akan saya buktikan, betulkah tuduhan dia itu ataukah itu hanya bualan kosong dari seseorang yang dari dulu tidak pernah mampu berargumen dengan ilmiah?

Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِن بَعْدِهِ وَأَوْحَيْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأَسْبَاطِ وَعِيسَى وَأَيُّوبَ وَيُونُسَ وَهَارُونَ وَسُلَيْمَانَ وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُوراً

Artinya: Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, ‘Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud. (QS. An-Nisaa’ ayat 163)

Jadi dalam ayat diatas, bahwa kata “Auhaina َّا أَوْحَيْنَا itu berarti “Kami Wahyukan atau Kami telah memberikan wahyu”.

Konsekuensi logisnya sebagai sebuah bentuk konsistensi, maka jika ada ayat lain yang menggunakan kata “auhaina”, maka sudah seharusnya kata tersebut diterjemahkan sama dengan kata “auhaina” dalam surat An-Nisa ayat 163 diatas.

Mari kita simak surat Al-Qashash ayat 7. Disana Allah berfirman:

وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلَا تَخَافِي وَلَا تَحْزَنِي إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِين

Artinya: artinya: Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa; “Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.َ (QS. Al-Qashash ayat 7)

Mari kita simak ayat yang kedua (QS.  Al-Qashash ayat 7). Ternyata ada juga kata “auhaina” pada ayat tersebut.

Seperti yang saya katakan diatas, bahwa untuk menunjukkan bahwa terdapat konsistensi dalam Al-Qur’an, maka sudah sepantasnya jika kata “auhaina” dalam surat Al-Qashash ayat 7 tersebut diterjemahkan sama dengan kata “auhaina” dalam surat An-Nisaa’ ayat 163, yaitu “Kami wahyukan atau Kami telah memberikan wahyu”.

Saya hanya ingin para pembaca untuk bersikap obyektif dalam mengomentari pendapat saya diatas. Jangan hanya karena Anda tidak suka dengan saya, kemudian Anda begitu tendensius dalam mengomentar pendapat saya.

Apa yang saya lakukan diatas adalah menafsirkan ayat Al-Qur’an dengan ayat lain. Tidak ada itu penafsiran berdasarkan ra’yu dalam tulisan saya ini. Jika memang ada, silakan tunjukkan dimana letaknya. Saya juga terkadang harus melakukan otokritik.

Berbicara mengenai kebenaran, ada 3 teori yang menyimpulkan definisi dari kebenaran, yaitu teori koherensi atau konsistensi, teori korespondensi, dan teori pragmatis.

Mengenai teori koherensi atau konsistensi (The Consistence/Coherence Theory of Truth), ada dua hal yang patut dicermati, yaitu:

  1. Kebenaran ialah kesesuaian antara suatu pernyataan dengan pernyataan-pernyataan lainnya yang sudah lebih dahulu diketahui, diterima dan diakui sebagai benar.
  2. Suatu putusan dianggap benar apabila mendapat penyaksian (pembenaran) oleh putusan-putusan lainnya yang terdahulu yang sudah diketahui,diterima dan diakui benarnya.

Contoh:

“Semua manusia akan mati. Si Fulan adalah seorang manusia. Si Fulan pasti akan mati.” “

Teori ini dianut oleh mazhab idealisme. Penggagas teori ini adalah Plato (427-347 S.M.) dan Aristoteles (384-322 S.M.), selanjutnya dikembangkan oleh Hegel dan F.H. Bradley (1864-1924).

Mari kita coba menggunakan teori ini dalam menganalisa persoalan kita di atas:

Kata “auhaina” diterjemahkan dalam surat An-Nisa ayat 163 menjadi wahyu.

Pada surat Al-Qashash terdapat kata “auhaina”.

Maka, kata “auhaina” dalam surat Al-Qashash diterjemahkan menjadi wahyu.

Jadi jika pada surat An-Nisa ayat 163 itu kata “auhaina” diterjemahkan menjadi “wahyu” dan pada surat Al-Qashash ayat 7 kata “auhaina” diterjemahkan menjadi ilham atau tidak diterjemahkan sama dengan surat an-nisa ayat 163 yaitu wahyu, maka itu bukanlah kebenaran.

  1. fuad
    Oktober 5, 2009 pukul 7:48 am

    @UTK MAS YASSER

    klo sdh bicara ranah makna dlm alquran akan lebih tepat kalo kita merujuk dari para mufassirin yg kapabel bagaimana dia memaknai ayat tersebut, ok

    • Oktober 5, 2009 pukul 8:35 am

      Padahal diantara para mufassir sendiri terkadang juga terdapat perbedaan pendapat.

  2. Lasmasru
    Oktober 10, 2009 pukul 11:25 pm

    Utk Ressay :

    Bahasa bukan ilmu pasti. Suatu kata tak mutlak mempunyai makna selalu sama persis dalam masing2 ayat/ kalimat.

    Anda dan bung 2thP hanya gembar gembornya saja berpegang pada Tsqalain, berpegang pada Al Quran dan Itrah Al Bait, tapi kenyataannya berpegang pada Al Quran dan Analisa/pikiran anda sendiri(Royi), tanpa lebih dahulu memperhatikan persepsi Ahl Bait/Ali bin Abi Thalib terhadap setiap ayat dalam Al Quran.
    Itulah propaganda Mazhab Ahl Bait, ternyata hanya berpegang pada royi. Seribu orang seperti anda maka akan ada seribu analisa., seribu pendapat dsb. Mau dibawa kemana Islam ini.
    Ingat ! ROYI adalah awal penyimpangan agama.

  3. Oktober 11, 2009 pukul 4:46 pm

    Silakan Anda gembar-gembor seperti apapun. Tidak ada artinya di hadapan saya dan SP.

    Lagipula dari dulu Anda tidak mampu berdiskusi dgn ilmiah.

    Bahasa adalah media dalam komunikasi. Jika kita tidak mampu menyepakati makna akan suatu bahasa, maka sudah pasti diskusi qta ndak akan nyambung.

    Ndak perlu Anda bawa2 mazhab ahlulbayt atau mazhab apapun di postingan ini. Karena saya tidak sedang memperbincangkan itu. Jadi bahaslah apa yang jadi topik diskusikan. Bisa kan?

    Saya tidak menafsirkan ayat dgn ra’yu. Tetapi saya menafsirkan ayat dgn ayat.

    Jika kata auhaina dalam surat asy syuara ayat 52 diterjemahkan menjadi kami wahyukan, maka kata auhaina dalam surat al qashash ayat 7 seharusnya diterjemahkan menjadi kami wahyukan juga.

    Kalo auhaina dalam surat al qashash ayat 7 diterjemahkan menjadi kami ilhamkan, maka ini yang dinamakan ra’yu.

    Lagipula dari awal diskusi Anda tidak mampu membuktikan mana letak penafsiran ra’yu yang saya lakukan. Coba brai ditunjukkan. Gak sabar nih.

  4. Lasmasru
    Oktober 12, 2009 pukul 3:14 pm

    Utk Ressay :

    Baiklah saya jelaskan secara singkat persepsi Ali bin Abi Thalib thd yg diajarkan kepada muridnya Ibnu Abbas An Nahl ayat 68 “

    Ayat tsb berhubungan dengan ayat2 66, 67, 69,dimana kita di perintahkan utk berfikir tentang ilmu alam(sekarang biologi) , yaitu tentang kambing, kurma, buah2an dan lebah. Dimana kita dapat mengambil pelajaran tentang mereka.
    Khusus ayat 68 dimana Allah memberitahu (me wahyu kan) kepada lebah tentang cara2 membuat rumah, sehingga lebah tsb dimanapun ia hidup dan bisa membuat rumah. Baik di pohon, gunung, atau ditempat2 lain. Peristiwa di alam tsb sbg pelajaran bagi orang berfikir.

    Arti/makna Allah me wahyu kan disini adalah Allah memberitahu kepada lebah. Ayat di atas tak ada kaitannya dengan ayat ttg Allah memberitahukan (uhaina) kepada ibu nabi Musa. Anda saja dengan pikiran sendiri (royi) utk meng kait2 kan utk meng analisis. Seribu orang spt anda akan ada seribu analisis dan seribu pendapat/Royi, sehingga berpeluang melahirkan seribu pemahaman agama yg bisa menjadi seribu aliran agama Islam. Kasihan…agama Islam.

