Tulisan yang akan saya tanggapi ini merupakan tulisan yang diposting di website hakekat.com. Website tersebut banyak mengupas soal syiah menurut sudut pandangnya. Sudut pandang yang ditawarkan oleh pemilik website itu tergolong baru. Namun walaupun demikian, hal itu tidak menjamin bahwa apa yang disampaikannya merupakan sebuah kebenaran. Terbukti beberapa kali tulisan-tulisan yang ada disitu dibantah oleh http://satriasyiah.wordpress.com dan http://secondprince.wordpress.com. Kedua blog tersebut memaparkan soal ketidakbenaran dari apa yang disampaikan dalam website hakekat.com tersebut.

Begitu juga dengan tulisan saya ini yang akan mencoba menganalisa kembali apa yang telah disampaikan oleh website hakekat.com yang sebetulnya berbicara soal tragedi kamis kelabu. Dan saya sudah pernah menuliskan persoalan riwayat kamis kelabu tersebut dalam beberapa tulisan, diantaranya:

Saya tidak ingin beretorika terlalu panjang disini. Untuk selanjutnya, tulisan ini akan menyertakan kutipan atas tulisan di website hakekat tersebut dan dibawahnya merupakan tanggapan saya.

Hakekat berkata:

Imam syiah mengikuti ucapan Umar,yang dianggap keliru oleh syiah hari ini. Mana yang benar, para imam syiah -yang maksum-, atau penganut syiah hari ini –yang tidak maksum-?

Saya:

Kita akan lihat, siapa yang benar dan siapa yang ngawur…

Hakekat menulis:

Syiah selalu menggugat Umar bin Khattab karena mengatakan : cukup bagi kita semua kitab Allah.

Saya:

Bukan hanya itu, tetapi juga menggugat sikap umar yang menghalang-halangi atau menolak wasiat Nabi dengan mengatakan, ”Cukup bagi kita semua kitab Allah”.

Hakekat menulis:

Perkataan ini digunakan untuk menghujat Umar dengan membabi buta tanpa berpikir panjang. Kebencian syiah pada Umar begitu menggelora, membuat pemberian Allah yang berupa akal sehat, tidak lagi digunakan.

Saya:

Justru hakekat.com lah yang tidak berpikir panjang dan rasional. Dia terlalu terburu-buru dalam mengambil sebuah kesimpulan dan tidak malu-malu untuk menggunakan asumsi sebagai dasar dari pendapatnya. Padahal Allah telah memberikan akal bagi dirinya untuk berpikir benar.

Mari kita lihat bagaimana hakekat.com berasumsi…

Hakekat menulis:

Dan anehnya lagi, Nabi tidak memprotes ucapan Umar bin Khattab. Ada dua kemungkinan, yang pertama, memang ucapan Umar itu benar, karena itu Nabi tidak menegur Umar dan memberitahu mana yang benar, ketika ada kesalahan yang dilakukan oleh sahabat, Nabi selalu menegur dan menunjukkan pada para sahabat mana yang benar. Tetapi kali ini Nabi diam dan tidak menegur Umar. Ini menjadi bukti persetujuan Nabi terhadap ucapan Umar.

Kemungkinan kedua, ucapan itu keliru, seperti diyakini oleh syiah hari ini. Pertanyaan yang muncul, mengapa Nabi diam saja menyaksikan penyimpangan yang dilakukan Umar?  Mengapa Nabi tidak menegur Umar, akibatnya, ucapan Umar yang keliru itu –seperti keyakinan syiah-, dijadikan pegangan oleh banyak umat Islam. Ketika sesuatu terjadi di hadapan Nabi sedangkan Nabi diam saja tanpa bereaksi, maka itu dianggap sebagai persetujuan dari Nabi, yang memiliki kekuatan hukum dalam syareat. Salah seorang sahabat makan daging “dhabb” di hadapan Nabi. Walaupun tidak ikut makan, Nabi tidak melarang sahabat tadi. Ini menjadi dasar hukum bagi halalnya daging dhabb. Begitu juga saat Nabi diam saja membiarkan Umar, tidak menegurnya, tidak mengoreksi kesalahannya.

Saya:

Persoalan bukan benar atau tidaknya ucapan Umar bin Khattab. Tetapi lebih kepada sikap Umar yang menghalang-halangi atau menolak wasiat Nabi. Apakah sikap seperti itu dapat dibenarkan?

Nabi hendak menyampaikan wasiat agar umat sepeninggal beliau tidak tersesat. Tetapi Umar berkata, “Nabi sedang sakit keras, ditengah-tengah kita ada Kitab Allah. Cukuplah itu sebagai pedoman.”

Dari peristiwa tersebut, sebetulnya ada 2 kehendak yang saling kontradiksi.

  1. Nabi menginginkan adanya penulisan wasiat tersebut
  2. Umar mengatakan cukuplah Kitab Allah, ndak perlu wasiat Nabi.

Pertanyaan yang ingin saya ajukan, “Manakah yang akan kita ikuti, Nabi yang memerintahkan penulisan wasiat ataukah Umar yang mengatakan cukuplah Kitab Allah?”

Kalau saya tentu akan lebih memilih mengikuti Nabi dan meninggalkan Umar.

Mengapa?

Bukankah di Al-Qur’an Allah telah berfirman:

”Demi bintang ketika terbenam, Kawanmu (Muhammad) tidak sesat. dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya, ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS al Najm (53): 1-4).

Bukankah kita diperintahkan untuk taat, sebagaimana perintah Allah:

“Apa yang datang dari Rasul, maka ambilah Dan apa yang dilarangnya, maka tinggalkanlah.” (QS al Hasyr (59):7)

“Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul-Nya.” (QS al Nisa (4):59)

Dari firman-Nya tersebut kita diperintahkan tanpa syarat, baik kondisi Rasul sehat maupun sakit, hal ini diperintahkan pula oleh Allah:

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan sesuatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya ia telah sesat, dalam kesesatan yang nyata.” (QS al Ahzab (33):36).

Apa yang jadi kehendak Rasulullah ternyata berbeda dengan kehendak Umar. Apa yang jadi ketetapan Rasulullah itu ternyata dihalang-halangi oleh ketetapan Umar.

Mari kita buat silogismenya:

Barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya ia telah sesat dalam kesesatan yang nyata. (PREMIS PERTAMA)

Umar menghalang-halangi/mendurhaikai ketetapan Allah dan Rasul-Nya. (PREMIS KEDUA)

Jadi, Umar telah sesat dalam kesesatan yang nyata. (KESIMPULAN)

Hakekat menulis:

Ada dua asumsi kemungkinan, yang pertama, Nabi takut pada Umar, maka ketika Umar berpendapat keliru, bahkan menghalangi Nabi menuliskan wasiatnya,  Nabi hanya diam seribu bahasa. Nabi rela tidak menuliskan wasiat yang kelak menjadi pegangan umat, karena takut pada Umar. Mustahil ini terjadi, karena  tugas Nabi adalah menyampaikan risalah kebenaran, dan Nabi telah melaksanakan tugasnya dengan sempurna. Dengan penuh keberanian, Nabi menentang dan menantang kaum Quraisy tanpa mengenal rasa takut sedikitpun. Nabi tetap tegas  berdakwah, dengan lantang menyuarakan amanah ilahi, menjelaskan kesesatan kaum musyrikin Quraisy. Ancaman dan gangguan dari kaum Quraisy tidak menciutkan nyali Nabi. Jika Nabi tidak pernah merasa takut pada kaum Quraisy, apa yang membuat Nabi takut pada Umar? Tidak ada alasan bagi Nabi untuk takut pada Umar, apalagi dalam menyampaikan kebenaran. Mustahil Nabi takut pada Umar. Mustahil Umar bisa menghalangi Nabi dalam menyampaikan kebenaran. Ini jika dalam dada kita masih tertanam keyakinan, bahwa Nabi telah menyampaikan amanat yang diembannya dari Allah dengan sempurna.

Saya:

Apa yang hakekat.com sampaikan hanyalah asumsi saja.

“Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.[QS. Yunus:36]

Hakekat menulis:

Kemungkinan berikutnya, yaitu Nabi memang sengaja menyembunyikan wasiat, yang menurut sebagian syiah, melindungi umat dari perpecahan. Ini lebih mustahil. Nabi bergelar Al Amin sejak sebelum diangkat jadi Rasulullah, apakah mungkin Nabi mengkhianati Allah dan menyembunyikan wahyu? Keyakinan ini dapat membuat seorang muslim kehilangan Islamnya, karena menabrak salah satu rukun iman, yaitu iman pada Rasul, yang menuntut kita untuk percaya bahwa Rasulullah Muhammad Shallalahu Alaihi Wa Alihi Wa Sallam telah menyampaikan amanat ilahi, menyampaikan seluruh wahyu Allah yang turun.Saya ingin mengajukan pertanyaan, “Benarkah Nabi tidak menyampaikan wasiatnya?

Saya:

Perihal ini, sudah pernah saya tulis di tulisan yang berjudul “Umat Islam tersesat”.

Apa yang diasumsikan oleh penulis di hakekat.com itu bahwa Nabi tidak jadi menyampaikan wasiatnya, maka itu adalah suatu hal yang mengada-ada.

Narrated Said bin Jubair:

that he heard Ibn ‘Abbas saying, “thursday! And you know not what thursday is? After that Ibn ‘Abbas wept till the stones on the ground were soaked with his tears. On that I asked Ibn ‘Abbas, “What is (about) thursday?” He said, “When the condition (i.e. health) of Allah’s Apostle deteriorated, he said, ‘Bring me a bone of scapula, so that I may write something for you after which you will never go astray.’The people differed in their opinions although it was improper to differ in front of a prophet, They said, ‘What is wrong with him? Do you think he is delirious? Ask him (to understand). The Prophet replied, ‘Leave me as I am in a better state than what you are asking me to do.’ Then the Prophet ordered them to do three things saying, ‘Turn out all the pagans from the Arabian Peninsula, show respect to all foreign delegates by giving them gifts as I used to do.’ ” The sub-narrator added, “The third order was something beneficial which either Ibn ‘Abbas did not mention or he mentioned but I forgot.’

Tulisan yang saya cetak tebal, itulah wasiat yang Nabi sampaikan. Ada 3 hal yang Nabi wasiatkan yang mana jika kita mengikuti wasiat tersebut, kita tidak akan tersesat sepeninggal beliau. Celakanya, wasiat yang sampai pada kita hanya 2 saja, karena perawinya lupa apa wasiat yang ketiga. Hehehe…Baru kali ini saya mengetahui bahwa perawi lupa menyampaikan riwayat Nabi.

Hakekat menulis:

Ketika memvonis ucapan Umar adalah keliru, syiah harus menghadapi dua konsekuensi yang berat, dan memilih salah satunya. Nabi takut pada Umar, atau Nabi mengkhanati amanat risalah dan menyembunyikan kebenaran.

Saya:

Sudah saya sampaikan diatas bahwa kehendak Umar berbeda dengan kehendak Nabi. Dan saya lebih memilih untuk mengikuti kehendak Nabi ketimbang kehendak Umar (yang sesat).

Dan saya pun telah memaparkan bahwa ternyata Nabi tetap menyampaikan wasiat beliau.

Hakekat menulis:

Di sisi lain, pernyataan Umar: “cukup bagi kami kitab Allah” didukung oleh para Imam syiah.

Saya:

Benarkah pernyataan hakekat.com ini? Mari simak ulasan saya.

Hakekat.com mengutip beberap ayat Al-Qur’an dan perkataan Imam Syiah yang katanya mendukung pernyataan Umar, “Cukup bagi kami Kitab Allah.”

Hakekat menulis:

Al Kafi, jilid 1 hal 61, Imam Ja’far As Shadiq mengatakan Kitab Allah, di dalamnya terdapat berita kaum sebelum kalian, dan berita apa yang terjadi sesudah kalian, pemutus perselisihan yang ada pada kalian, dan kami mengetahuinya.

Al Kafi, jilid 1 hal 60.Imam Ja’far As Shadiq mengatakan : setiap sesuatu yang diperselisihkan oleh dua orang, pasti ada penjelasannya dalam kitab Allah, tetapi akal manusia tidak menjangkaunya.

Al Kafi, jilid 1 hal59, Ja’far As Shadiq mengatakan: sesungguhnya dalam Al Qur’an memuat penjelasan segala sesuatu, demi Allah, Allah tidak meninggalkan sesuatu yang diperlukan oleh hamba-hambanya, melainkan telah menjelaskannya pada manusia hingga seorang hamba tidak akan bisa berkata : andai saja hal ini tercantum dalam Al Qur’an, melainkan Allah telah menurunkan ayat tentang hal itu.

Bashairu Darajat hal 6 Imam Muhammad bin Ali Al Baqir menyatakan : Allah tidak meninggalkan sesuatu yang diperlukan oleh umat hingga hari kiamat, kecuali diturunkan dalam kitabNya dan dijelaskan pada RasulNya, dan Allah menjadikan batasan bagi segala sesuatu dan menjadikan segala sesuatu memiliki dalil yang menunjukkan padanya.

Bashair Darajat hal 194 : Imam Ja’far As Shadiq mengatakan : dalam Al Qur’an terdapat berita langit, beritu bumi, berita kejadian yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi, Allah berfirman : sebagai penjelas segala sesuatu (QS An Nahl ayat 89).

Tafsir Ali bin Ibrahim Al Qummi, jilid 2 hal 451: sesungguhnya dalam Al Qur’an memuat penjelasan segala sesuatu, demi Allah, Allah tidak meninggalkan sesuatu yang diperlukan oleh hamba-hambanya, melainkan telah menjelaskannya pada manusia hingga seorang hamba tidak akan bisa berkata : andai saja hal ini tercantum dalam Al Qur’an, melainkan Allah telah menurunkan ayat tentang hal itu.

Al Mahasin hal 267: Imam Ja’far As Shadiq mengatakan : segala sesuatu yang diperselisihkan oleh dua orang, pasti ada penjelasannya dalam Kitab Allah.

Allah berfirman dalam Al Qur’an, surat An Nahl ayat 89, yang diterjemahkan sebagai berikut :
Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang berserah diri.

Saya:

Menurut saya, pengutipan itu sungguh kacau sehingga menghasilkan kesimpulan yang kacau pula.

Berikut akan saya kutip kembali ayat Al-Qur’an dan perkataan Imam Syiah yang dikutip oleh penulis hakekat.com tersebut dengan urutan yang lebih baik:

FIRMAN ALLAH TENTANG AL-QUR’AN

Allah berfirman dalam Al Qur’an, surat An Nahl ayat 89, yang diterjemahkan sebagai berikut :
Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang berserah diri.

Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.” (QS. Al-Maaidah [5]: 48)

Saya:

Allah berfirman bahwa Al-Qur’an itu kitab yang berisi penjelasan dan pedoman segala sesuatu serta menjadi pemutus perkara yang manusia hadapi.

HADITS IMAM SYIAH TENTANG AL-QUR’AN

Al Mahasin hal 267: Imam Ja’far As Shadiq mengatakan : segala sesuatu yang diperselisihkan oleh dua orang, pasti ada penjelasannya dalam Kitab Allah.

Al Kafi, jilid 1 hal59, Ja’far As Shadiq mengatakan: sesungguhnya dalam Al Qur’an memuat penjelasan segala sesuatu, demi Allah, Allah tidak meninggalkan sesuatu yang diperlukan oleh hamba-hambanya, melainkan telah menjelaskannya pada manusia hingga seorang hamba tidak akan bisa berkata : andai saja hal ini tercantum dalam Al Qur’an, melainkan Allah telah menurunkan ayat tentang hal itu.

Bashairu Darajat hal 6 Imam Muhammad bin Ali Al Baqir menyatakan : Allah tidak meninggalkan sesuatu yang diperlukan oleh umat hingga hari kiamat, kecuali diturunkan dalam kitabNya dan dijelaskan pada RasulNya, dan Allah menjadikan batasan bagi segala sesuatu dan menjadikan segala sesuatu memiliki dalil yang menunjukkan padanya.

Bashair Darajat hal 194 : Imam Ja’far As Shadiq mengatakan : dalam Al Qur’an terdapat berita langit, beritu bumi, berita kejadian yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi, Allah berfirman : sebagai penjelas segala sesuatu (QS An Nahl ayat 89).

Tafsir Ali bin Ibrahim Al Qummi, jilid 2 hal 451: sesungguhnya dalam Al Qur’an memuat penjelasan segala sesuatu, demi Allah, Allah tidak meninggalkan sesuatu yang diperlukan oleh hamba-hambanya, melainkan telah menjelaskannya pada manusia hingga seorang hamba tidak akan bisa berkata : andai saja hal ini tercantum dalam Al Qur’an, melainkan Allah telah menurunkan ayat tentang hal itu.

Perkataan Imam tersebut merupakan tafsir atau penjelasan dari ayat Al-Qur’an yang saya kutip diatas.

Sampai sini dulu, sebetulnya ada perbedaan konteks antara pernyataan Umar dengan pernyataan Imam syiah tersebut.

Konteks pernyataan Umar itu sebetulnya soal Nabi yang ingin menyampaikan wasiat dan Umar kemudian menghalang-halangi dengan mengatakan, “Cukuplah Kitab Allah sebagai pedoman.”

Sedangkan konteks pernyataan Imam Syiah tersebut ialah soal kedudukan, fungsi, dan kelebihan dari Al-Qur’an. Dia tidak berbicara cukup atau tidak.

Konteks pernyataan imam syiah mengenai persoalan apakah cukup atau tidak hanya dengan Al-Qur’an, maka itu disinggung dalam pernyataan Imam syiah sebagai berikut: (dan ini dikutip pertama kali oleh penulis hakekat.com tersebut).

Al Kafi, jilid 1 hal 60.Imam Ja’far As Shadiq mengatakan : setiap sesuatu yang diperselisihkan oleh dua orang, pasti ada penjelasannya dalam kitab Allah, tetapi akal manusia tidak menjangkaunya.

Memang benar bahwa Al-Qur’an itu memuat penjelasan segala hal. Tetapi tidak semua manusia mampu menjangkaunya. Akal manusia biasa itu tidak mampu untuk memahami semua isi dari Al-Qur’an.

Maka kemudian Imam Syiah berkata:

Al Kafi, jilid 1 hal 61, Imam Ja’far As Shadiq mengatakan Kitab Allah, di dalamnya terdapat berita kaum sebelum kalian, dan berita apa yang terjadi sesudah kalian, pemutus perselisihan yang ada pada kalian, dan kami mengetahuinya.

Memang akal manusia tidak mampu menjangkau semua makna dari ayat-ayat yang ada di Al-Qur’an, tetapi ada manusia-manusia pilihan yang mampu menjangkaunya. Siapa itu? Dari perkataan Imam Ja’far tersebut maka sudah pasti mengarah pada dirinya karena beliau berkata, “dan kami mengetahuinya.”

——-

Jadi, apa yang disampaikan oleh penulis hakekat.com itu tidak lebih dari sekedar bualan, omong kosong, dan rekayasa jahil.

Membaca tulisan-tulisan di hakekat.com boleh saja, asalkan kita tetap bisa kritis sehingga tidak mudah untuk disesatkan oleh pola pikir hakekat.com yang memang sudah terlampau sesat.

Peace, love, and gaul.