Beranda > Tanggapan, Tulisanku > Tanggapan atas artikel “Para Imam Syiah Mengikuti Umar bin Khattab”

Tanggapan atas artikel “Para Imam Syiah Mengikuti Umar bin Khattab”

Tulisan yang akan saya tanggapi ini merupakan tulisan yang diposting di website hakekat.com. Website tersebut banyak mengupas soal syiah menurut sudut pandangnya. Sudut pandang yang ditawarkan oleh pemilik website itu tergolong baru. Namun walaupun demikian, hal itu tidak menjamin bahwa apa yang disampaikannya merupakan sebuah kebenaran. Terbukti beberapa kali tulisan-tulisan yang ada disitu dibantah oleh http://satriasyiah.wordpress.com dan http://secondprince.wordpress.com. Kedua blog tersebut memaparkan soal ketidakbenaran dari apa yang disampaikan dalam website hakekat.com tersebut.

Begitu juga dengan tulisan saya ini yang akan mencoba menganalisa kembali apa yang telah disampaikan oleh website hakekat.com yang sebetulnya berbicara soal tragedi kamis kelabu. Dan saya sudah pernah menuliskan persoalan riwayat kamis kelabu tersebut dalam beberapa tulisan, diantaranya:

Saya tidak ingin beretorika terlalu panjang disini. Untuk selanjutnya, tulisan ini akan menyertakan kutipan atas tulisan di website hakekat tersebut dan dibawahnya merupakan tanggapan saya.

Hakekat berkata:

Imam syiah mengikuti ucapan Umar,yang dianggap keliru oleh syiah hari ini. Mana yang benar, para imam syiah -yang maksum-, atau penganut syiah hari ini –yang tidak maksum-?

Saya:

Kita akan lihat, siapa yang benar dan siapa yang ngawur…

Hakekat menulis:

Syiah selalu menggugat Umar bin Khattab karena mengatakan : cukup bagi kita semua kitab Allah.

Saya:

Bukan hanya itu, tetapi juga menggugat sikap umar yang menghalang-halangi atau menolak wasiat Nabi dengan mengatakan, ”Cukup bagi kita semua kitab Allah”.

Hakekat menulis:

Perkataan ini digunakan untuk menghujat Umar dengan membabi buta tanpa berpikir panjang. Kebencian syiah pada Umar begitu menggelora, membuat pemberian Allah yang berupa akal sehat, tidak lagi digunakan.

Saya:

Justru hakekat.com lah yang tidak berpikir panjang dan rasional. Dia terlalu terburu-buru dalam mengambil sebuah kesimpulan dan tidak malu-malu untuk menggunakan asumsi sebagai dasar dari pendapatnya. Padahal Allah telah memberikan akal bagi dirinya untuk berpikir benar.

Mari kita lihat bagaimana hakekat.com berasumsi…

Hakekat menulis:

Dan anehnya lagi, Nabi tidak memprotes ucapan Umar bin Khattab. Ada dua kemungkinan, yang pertama, memang ucapan Umar itu benar, karena itu Nabi tidak menegur Umar dan memberitahu mana yang benar, ketika ada kesalahan yang dilakukan oleh sahabat, Nabi selalu menegur dan menunjukkan pada para sahabat mana yang benar. Tetapi kali ini Nabi diam dan tidak menegur Umar. Ini menjadi bukti persetujuan Nabi terhadap ucapan Umar.

Kemungkinan kedua, ucapan itu keliru, seperti diyakini oleh syiah hari ini. Pertanyaan yang muncul, mengapa Nabi diam saja menyaksikan penyimpangan yang dilakukan Umar?  Mengapa Nabi tidak menegur Umar, akibatnya, ucapan Umar yang keliru itu –seperti keyakinan syiah-, dijadikan pegangan oleh banyak umat Islam. Ketika sesuatu terjadi di hadapan Nabi sedangkan Nabi diam saja tanpa bereaksi, maka itu dianggap sebagai persetujuan dari Nabi, yang memiliki kekuatan hukum dalam syareat. Salah seorang sahabat makan daging “dhabb” di hadapan Nabi. Walaupun tidak ikut makan, Nabi tidak melarang sahabat tadi. Ini menjadi dasar hukum bagi halalnya daging dhabb. Begitu juga saat Nabi diam saja membiarkan Umar, tidak menegurnya, tidak mengoreksi kesalahannya.

Saya:

Persoalan bukan benar atau tidaknya ucapan Umar bin Khattab. Tetapi lebih kepada sikap Umar yang menghalang-halangi atau menolak wasiat Nabi. Apakah sikap seperti itu dapat dibenarkan?

Nabi hendak menyampaikan wasiat agar umat sepeninggal beliau tidak tersesat. Tetapi Umar berkata, “Nabi sedang sakit keras, ditengah-tengah kita ada Kitab Allah. Cukuplah itu sebagai pedoman.”

Dari peristiwa tersebut, sebetulnya ada 2 kehendak yang saling kontradiksi.