  5. Oktober 12, 2009 pukul 4:09 pm

    Kebiasaan Anda ya seperti diatas. Sama sekali tidak ilmiah dan tidak dapat dipertanggungjawabkan pendapatnya.

    Silakan tampilkan sistem x kek, y kek, apapun. Silakan tampilkan disini. Asalkan bisa dipertanggungjawabkan.

    Saya tidak yakin itu persepsi Imam Ali, sampai Anda bisa menunjukkan dasarnya.

    Jika tidak bisa Anda tunjukkan, mohon maaf jika saya masih menganggap Anda tidak dapat berdiskusi dgn ilmiah. Dan yang Anda sampaikan hanyalah omong kosong belaka. Bukan begitu?

    Saya tidak menafsirkan dengan ra’yu. Saya menafsirkan dengan ayat Al Qur’an. Sampai sekarang saya belum melihat pemaparan Anda dimana letak ra’yu yang Anda tuduhkan pada saya. Hanya omong kosong Anda itu.

    Jika Anda masih mempostingkan omong kosong diatas tanpa pernah mau mempostingkan sistem x itu, mhn maaf jika saya mengambil kebijakan utk menandai Anda sebagai spammer. Mhn ini jadi perhatian Anda. Bukan kali ini saja Anda tidak berargumen dgn ilmiah, tetapi berulang kali Anda lakukan itu.

  6. Ibingbanjar
    Oktober 21, 2009 pukul 3:03 pm

    Utk Ressay

    Berikan email anda, akan saya uraikan ttg SISYEM X, sistem yg asli di jaman nabi, sahabat, tabiin, dalam menjaga kemurnian KALIMAT ayat/hadis dan PERSEPSI ayat/hadis. Anda sudah sering mendengar sistem ini, namun anda kurang memahami sistem ini sehingga hanya sambil lalu saja.
    Sistem ini hanya ada di JAMAAH X, karena jamaah ini satu2nya di dunia yg masih ,mempertahankan sistem ini. Jamaah X ini amat sedikit pengikutnya, selalu difitnah, dimusuhi/diperangi Suni dan Syiah, sering di zalimi, namun sungguh luar biasa, jamaah ini bisa bertahan bahkan berjaya, tak pernah satu pun tentara non Islam bisa menduduki wilayahnya. Tidak seperti wilayah islam lain yg semuanya pernah diduduki tentara non Islam.

  7. Oktober 22, 2009 pukul 5:06 pm

    Mohon dengan sangat, hormati forum ini. Sedari awal Anda berkoar-koar tentang sistem X di forum ini. Sudah sepantasnya Anda menjelaskan sistem X disini. Anda ingin berdiskusi dengan baikkan? Ok, silakan tunjukkan akhlak Anda dalam berdiskusi. Sudah saatnya Anda tidak lari dari konteks diskusi kita.

    Jika pada komentar selanjutnya Anda tidak menjelaskan sistem X tersebut, mhn maaf jika komentar Anda saya anggap sebagai spam.

    Saya tunggu niat baik Anda dalam berdiskusi.

  8. sectehunter
    Oktober 26, 2009 pukul 3:15 pm

    Terutk Yassser ”

    Saya sedikitpin tak ada rasa ragu akan kebenaran dan ke ampuhan SISTEM X, Saya nggak mau terbula via blog ini hanya karena tak mau konsentrasi buyar jika ada yg lain menyela diskusi kita.

    • Oktober 26, 2009 pukul 4:23 pm

      Banyak alasan. Jika tidak mau menjelaskan sistem X di blog ini yang tentunya bersifat umum, ndak usah mengumbar sistem X yang belum dapat dipastikan kebenarannya itu.

      Jika Anda berani mengumbar di depan umum, Anda harus berani mempertanggungjawabkan apa yang Anda umbar.

      Ini peringatan terakhir, jika Anda bersikeras untuk membungkam diri Anda sendiri, maka mohon maaf saya tidak bisa menampilkan komentar Anda yang memang tidak bermutu itu.

      Dari dulu kok gak berubah.

  9. sectehunter
    Oktober 26, 2009 pukul 9:41 pm

    Entah yg nggak bermutu siapa. Anda kale… pikiran sendiri di paksa2. Bilang saja jika anda tak mampu menampilkan tafsir dari Ahl Bait ttg ayat2 Al Quran.

  10. Oktober 27, 2009 pukul 5:28 pm

    Ndak usah banyak banyolan. Tinggal tunjukkan saja mana itu sistem kacang yang ente maksud, brai?

    Kalo tidak Anda jelaskan, sorry kalo saya anggap ndak bermutu. Monggo…

  11. sectehunter
    Oktober 27, 2009 pukul 7:16 pm

    For Yasser :

    Anda hanya bisa mengucapkan julukan2 jelek thd lawan diskusi, dan tidak bisa menampilkan penjelasan/tafsir Ahl Bait thd ayat2 Al Quran. Baiklah, di blog Wahyu….akan saya tampilkan penjelasan/persepsi Ali Bin Abi Thalib thd ayat Al An’am 112 yg saya catat,

  12. Oktober 28, 2009 pukul 3:40 am

    Hehehehe…hormatilah yang punya blog ini jika Anda ingin dihormati.

    Saya yakin niat Anda berkomentar disini adalah untuk diskusi bukan? Saya sudah menyampaikan pendapat yang kemudian Anda bantah dengan pendapat Anda yang Anda klaim merupakan penjelasan dari Ali (Ali baba mungkin). Tetapi sampai saat ini juga, Anda belum menunjukkan mana itu penjelasan dari Ali. Anda juga bermulut besar mengumbar tentang sistem X disini. Mana itu sistem X? tampilkan disini donk. Janganlah Anda tutup2i. Ndak baik itu.

    Jika Anda tidak juga menjelaskan juga tentang sistem kacang disini, mohon maaf, Anda hanya bermulut besar dan Anda saya anggap sebagai spammer.

    Pertanyaannya, beranikah seorang lamaru itu berdiskusi dengan baik dengan cara menampilkan argumennya disini?

    Saya kira pengecut Anda itu.

    hehehehe…gitu brai..

    Mohon maaf komentar Anda yang lain saya anggap sebagai komentar spammer dan harus diamankan demi berjalannya diskusi dengan baik. Ndak terima? ya silakan…tetapi dari awal diskusi sampai sekarang Anda tidak menunjukkan sikap yang baik dalam berdiskusi.

    1. Anda sampai saat ini tidak menunjukkan apa itu sistem X yang kacangan itu? Mengapa kacangan? Karena Anda belum terlalu pede untuk memaparkan sistem X di forum ini padahal Anda telah bermulut besar mengumbar bahwa Anda berpegang pada sistem X yang ada pada jamaah X. Jangan2 jamaah XXX nih?:mrgreen:

    2. Apa yang Anda sampaikan hanyalah tafsir surat al-Anam. Dan saya tidak melihat tafsir tentang surat2 yang saya singgung dalam tulisan saya. Apalagi Anda mengklaim itu ucapan Imam Ali tanpa pernah mampu (emangnya pernah mampu?) menunjukkan kepada saya dimana saya bisa mengecek apakah betul itu ucapan Imam Ali ataukah hanya ucapan iblis yang ada si jamaah XXX?

    Jadi, berdiskusilah dengan baik kawan. Ajukan argumenmu, jangan malu2. Kalau malu, berarti Anda belum yakin akan kebenaran dari keyakinan Anda. Tetapi itu wajar bagi orang-orang seperti Anda yang memang menafsirkan agama ini berdasarkan ra’yu dan wudhel saja.

  13. GANDUNG
    November 19, 2009 pukul 5:04 am

    kok diskusinya jedar-jedur sih..??
    katanya mahasiswa, tapi alur diskusi gak keruan. ..
    coba deh,
    1. apa keberatannya kalau selain nabi menerima wahyu..?
    2. apakah memang ada di dalam Alquran maupun hadits yang menyatakan bahwa wahyu hanya turun untuk nabi..?? Alqur’an mengkonfirmasi dengan jelas bahwa wahyu juga turun ke selain nabi.
    3. Apakah jika lebah di dalam ayat tersebut tidak bisa diartikan sebagai “di beri wahyu” hanya karena kita “mengira” bahwa terjadi miskomunikasi antara Lebah dengan Tuhan..? sama seperti mis komunikasinya kita dengan lebah..??
    4. Cerita-cerita Maryam didalam Alquran yang berkomunikasi langsung dengan jibril, dimana malaikat tersebut membawa berita-berita dari Tuhan untuk Maryam, menjadi bukti sangat jelas bahwa wahyu juga turun ke selain nabi.
    5. Niatkanlah diskusi untuk mencari kebenaran ya adik-adikku,… bukan untuk mencari pembenaran.
    6. Jangan sekali-kali membawa nama Ali Bin Albi Thalib kw, jika anda tak benar-benar tahu, dengan mengatakan “Persepsi Ali mengenai hal itu begini atau begitu, sedangkan persepsi tersebut justru adalah persepsi anda sendiri, atau persepsi orang lain yang anda klaim sebagai persepsi Ali kw. Karena dengan segera kebohongan anda akan terkuak
    7. Janganlah perbedaan pendapat itu menjadikan kalian berolok-olok dan menjelek-jelekkan mazhab yang lain.

    Salam, semoga Allah memberi petunjukNya kepada kita.

    GANDUNG

    • November 19, 2009 pukul 9:06 am

      Mas gandung, itulah kegelisahan saya selama ini. saudara lamaru alias sectehunter tidak mampu untuk berdiskusi dengan baik. Dia selalu berlindung di balik sistem X dan jamaah X yang sampai sekarang belum terjelaskan.

      Saya pikir, kita patut untuk meragukan kebenaran dari pernyataannya selama ia tidak mampu membuktikan kevalidannya.

  14. Hussain Al-Haddar
    November 22, 2009 pukul 8:36 pm

    begini mas, setahu ana bahasa arab itu multi makna, bisa saja satu kata maknanya banyak atau pun sebaliknya, selama bertahun-tahun ana di arab, banyak sekali yang demikian, kadang suatu kata yang sama digunakan untuk maksud yang berbeda beda, ataupun sebaliknya, kata2nya bermacam-macam tapi maknanya sama, saran saya sih, kalau mau memaknai bahasa arab apalagi al-qur’an, bahasa arabnya minimal harus jayyid jiddan atau lebih bagus lagi mumtaz, kalo jayyid ke bawah mah bahaya apalagi kalo roshib mah hehe….

    • November 23, 2009 pukul 6:14 am

      Terima kasih. Hanya saja, apakah itu tepat untuk konteks pembahasan kita kali ini?

      Karena makna kata ilham, itu sudah terwakili dengan kata fa alhamaha. Sedangkan kata wahyu itu berasal dari kata wa-ha-ya yang kemudian diserap dalam bahasa indonesia menjadi wahyu.

      Jangan-jangan kita menafsirkan Al-Qur’an dengan keyakinan kita sendiri saja.

  15. Desember 1, 2009 pukul 1:20 am

    makna kata wahyu (al-wahyu) berdekatan maknanya kata ilham (al-ilhamu), tetapi tetap ada perbedaan meskipun sangat tipis..yakni kata ilham itu lebih umum, adapun wahyu itu lebih khusus ….wahyu itu adalah sejenis ilham yg diberikan oleh Alloh kepada nabi dan rosul dan tertulis dalam bentuk kitab suci, makanya setelah meninggalnya nabi dan rosul yg terakhir, Muhammad saw, wahyu tidak ada lagi…adapun ilham akan terus ada dan ini diberikan Alloh kepada siapa saja dan apa saja termasuk kepada binatang, para nabi dan rosul dan tidak tertulis dalam suatu kitab….dalam kamus arab-indonesia (prof. mahmud yunus) kata wahyun/al-wahyu (arab) disepadankan maknanya dg kata wahyu, wali, ilham (indonesia)…sehingga kata auha (atau awha), yuhuna, atau yg semisal yg ada di dalam al-qur’an mengandung dua kemungkinan makna yaitu mewahyukan atau mengilhamkan…makna mana yg dipakai tergantung konteks ayat dimana kata itu digunakan misalnya dalam surat 6 ayat 68, ” wa auha rubbuka ilan-nahli…”…kata auha dalam ayat ini tidak bisa dimaknai mewahyukan krn an-nahl (lebah) bukan nabi dan rosul dan dan an-nahl tidak memiliki kitab yg tertulis yg berisi wahyu…sehingga yg tepat kata auha dalam ayat ini dimaknai mengilhamkan …sehingga ayat tersebut dapat diterjemahkan dg ” dan robb-mu/tuhanmu (wahai muhammad saw) telah mengilhamkan kepada lebah…”…misal yg lain surat 6 ayat 121,” wa innasy-syayathina layuhuna ila auliaihim….”…kata yuhuna tidak bisa dimaknai mewahyukan krn wali-wali syaithon bukan nabi atau rosul dan lagi pula yg mewahyukan adalah syaithon…maka makna yg tepat untuk yuhuna dalam ayat ini adalah mengilhamkan, sehingga ayat dapat diterjemahkan, ” dan para syaithon itu mengilhamkan kepada wali-wali mereka….”…
    maka benarlah bahwa wahyu itu terputus setelah wafatnya nabi dan rosul terakhir, muhammad saw,…adapun ilham akan terus ada dan ini bisa dari Alloh atau dari syaithon….kalau ada orang mengaku-aku menerima wahyu dari Alloh setelah wafatnya rosululloh saw pastilah bohong…itu bukan wahyu tapi hanyalah ilham yg bisa berasal dari Alloh atau dari syaithon

  16. Desember 1, 2009 pukul 7:36 am

    Pertanyaan saya simple. Lalu akan Anda terjemahkan seperti apa ayat yang berbunyi: fa alhamaha fujuraha wa taqwaha

  17. Desember 1, 2009 pukul 11:19 am

    simple…fa alhamaha fujuroha wa taqwaha , artinya “maka Dia mengilhamkan kepada nafsu/jiwa itu (jalan) fujur/jahat-nya dan taqwanya “…dalam kamus arab-indonesia (prof. mahmud yunus) kata “alhama” disepadankan maknanya dg kata “mengilhamkan”
    tambahan…. untuk wahyu, Alloh selalu melibatkan malaikat Jibril as, tidk malaikat lain

    • Desember 1, 2009 pukul 11:27 am

      Disinilah letak kesalahan Anda. Anda menafsirkan Al-Qur’an sesuai dengan keyakinan yang Anda yakini.

      Anda meyakini bahwa wahyu itu turun hanya kepada Nabi. Itu berimbas fatal ketika Anda menafsirkan kata wahyu yang ada pada ayat yang turun kepada selain Nabi dengan arti ilham.

      Kalau memang fa alhamaha itu diterjemahkan menjadi ilham, ya konsisten saja lah…

      Jangan kemudian kata wahyu diterjemahkan menjadi ilham. Ngaco itu…

      Jadi, tafsirkanlah Al-Qur’an sesuai apa adanya Al-Qur’an itu. Jangan tafsirkan Al-Qur’an sekehendak keyakinan kita. ngawur…

  18. Desember 1, 2009 pukul 2:07 pm

    saya cuma menjelaskan saja kok…soal diterima atau tidak, terserah anda…kok malah bilang ngaco, ngawur

  19. Desember 1, 2009 pukul 3:30 pm

    tidak fatal juga…kalau kata auha, yuhuna atau yg semisal berkaitan dg yg bukan nabi dan rosul…misalnya lebah, ibu musa, wali-wali syaithon atau kepada nabi sekalipun tapi itu tidak tertulis, maka kata auha, yuhuna atau yg semisal tepatnya dimaknai dg ilham, mengilhamkan….permisi…

    • Desember 1, 2009 pukul 4:50 pm

      Monggo…

      Silakan jika Anda tetap bersikeras menafsirkan Al-Qur’an dengan keyakinan Anda.

      Anda ketka menafsirkan ayat itu, sebetulnya sudah berkeyakinan bahwa yang mendapat wahyu hanya Nabi. Sehingga ketika Anda menafsirkan ayat yang ada kata wahyu dan itu berkenaan dengan selain Nabi, Anda terjemahkan kata wahyu itu menjadi ilham. Padahal kata yang sama pada ayat lain, wahyu artinya ya wahyu.

      Gitu lho…

  20. Desember 2, 2009 pukul 11:00 am

    masih rame juga ternyata…tariik terusss

    • Desember 2, 2009 pukul 11:20 am

      Ya begitulah..

  21. gayatri wedotami
    Agustus 18, 2010 pukul 9:14 pm

    🙂

    • Agustus 19, 2010 pukul 7:23 pm

      eh ada si mbak. hehehe…😀

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: