Mungkin judul diatas terkesan aneh. Tetapi setidaknya itu menggambarkan keanehan berpikir yang aku temui di kampus yang katanya lingkungan ilmiah. Fallacy of dosenisme maksudnya ialah kesalahan-kesalahan berpikir yang dilakukan oleh beberapa dosen.

Tulisan ini bukan hendak menjatuhkan harga diri dan martabat seorang dosen, melainkan hendak mengupas soal kesalahan berpikir yang pernah aku jumpai menjangkiti dosen-dosenku. Harapannya, agar dosen dan mahasiswa bisa menghindari jebakan-jebakan fallacy sehingga kampus yang merupakan cerminan dari lingkungan ilmiah, bisa benar-benar dipertanggungjawabkan keilmiahannya.

Fallacy Diksional

Ketika ujian berlangsung, suatu hal yang umum jika pengawas ujian memerintahkan peserta ujian untuk menutup semua catatan yang mereka miliki dan meletakkan tas mereka di depan. Hal ini dilakukan agar peserta ujian tidak melakukan tindakan curang, yaitu mencontek.

Tetapi ada salah satu dosen yang saat itu menjadi pengawas ujian pernah berfallacy ketika memerintahkan mahasiswanya untuk meletakkan tas mereka di depan kelas. Dosen itu berkata, “Mas/mbak, seperti biasa ketika ujian tasnya ditaruh di muka.”

Spontan aku tertawa kecil saat mendengar perkataan dosen tersebut. Selain alasan lucu, juga karena perkataan tersebut mengandung unsur fallacy, walaupun fallacynya hanya fallacy diksional.

Tentu maksud dari dosen itu bukan memerintahkan mahasiswanya untuk meletakkan tas di wajah mereka masing-masing. Maksud dari perkataan dosen tersebut tentu meminta agar tas mahasiswa diletakkan di depan.

Fallacy diksional ini walaupun sepele, tetapi terkadang bisa menjadi suatu hal yang penting. Dalam komunikasi, diksi yang digunakan akan menentukan keberhasilan komunikasi yaitu tersampaikannya pesan dengan baik dan benar sesuai tujuan dari adanya komunikasi tersebut. Kesalahan penggunaan bahasa bisa berakibat pada kesalahan pemaknaan. Bahasa adalah simbol dari realitas. Terkadang ada kata yang menunjukkan dua realitas yang berbeda.

Seperti misalnya kata “gedang”. Coba saja seseorang yang memerintahkan kepada orang sunda dan orang jawa untuk membawa gedang. Bisa jadi antara orang sunda dan orang jawa akan membawa sesuatu yang saling berbeda karena “gedang” bahasa jawa berarti pisang, tetapi dalam bahasa sunda berarti pepaya.

Fallacy Argumentum ad Hominem

Menjadi sebuah rutinitas, nampaknya, di Fakultas Hukum UNS pada saat Yudisium ialah adanya protes dari sebagian mahasiswa atas nilai yang diberikan oleh dosennya. Beberapa mahasiswa mengeluhkan dan tidak percaya dengan nilai yang diberikan dosen. Menurut mereka, seharusnya nilai studi mereka tidak sekecil apa yang diberikan dosen.

Seperti biasa pula, dosen menanggapi protes mahasiswa itu dengan ungkapan fallacy. Beberapa dosen terkadang berkomentar, “Protes boleh saja, tetapi mengapa protes itu dilakukan ketika mahasiswa mendapatkan nilai kecil? Mengapa mahasiswa tidak protes ketika mereka mendapatkan nilai bagus padahal seharusnya nilai mereka jelek?”

Sayang, dosen yang seharusnya mendidik para calon intelektual harus terjerembab pada kesalahan berpikir (fallacy). Ungkapan yang terlontar dari pembicaraan dosen tersebut merupakan bentuk argumentum ad hominem. Argumentasi yang diajukan tidak tertuju pada persoalan yang sesungguhnya, tetapi terarah kepada pribadi yang menjadi lawan bicara atau dalam bahasa kerennya dikenal dengan istilah Personal Attack.

Substansi persoalannya ialah adanya indikasi bahwa terjadi kesalahan penilaian hasil studi yang dilakukan oleh dosen kepada mahasiswa. Tetapi persoalan itu kemudian ditanggapi oleh dosen dengan cara mengkritik sikap mahasiswa. Tentu tanggapan dosen tersebut tidak sesuai dengan substansi yang sebenarnya. Dan ini merupakan argumentum ad hominem.

Fallacy Argumentum ad Baculum

Berbicara kesalahan penilaian hasil studi ini, percaya atau tidak, realitas di lapangan menunjukkan seperti itu. Ada beberapa dosen yang terkadang salah menilai hasil ujian. Entah karena kesengajaan atau itu hanya kekhilafan dosen saja. Tetapi dari realitas tersebut sebetulnya memberikan pelajaran kepada kita bahwa transparansi nilai tetap diperlukan. Seperti yang aku alami ketika memprotes hasil ujianku. Si dosen awalnya bersikeras bahwa nilai yang diberikannya tidak bermasalah, tetapi setelah aku sampaikan dengan santun bahwa memang ada kesalahan penilaian, akhirnya si dosen pun sadar akan kesalahannya.

Dekan Fakultas Hukum UNS, Moh. Jamin, pernah berkata bahwa dosen itu ibaratnya iblis. Mereka sangat sulit diatur dan diawasi. Perkataan dekan tersebut memang tidak mengenakkan, tetapi realitanya memang seperti itu. Ada dosen yang sok berkuasa, susah dikritik sehingga tidak mau transparan dengan pihak mahasiswa, walaupun memang ada juga dosen-dosen yang baik.

Transparansi nilai sangat penting, hal ini untuk mempermudah pengawasan dari pihak mahasiswa. Dosen juga perlu diawasi, karena mereka bukanlah manusia yang terbebas dari kesalahan. Dosen bukanlah sosok yang bebas dari kritik, karena mereka terkadang khilaf dalam melakukan sesuatu.

Soal tranparansi nilai ini pun tidak luput dari pembahasan soal fallacy. Dan lagi-lagi fallacy ini dilakukan oleh seorang dosen.

Pernah ada seorang mahasiswa yang memprotes nilai dan meminta transparansi nilai. Menanggapi protes tersebut, dosen malah berkata, “Baik, akan saya tunjukkan transparansi nilai Anda. Tetapi jika nilai yang saya berikan ternyata benar dan memang seharusnya Anda mendapatkan nilai itu, maka saya akan mengurangi nilai Anda.”

Tentu dari ungkapan tersebut, mahasiswa akan berpikir beribu-ribu kali untuk memprotes dosen tersebut karena jika ternyata nilai yang diberikan benar, maka bisa jadi nilainya malah akan diturunkan oleh dosen. Ungkapan dosen tersebut merupakan ungkapan yang mengandung unsur fallacy argumentum ad baculum.

Fallacy argumentum ad baculum ialah argumen yag diajukan berupa ancaman dan desakan lawan bicara agar menerima suatu konklusi tertentu, dengan alasan bahwa jika menolak, akan berdampak negatif terhadap dirinya.

Menghindari Fallacy

Bagi setiap orang, apalagi kaum cendekiawan, menghindari melakukan kekekeliruan dalam berpikir ini menjadi suatu keharusan. Sebab dari proses berpikirlah kehidupan, budaya, tradisi, bahkan sebuah peradaban dibangun. Bukankah peradaban yang berakar dan dibangun dari cara berpikir yang salah akan menyengsarakan manusia. Jalaluddin Rakhmat, cendekiawan muslim kenamaan Indonesia itu bahkan menempatkan kekeliruan berpikir sebagai salah satu penghambat pertama dan utama proses rekayasa sosial dalam masyarakat.

Begitu banyak manusia yang terjebak dalam kekeliruan berpikir. Perlu adanya aturan baku yang dapat memandu manusia agar tidak terperosok dalam kekeliruan berpikir yang tentu berakibat buruk terhadap pandangan dunianya. Seseorang yang berpikir tapi tidak mengikuti aturannya, terlihat seperti berpikir benar dan bahkan bisa mempengaruhi orang lain yang juga tidak mengikuti aturan berpikir yang benar. Karena itu, al-Qur’an sering kali mencela bahwa ‘sebagian besar manusia tidak berakal’, tidak berpikir’, dan sejenisnya.[]

Yasser Arafat

Ketua Bidang Pembinaan Anggota HMI Cabang Surakarta