  1. Nabi menginginkan adanya penulisan wasiat tersebut
  2. Umar mengatakan cukuplah Kitab Allah, ndak perlu wasiat Nabi.

Pertanyaan yang ingin saya ajukan, “Manakah yang akan kita ikuti, Nabi yang memerintahkan penulisan wasiat ataukah Umar yang mengatakan cukuplah Kitab Allah?”

Kalau saya tentu akan lebih memilih mengikuti Nabi dan meninggalkan Umar.

Mengapa?

Bukankah di Al-Qur’an Allah telah berfirman:

”Demi bintang ketika terbenam, Kawanmu (Muhammad) tidak sesat. dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya, ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS al Najm (53): 1-4).

Bukankah kita diperintahkan untuk taat, sebagaimana perintah Allah:

“Apa yang datang dari Rasul, maka ambilah Dan apa yang dilarangnya, maka tinggalkanlah.” (QS al Hasyr (59):7)

“Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul-Nya.” (QS al Nisa (4):59)

Dari firman-Nya tersebut kita diperintahkan tanpa syarat, baik kondisi Rasul sehat maupun sakit, hal ini diperintahkan pula oleh Allah:

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan sesuatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya ia telah sesat, dalam kesesatan yang nyata.” (QS al Ahzab (33):36).

Apa yang jadi kehendak Rasulullah ternyata berbeda dengan kehendak Umar. Apa yang jadi ketetapan Rasulullah itu ternyata dihalang-halangi oleh ketetapan Umar.

Mari kita buat silogismenya:

Barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya ia telah sesat dalam kesesatan yang nyata. (PREMIS PERTAMA)

Umar menghalang-halangi/mendurhaikai ketetapan Allah dan Rasul-Nya. (PREMIS KEDUA)

Jadi, Umar telah sesat dalam kesesatan yang nyata. (KESIMPULAN)

Hakekat menulis:

Ada dua asumsi kemungkinan, yang pertama, Nabi takut pada Umar, maka ketika Umar berpendapat keliru, bahkan menghalangi Nabi menuliskan wasiatnya,  Nabi hanya diam seribu bahasa. Nabi rela tidak menuliskan wasiat yang kelak menjadi pegangan umat, karena takut pada Umar. Mustahil ini terjadi, karena  tugas Nabi adalah menyampaikan risalah kebenaran, dan Nabi telah melaksanakan tugasnya dengan sempurna. Dengan penuh keberanian, Nabi menentang dan menantang kaum Quraisy tanpa mengenal rasa takut sedikitpun. Nabi tetap tegas  berdakwah, dengan lantang menyuarakan amanah ilahi, menjelaskan kesesatan kaum musyrikin Quraisy. Ancaman dan gangguan dari kaum Quraisy tidak menciutkan nyali Nabi. Jika Nabi tidak pernah merasa takut pada kaum Quraisy, apa yang membuat Nabi takut pada Umar? Tidak ada alasan bagi Nabi untuk takut pada Umar, apalagi dalam menyampaikan kebenaran. Mustahil Nabi takut pada Umar. Mustahil Umar bisa menghalangi Nabi dalam menyampaikan kebenaran. Ini jika dalam dada kita masih tertanam keyakinan, bahwa Nabi telah menyampaikan amanat yang diembannya dari Allah dengan sempurna.

Saya:

Apa yang hakekat.com sampaikan hanyalah asumsi saja.

“Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.[QS. Yunus:36]

Hakekat menulis:

Kemungkinan berikutnya, yaitu Nabi memang sengaja menyembunyikan wasiat, yang menurut sebagian syiah, melindungi umat dari perpecahan. Ini lebih mustahil. Nabi bergelar Al Amin sejak sebelum diangkat jadi Rasulullah, apakah mungkin Nabi mengkhianati Allah dan menyembunyikan wahyu? Keyakinan ini dapat membuat seorang muslim kehilangan Islamnya, karena menabrak salah satu rukun iman, yaitu iman pada Rasul, yang menuntut kita untuk percaya bahwa Rasulullah Muhammad Shallalahu Alaihi Wa Alihi Wa Sallam telah menyampaikan amanat ilahi, menyampaikan seluruh wahyu Allah yang turun.Saya ingin mengajukan pertanyaan, “Benarkah Nabi tidak menyampaikan wasiatnya?

Saya:

Perihal ini, sudah pernah saya tulis di tulisan yang berjudul “Umat Islam tersesat”.

Apa yang diasumsikan oleh penulis di hakekat.com itu bahwa Nabi tidak jadi menyampaikan wasiatnya, maka itu adalah suatu hal yang mengada-ada.

Narrated Said bin Jubair:

that he heard Ibn ‘Abbas saying, “thursday! And you know not what thursday is? After that Ibn ‘Abbas wept till the stones on the ground were soaked with his tears. On that I asked Ibn ‘Abbas, “What is (about) thursday?” He said, “When the condition (i.e. health) of Allah’s Apostle deteriorated, he said, ‘Bring me a bone of scapula, so that I may write something for you after which you will never go astray.’The people differed in their opinions although it was improper to differ in front of a prophet, They said, ‘What is wrong with him? Do you think he is delirious? Ask him (to understand). The Prophet replied, ‘Leave me as I am in a better state than what you are asking me to do.’ Then the Prophet ordered them to do three things saying, ‘Turn out all the pagans from the Arabian Peninsula, show respect to all foreign delegates by giving them gifts as I used to do.’ ” The sub-narrator added, “The third order was something beneficial which either Ibn ‘Abbas did not mention or he mentioned but I forgot.’

Tulisan yang saya cetak tebal, itulah wasiat yang Nabi sampaikan. Ada 3 hal yang Nabi wasiatkan yang mana jika kita mengikuti wasiat tersebut, kita tidak akan tersesat sepeninggal beliau. Celakanya, wasiat yang sampai pada kita hanya 2 saja, karena perawinya lupa apa wasiat yang ketiga. Hehehe…Baru kali ini saya mengetahui bahwa perawi lupa menyampaikan riwayat Nabi.

Hakekat menulis:

Ketika memvonis ucapan Umar adalah keliru, syiah harus menghadapi dua konsekuensi yang berat, dan memilih salah satunya. Nabi takut pada Umar, atau Nabi mengkhanati amanat risalah dan menyembunyikan kebenaran.

Saya:

Sudah saya sampaikan diatas bahwa kehendak Umar berbeda dengan kehendak Nabi. Dan saya lebih memilih untuk mengikuti kehendak Nabi ketimbang kehendak Umar (yang sesat).

Dan saya pun telah memaparkan bahwa ternyata Nabi tetap menyampaikan wasiat beliau.

Hakekat menulis:

Di sisi lain, pernyataan Umar: “cukup bagi kami kitab Allah” didukung oleh para Imam syiah.

Saya:

Benarkah pernyataan hakekat.com ini? Mari simak ulasan saya.

Hakekat.com mengutip beberap ayat Al-Qur’an dan perkataan Imam Syiah yang katanya mendukung pernyataan Umar, “Cukup bagi kami Kitab Allah.”

Hakekat menulis:

Al Kafi, jilid 1 hal 61, Imam Ja’far As Shadiq mengatakan Kitab Allah, di dalamnya terdapat berita kaum sebelum kalian, dan berita apa yang terjadi sesudah kalian, pemutus perselisihan yang ada pada kalian, dan kami mengetahuinya.

Al Kafi, jilid 1 hal 60.Imam Ja’far As Shadiq mengatakan : setiap sesuatu yang diperselisihkan oleh dua orang, pasti ada penjelasannya dalam kitab Allah, tetapi akal manusia tidak menjangkaunya.

Al Kafi, jilid 1 hal59, Ja’far As Shadiq mengatakan: sesungguhnya dalam Al Qur’an memuat penjelasan segala sesuatu, demi Allah, Allah tidak meninggalkan sesuatu yang diperlukan oleh hamba-hambanya, melainkan telah menjelaskannya pada manusia hingga seorang hamba tidak akan bisa berkata : andai saja hal ini tercantum dalam Al Qur’an, melainkan Allah telah menurunkan ayat tentang hal itu.

Bashairu Darajat hal 6 Imam Muhammad bin Ali Al Baqir menyatakan : Allah tidak meninggalkan sesuatu yang diperlukan oleh umat hingga hari kiamat, kecuali diturunkan dalam kitabNya dan dijelaskan pada RasulNya, dan Allah menjadikan batasan bagi segala sesuatu dan menjadikan segala sesuatu memiliki dalil yang menunjukkan padanya.

Bashair Darajat hal 194 : Imam Ja’far As Shadiq mengatakan : dalam Al Qur’an terdapat berita langit, beritu bumi, berita kejadian yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi, Allah berfirman : sebagai penjelas segala sesuatu (QS An Nahl ayat 89).

Tafsir Ali bin Ibrahim Al Qummi, jilid 2 hal 451: sesungguhnya dalam Al Qur’an memuat penjelasan segala sesuatu, demi Allah, Allah tidak meninggalkan sesuatu yang diperlukan oleh hamba-hambanya, melainkan telah menjelaskannya pada manusia hingga seorang hamba tidak akan bisa berkata : andai saja hal ini tercantum dalam Al Qur’an, melainkan Allah telah menurunkan ayat tentang hal itu.

Al Mahasin hal 267: Imam Ja’far As Shadiq mengatakan : segala sesuatu yang diperselisihkan oleh dua orang, pasti ada penjelasannya dalam Kitab Allah.

Allah berfirman dalam Al Qur’an, surat An Nahl ayat 89, yang diterjemahkan sebagai berikut :
Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang berserah diri.

Saya:

Menurut saya, pengutipan itu sungguh kacau sehingga menghasilkan kesimpulan yang kacau pula.

Berikut akan saya kutip kembali ayat Al-Qur’an dan perkataan Imam Syiah yang dikutip oleh penulis hakekat.com tersebut dengan urutan yang lebih baik:

FIRMAN ALLAH TENTANG AL-QUR’AN

Allah berfirman dalam Al Qur’an, surat An Nahl ayat 89, yang diterjemahkan sebagai berikut :
Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang berserah diri.

Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.” (QS. Al-Maaidah [5]: 48)

Saya:

Allah berfirman bahwa Al-Qur’an itu kitab yang berisi penjelasan dan pedoman segala sesuatu serta menjadi pemutus perkara yang manusia hadapi.

HADITS IMAM SYIAH TENTANG AL-QUR’AN

Al Mahasin hal 267: Imam Ja’far As Shadiq mengatakan : segala sesuatu yang diperselisihkan oleh dua orang, pasti ada penjelasannya dalam Kitab Allah.

Al Kafi, jilid 1 hal59, Ja’far As Shadiq mengatakan: sesungguhnya dalam Al Qur’an memuat penjelasan segala sesuatu, demi Allah, Allah tidak meninggalkan sesuatu yang diperlukan oleh hamba-hambanya, melainkan telah menjelaskannya pada manusia hingga seorang hamba tidak akan bisa berkata : andai saja hal ini tercantum dalam Al Qur’an, melainkan Allah telah menurunkan ayat tentang hal itu.

Bashairu Darajat hal 6 Imam Muhammad bin Ali Al Baqir menyatakan : Allah tidak meninggalkan sesuatu yang diperlukan oleh umat hingga hari kiamat, kecuali diturunkan dalam kitabNya dan dijelaskan pada RasulNya, dan Allah menjadikan batasan bagi segala sesuatu dan menjadikan segala sesuatu memiliki dalil yang menunjukkan padanya.

Bashair Darajat hal 194 : Imam Ja’far As Shadiq mengatakan : dalam Al Qur’an terdapat berita langit, beritu bumi, berita kejadian yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi, Allah berfirman : sebagai penjelas segala sesuatu (QS An Nahl ayat 89).

Tafsir Ali bin Ibrahim Al Qummi, jilid 2 hal 451: sesungguhnya dalam Al Qur’an memuat penjelasan segala sesuatu, demi Allah, Allah tidak meninggalkan sesuatu yang diperlukan oleh hamba-hambanya, melainkan telah menjelaskannya pada manusia hingga seorang hamba tidak akan bisa berkata : andai saja hal ini tercantum dalam Al Qur’an, melainkan Allah telah menurunkan ayat tentang hal itu.

Perkataan Imam tersebut merupakan tafsir atau penjelasan dari ayat Al-Qur’an yang saya kutip diatas.

Sampai sini dulu, sebetulnya ada perbedaan konteks antara pernyataan Umar dengan pernyataan Imam syiah tersebut.

Konteks pernyataan Umar itu sebetulnya soal Nabi yang ingin menyampaikan wasiat dan Umar kemudian menghalang-halangi dengan mengatakan, “Cukuplah Kitab Allah sebagai pedoman.”

Sedangkan konteks pernyataan Imam Syiah tersebut ialah soal kedudukan, fungsi, dan kelebihan dari Al-Qur’an. Dia tidak berbicara cukup atau tidak.

Konteks pernyataan imam syiah mengenai persoalan apakah cukup atau tidak hanya dengan Al-Qur’an, maka itu disinggung dalam pernyataan Imam syiah sebagai berikut: (dan ini dikutip pertama kali oleh penulis hakekat.com tersebut).

Al Kafi, jilid 1 hal 60.Imam Ja’far As Shadiq mengatakan : setiap sesuatu yang diperselisihkan oleh dua orang, pasti ada penjelasannya dalam kitab Allah, tetapi akal manusia tidak menjangkaunya.

Memang benar bahwa Al-Qur’an itu memuat penjelasan segala hal. Tetapi tidak semua manusia mampu menjangkaunya. Akal manusia biasa itu tidak mampu untuk memahami semua isi dari Al-Qur’an.

Maka kemudian Imam Syiah berkata:

Al Kafi, jilid 1 hal 61, Imam Ja’far As Shadiq mengatakan Kitab Allah, di dalamnya terdapat berita kaum sebelum kalian, dan berita apa yang terjadi sesudah kalian, pemutus perselisihan yang ada pada kalian, dan kami mengetahuinya.

Memang akal manusia tidak mampu menjangkau semua makna dari ayat-ayat yang ada di Al-Qur’an, tetapi ada manusia-manusia pilihan yang mampu menjangkaunya. Siapa itu? Dari perkataan Imam Ja’far tersebut maka sudah pasti mengarah pada dirinya karena beliau berkata, “dan kami mengetahuinya.”

——-

Jadi, apa yang disampaikan oleh penulis hakekat.com itu tidak lebih dari sekedar bualan, omong kosong, dan rekayasa jahil.

Membaca tulisan-tulisan di hakekat.com boleh saja, asalkan kita tetap bisa kritis sehingga tidak mudah untuk disesatkan oleh pola pikir hakekat.com yang memang sudah terlampau sesat.

Peace, love, and gaul.

  1. hiroali
    November 27, 2009 pukul 12:15 pm

    terlihat sekali bahwa wasiat nabi terkalahkan oleh ucapan Umar
    logika sederhana ……kesimpulannya menurut wahabi ucapan Umar lebih benar dari seorang Rassulullah..kemudian syetan takut pd Umar bin Khattab tapi pada Nabi Saww syetan berani menaruh Shihirnya……Malaikat malu pd Ustman bin affan, ketika Nabi Saww pd sebuah hadist ketika menerima para sahabat di rumahnya dlm keadaan pahanya tersingkap….waliyadzubillah.
    logika yg menyesatkan

  2. Abu Daffa
    November 28, 2009 pukul 10:55 pm

    Umar emang kreatif, lebih kreaif dari rasulullah….hehheheh

  3. Badari
    November 30, 2009 pukul 9:25 am

    Tulisan di hakekat.com tsb memang bualan, dan lebih tepatnya talbis utk mengecoh pembaca dari peristiwa sebenarnya, yaitu ketidakpatuhan Umar, kelancangan Umar dkk. utk menolak permintaan Nabi Muhammad saw. utk penulisan pesan yg sangat penting.
    Saya sudah semprot tulisan di hakekat.com tsb dengan 9-10 pertanyaan yg menggugat pembelaan hakekat.com kpd Umar. Hmmm…. sayang, saya tidak antisipasi bhw komentar saya dimoderasi & bisa dihapus dari blognya. Tapi, bersangka baik saja, mungkin mereka masih lagi mikir utk jawab komentar saya, kalau bisa.😀

    • November 30, 2009 pukul 10:31 am

      @Hiroali
      Betul sekali. Memang mereka seolah-olah menggunakan akal mereka untuk berpikir. sayang mereka tak memakai logika untuk memandu mereka berpikir benar.

      @Abu Daffa
      Hehehehe…bisa aja…

      @Badari
      Tanggapan saya pun blm ia tampilkan. Kita tunggu saja.

      • sunni
        Januari 27, 2010 pukul 4:40 am

        emangnya blogg ressay ini ga ga pernah memoderasi tanggapan orang sunni, dia jago banget mensensor tangggapan orang sunni yang nyerang pendapat dia dan syiah…he..he..he…maling teriak malin

        • Januari 27, 2010 pukul 5:38 am

          Saya hanya akan menerima komentar yang fokusi menanggapi hal yang sedang dibahas.

          Kalau sedang bahas tentang umar bin khattab dan tragedi kamis kelabu, ya jangan pula ente koar2 tentang syiah. Dan jangan pula ente koar2 tentang pribadiku dnk.

          Jadi kalau ente berkoar2 g jelas bahkan tidak ilmiah, sorry aja ye gw buang komentar ente ke tong sampah.

          Nah, siapkah ente diskusi dsini dgn fokus pd tema, santun, dan ilmiah?

          • cecep
            Januari 29, 2010 pukul 10:04 am

            anda dusta, walaupun ilmiah kalo emang itu memojokan ressay dan syiah tetap di sensor/moderasi ,seperti punya teman saya, yang bernama fatimah,tentunya takut terpojok dan kelihatan belangnya, ressay ingin jaga imeg “keilmiahannya” yang asal….
            hakekat.com adalah situs pembongkar kesesatan syiah jadi sudah pasti orang2 syiah akan benci pada situs itu……tapi kebenaran harus tetap ditegakan, hidup hakekat.com….hidup arrahmah…hidup eramuslim…..binasalah syiah ……

            • Januari 29, 2010 pukul 10:29 am

              anda dusta,

              Wes…enak betul yah ngomong orang lain dusta. hehehe..tunjukkan dimana kedustaan saya sayang?

              walaupun ilmiah kalo emang itu memojokan ressay dan syiah tetap di sensor/moderasi ,seperti punya teman saya, yang bernama fatimah,tentunya takut terpojok dan kelihatan belangnya, ressay ingin jaga imeg “keilmiahannya” yang asal….

              Hehehe…jelas saya lebih ilmiah ketimbang Anda yang hanya bisa berkoar-koar disini. Saran saya, jika memang Anda masih belum bisa bersikap ilmiah, mbok ya belajar dulu. Saya juga masih terus belajar menggali ilmu2 agama kok…santai saja…masih banyak waktu…

              Sepanjang yang saya ketahui, saya menghapus komentar2 yang isinya cuman koar-koar apalagi pake kata-kata kasar dan jorok, ndak fokus pada pembahasan, ndak ilmiah. Jadi, pertanyaannya adalah, sudahkah komentar Anda dan teman Anda itu memenuhi ketiga ukuran itu? kalau sudah, berarti komentar Anda dan teman Anda layak di hapus.

              Saya sih simple aja bung. Kalau memang Anda tak bersepakat dengan apa yang saya tulis, ajukanlah argumen Anda LENGKAP DENGAN RUJUKAN ANDA. Jangan hanya cuman berkoar-koar. Bagaimana orang-orang disini akan paham bahwa Anda berada pada jalan kebenaran jika Anda saja tak mampu berargumen dengan ilmiah?

              hakekat.com adalah situs pembongkar kesesatan syiah jadi sudah pasti orang2 syiah akan benci pada situs itu…

              Ngomong-ngomong soal hakekat, setidaknya ada beberapa blog yang juga mengkritisi hakekat.com
              http://satriasyiah.wordpress.com
              http://secondprince.wordpress.com
              http://jakfari.wordpress.com
              dan terakhir, tentunya weblog saya.

              Lho kok saya mengkritisi hakekat.com? Berarti saya syiah donk? Itu terserah Anda mau menilai saya, toh saya lebih senang disebut sebagai muslim ketimbang syiah ataupun sunni.

              tapi kebenaran harus tetap ditegakan, hidup hakekat.com….hidup arrahmah…hidup eramuslim…..binasalah syiah ……

              Hehehe…kayak orang demo aja…

              Kebenaran yang seperti apa bung? Bagaimana saya bisa mengetahui Anda berada pada kebenaran jika Anda saja tak mampu berargumen dengan ilmiah. Tunjukkan mana kebenaran itu?

              Sudah beberapa kali saya menanggapi tulisan hakekat.com dan eramuslim. Dan situs itu tidak menjamin kebenaran. Sama seperti blog saya, tidak menjamin kebenaran. Maka dari itu, perlu ada sikap kritis dari setiap pembaca. Jika ada hal yang perlu dikritisi, cobalah, tetapi dengan syarat santun, fokus pada pembahasan, dan ilmiah tentunya.

              Persoalannya, saya ragu Anda bisa seperti itu? Mampu ndak?

          • ricki
            Januari 29, 2010 pukul 10:37 am

            elu aja yang ngaku sok ilmiah….padahal kedustaan ngakunya ilmiah alias sampah….pendapat asal, qur’an dan hadis ditafsirkan sendiri, pendapat ulama dipelintir, sumber ga jelas hanya berkiblat pada syiah….orang lain boleh anda bohongi, tapi ahlussunnah ga akan mudah dibohongi…..

            • Januari 29, 2010 pukul 10:52 am

              elu aja yang ngaku sok ilmiah…

              Ndak tuh…saya emang ilmiah kok. Buktinya saya pake dasar argumen. Sedangkan Anda? aduh…cuman berkoar-koar kayak orang demo saja dek…

              .padahal kedustaan ngakunya ilmiah alias sampah….

              Maling teriak maling. Komentar Anda mungkin yang sampah?

              pendapat asal, qur’an dan hadis ditafsirkan sendiri, pendapat ulama dipelintir, sumber ga jelas hanya berkiblat pada syiah…

              Hehehe…dipelintir? mana yang dipelintir? saya ingin tau coba…buktikan donk sayang…

              Dan saya ajak Anda untuk berdiskusi berdua disini, dan tentunya dengan argumen ilmiah. Gimana adekku sayang? bisa ndak?

              orang lain boleh anda bohongi, tapi ahlussunnah ga akan mudah dibohongi…..

              Ahlulsunnah? Ah yang bener? Bukan Zionis nih?

              yang aku tau sih orang-orang Ahlulsunnah itu selalu berargumen dengan ilmiah, tidak asal koar-koar begini. Kalau yang doyan berkoar-koar gini itu Zionis Israel yang selalu bikin perpecahan dalam umat Islam. Anda bagian dari Zionis itu?

  4. Desember 2, 2009 pukul 11:10 am

    woii gak usah banyak ribut,…ikuti aja Al-Quran…Ikut sunah boleh tapi jangan sunah yang kwek-kwek…..Al-Quran aja belum kalian hayati udah main-main hadits…

    • Desember 2, 2009 pukul 5:37 pm

      Oh gitu yah? Jadi lebih baik saya ndak usah ngeributin atau menganggap penting komentar Anda. Karena itu bukan Al-Qur’an.

  5. Abu Daffa
    Desember 2, 2009 pukul 11:20 am

    itulah bedanya blog para pecinta ahlul bait yang secara fair menerima comment dari seluruh ummat dengan berbagaimacam tulisanya tanpa di filter, mereka seperti Abul Jauza, hakikat, dan blog2 wahabi dan salafi lainya selalu memfilter comment. nda fair mereka, maunya commen yang selaras ama mereka aja, ga mau di tentang

    • toni
      Desember 10, 2009 pukul 3:13 am

      woi…. yang paling fair itu blognya http://www.maulana2008.co.cc disitu komentar syi’ah dibabat habis gak tersisa..!!! gak ada yang dihapus and kalau anda pengen mencoba silahkan saja….!!!!

      • Desember 14, 2009 pukul 4:07 am
        • toni
          Januari 27, 2010 pukul 7:11 am

          wah.. blognya si jakfari ya.. hu.. sama liciknya seperti anda.!!
          menghapus komentnya Ahlus Sunnah. mungkin lantaran takut taqiyahnya yang polos itu terbongkar… ya gitulah syi’ah memang aneh.. punya keyakinan ko ditutup-tutupi memangnya ada yang bermasalah dengan keyakinan syi’ah sehingga harus ditutup-tutupi..??? aneh bin ajaib sekelas “ustdz” jakfari aja ga berani menghadapi komentar para ahlus sunnah yang kebanyakan dia hapus. sama seperti sang jagoan taqiyah mas ressay ini..:)

          mau thu hakekat syi’ah..??? lihat ni di: http://maulana2008.multiply.com/tag/syiah

          lihat aja kelakuan ressay… sang juragan taqiyah alias pengecut… dihapuskah komentarku ini…??? semoga ressay bukan pengecut.. tapi itu semoga lho… karena taqiyah yang diamalkan ressay dan kaum syi’ah lainnya membuktikan sikap pengecutnya mereka dihadapan kebenaran… bayangin coba aqidah kedustaan/taqiyah/pengecutnya mencapai taraf 90% dari ajaran agamanya..!!!

          • Januari 27, 2010 pukul 9:57 am

            wah.. blognya si jakfari ya.. hu.. sama liciknya seperti anda.!!

            Ah maling teriak maling nih…ckckckckck…

            menghapus komentnya Ahlus Sunnah. mungkin lantaran takut taqiyahnya yang polos itu terbongkar… ya gitulah syi’ah memang aneh.. punya keyakinan ko ditutup-tutupi memangnya ada yang bermasalah dengan keyakinan syi’ah sehingga harus ditutup-tutupi..??? aneh bin ajaib sekelas “ustdz” jakfari aja ga berani menghadapi komentar para ahlus sunnah yang kebanyakan dia hapus. sama seperti sang jagoan taqiyah mas ressay ini..:)

            Hahahaha…kagak ada bukti bung…

            Oh ya, kalau pun benar menghapus komentar, komentar seperti apa yang dihapus bung? Nyambung gak dengan diskusi? komentarnya berisi kata-kata kotor gak? Komentarnya ngelantyur apa gak? Kalau gak nyambung, berisi kata-kata kotor, dan ngelantyur sana sini, maka sudah layak untuk dihapus bung.

            Mau tau hakekat syiah? Ya tanya ama ulama syiah, jangan tanya ama ulama2 non Syiah. Kalau mau tanya tentang Al-Qaeda, jangan pula ente tanya Amerika. Pasti mereka akan ngomong yang jelek2 tentang Al-Qaeda bung…

            Lihat aja kelakuan ente, komentarnya ndak jelas, ndak sesuai topik yang diangkat.

            Mbok ya kalau berani atau minimal mengetahui kesesatan syiah, tanggapi tulisan2ku dengan ilmiah. Kagak usah mengumbar kata2 “sesat” dihadapan saya. Tidak berarti apa2. Tetapi sampaikan argumen ilmiah Anda, insya Allah saya simak dengan khidmat dan jika ada yang perlu ditanggapi dan diluruskan, maka saya siap untuk itu. Dan syarat diskusi, harus berani membuka diri. Salah satu indikasi orang membuka diri adalah, tidak merasa diri paling benar sendiri dan pasti benar.

            Persoalannya ialah, siapkah Anda untuk membuka diri sehingga diskusi ini menjadi lebih menarik dan ilmiah? Saya tunggu…

          • sunni
            Januari 29, 2010 pukul 10:43 am

            setuju bang toni….emang begitu kelakuan blog-blog syiah …berapa banyak pendapat saya yang dihapus…tapi saya tidak akan menyerah melawan syiah sampai akhir hayat saya….

            • Januari 29, 2010 pukul 10:53 am

              IP nya sama-sama 114.126.28.50. Entah teman satu kantor, satu warnet, satu kamar tidur atau memang satu orang.

              Saya akan hapus pendapat yang tidak ilmiah, hanya koar-koar saja. Persoalannya, bisa ndak ente ajukan argumen ilmiah? Kalau ndak bisa ya silakan cari website atau weblog sampah. Janganlah Anda menyampah disini. bisa kan?

  6. Ressay keledai
  7. Rizal Monyet
    • Desember 3, 2009 pukul 6:23 pm

      hehehe…terima kasih atas gambarnya. Sebetulnya itu gambar saya yang Anda rubah itu menunjukkan bahwa sebetulnya Anda tidak berakhlak baik dalam berdiskusi. Bahkan menampilkan gambar yang, mohon maaf, bagi saya menjijikan. Perkataan, tingkah laku yang ditunjukkan oleh seseorang biasanya merepresentasikan watak dan akhlak dari orang tersebut.

      Saya jadi teringat dengan website2 para penghina Nabi Muhammad. Mereka membantah argumen2 ilmiah yang ditawarkan oleh Islam dengan gambar-gambar yang mendiskreditkan Nabi Muhammad.

      Sekarang, ada orang yang tak lagi mampu membantah argumen2 ilmia yang saya sampaikan, dan ia menunjukkan keputus asaan dirinya dengan mendiskreditkan saya. Itu hal yang wajar bagi orang yang memang sudah mentok tak mampu lagi harus berargumen seperti apa. hehehehe…

      • toni
        Desember 21, 2009 pukul 9:18 am

        syi’ah yang polos… padahal blog itu juga punya orang syi’ah..^_^.. he..he..he.. mau pakai politik “Dizhalimi” nih mas ressay..?? sayangnya orang yang ceritanya berperan sebagai orang yang menzhalimi anda adalah dari kalangan syi’ah sendiri. ga usah ambil pusing lah.. ma’lum syi’ah tuh bodoh dalam beragama.. ternyata bodoh juga dalam bersandiwara…^_^… terlalu polos sandiwaranya…🙂

        • Desember 21, 2009 pukul 7:04 pm

          Dugaan Anda meleset kawan. Mbok ya jangan sok tau donk…mending polos aja daripada sok tau…

  8. Desember 5, 2009 pukul 2:32 am

    tidak stuju

    • Desember 5, 2009 pukul 11:54 am

      Tidak setuju apa ini?

  9. Desember 11, 2009 pukul 9:27 am

    Sudah lama nih nggak berkunjung ke blognya Mas Yass.. Keep moving forward ya..

    • Desember 14, 2009 pukul 4:15 am

      rajin update blog nih.

  10. Desember 12, 2009 pukul 11:45 am

    Kalau ingin tahu sampai dimana geblegnya wahabi tengoklah blogku ya

  11. Desember 12, 2009 pukul 11:47 am

    Kunjungi http://abu-syafiq.blogspot.com jika ingin tahu sampai dimana geblegnya wahabi

  12. matdoni
    Desember 28, 2009 pukul 5:28 am

    Diamnya Nabi saw pd perbuatan Umar kok disamakan dg hadist diamnya Nabi Saw dihadapan seorang sahabat makan daging “dhabb” Lucu cara wahabi/hakekat.com ini berargumen.

    jelas hadis yg satu, di sini Terlihat adanya perlawanan satu hal (umar) thdp hal yg mendahuluinya (rassul Saw). Nabi sdh berniat dan ingin mengungkapkan sesuatu di depan Para sahabat, kemudian di counter dg sabdanya Umar.
    sdgkan hadist yg ke dua tentang diamnya Nabi Saw dihadapan Sahabat yg makan daging “dhabb”, adalah masalah yg sangat berlainan dg yg di atas. Di sini terlihat hanya ada satu hal yg muncul (dr sahabat saja), karena Nabi Saw tdk sedang makan daging selain yg sahabat makan dihadapannya. (tdk ada pementahan hal atas hal lainnya).

    • Januari 29, 2010 pukul 10:29 am

      Betul…begitulah celakanya jika kita hanya menjadikan analogi sebagai pijakan argumen.

  13. azzahra
    Januari 30, 2010 pukul 12:19 pm

    salut mas ressay…tetaplah kritis…buang sikap antipati…

    Iblis dilaknat Allah karena dia “merasa” paling tahu, paling pinter, sampai2 perintah Allah ditawar2, ditimbang2…
    Semua sujud kepada adam, kecuali iblis..

    Hmmm…usaha iblis menyesatkan anak cucu adam berhasil di pribadi Umar, sosok sahabat, hingga perintah Rosulallah SAW disaat2 yg kritis dan sangat penting, ditimbang2, diakal2ioleh umar, hingga menimbulkan perpecahan luar biasa dahsyatnya bagi umat islam …

    • Januari 30, 2010 pukul 1:54 pm

      Salam mbak,

      Terima kasih atas kunjungannya.

      Semoga kita semua terhindar dari sikap merasa paling benar, paling shalih, paling berhak atas surga Tuhan.

  14. Javad Al-Kadzim
    Februari 23, 2010 pukul 10:29 am

    Saya tantang orang yang anti syi’ah untuk bermubahalah. Biarlah Alloh menjadi hakim pertentangan kita.

    • Februari 23, 2010 pukul 10:33 am

      Saya pikir ndak perlu bermubahalah. Beradu argumen saja…

  15. Juli 8, 2011 pukul 12:47 pm

    coba baca bukunya MUHAMMAD AL TIJANI AL SAMAWI,, ” akhirnya kutemukan kebanaran “.. z cenderung dengan syiah karena mereka memberikan bukti yang otentik terhadap kepambangkangan UMAR,, meraka mengambil hadisyt dari kitab bukhari muslim sebagai referensinya,, sebagaimana kita tahu dikalangan ahli sunnah dan syiah sendiri, hadist dari kitab BUKHARI adalah hadist syahi yg tak trbantahkan lagi… cobalah anda baca buku yg saya rekomendasikan diatas, insyaallah anda akan mendapatkan hakikat dari peristiwa kamis kelabu serta spekulasi twntwng kebenaran syiah

  16. Juli 8, 2011 pukul 12:50 pm

    bacalah buku DR MUHAMMAD AL-TIJANI AL-SAMAWI ” akhirnya kutemukan kebenaran ” … insya Allah anda akan menemukan kebenaran yang slama ini tersembunyi

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: