Beranda > Tanggapan, Tulisanku > Siapakah Ahlulbayt Dalam Surat Al-Ahzab ayat 33?

Siapakah Ahlulbayt Dalam Surat Al-Ahzab ayat 33?

Perbedaan penafsiran terhadap Al-Qur’an nampaknya menjadi sebuah keniscayaan di zaman ini. Antara mufassir yang satu dengan mufassir yang lain, sering kali terjadi perbedaan penafsiran atas suatu ayat Al-Qur’an tertentu. Termasuk perbedaan penafsiran terhadap surat Al-Ahzab ayat 33 tentang siapakah Ahlulbayt yang dimaksud dalam ayat tersebut.

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيراً

dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (QS. Al-Ahzab ayat 33)

Masing-masing orang menafsirkannya dengan cara pandang yang berbeda dan dengan metode yang berbeda. Perbedaan cara pandang dan metode yang digunakan itu biasanya menghasilkan kesimpulan yang berbeda.

Adapun beberapa metode penafsirannya ialah tafsir ayat dengan ayat, tafsir ayat dengan hadits, tafsir ayat dengan asbabun nuzul, tafsir ayat dengan ra’yu, dll.

Ada seorang kawan saya yang memiliki gaya diskusi yang sangat aneh, menafsirkan surat Al-Ahzab ayat 33 tersebut dengan metode tafsir ayat dengan ayat.

Mengapa saya katakan gaya diskusinya aneh? Karena saat dia berdiskusi dan kehabisan argumen, sering kali dia menyerang pribadi lawan diskusinya. Tentu segala cara pun ia tempuh untuk menyerang pribadi lawan diskusinya. Biasanya sih banyak orang yang tak tahan berdiskusi dengan dia. Bukan persoalan kalah argumen, tetapi karena tak tahan dirinya dijelek-jelekin.

Kembali ke pendapat kawan saya diatas. Dia berpendapat bahwa kata Ahlulbayt dalam surat Al-Ahzab ayat 33 tersebut berkenaan dengan istri-istri Nabi saja. Pendapat dia ini berdasarkan ayat Al-Qur’an yang lain yang juga berbicara tentang Ahlulbayt, dan kata ahlulbayt disitu berbicara tentang perempuan.

Ambil contoh dalam surat Hud ayat 72-73, Allah berfirman:

قَالَتْ يَا وَيْلَتَى أَأَلِدُ وَأَنَاْ عَجُوزٌ وَهَـذَا بَعْلِي شَيْخاً إِنَّ هَـذَا لَشَيْءٌ عَجِيبٌ

قَالُواْ أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ اللّهِ رَحْمَتُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَّجِيدٌ

Isterinya berkata: “Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamikupun dalam keadaan yang sudah tua pula?. Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh.”

Para malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.”

Kata Ahlulbayt dalam ayat diatas, menurutnya, berbicara soal istri dari Ibrahim.

Demikian pula dalam surat Al-Qashash ayat 12:

وَحَرَّمْنَا عَلَيْهِ الْمَرَاضِعَ مِن قَبْلُ فَقَالَتْ هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى أَهْلِ بَيْتٍ يَكْفُلُونَهُ لَكُمْ وَهُمْ لَهُ نَاصِحُونَ

dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui(nya) sebelum itu; maka berkatalah saudara Musa: “Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlul bait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?”.

Setelah ia hadapkan surat Al-Ahzab ayat 33 dengan kedua ayat diatas, kemudian dia mengambil sebuah kesimpulan bahwa Ahlulbayt yang terdapat dalam surat Al-Ahzab ayat 33 tersebut ditujukan ke perempuan dalam hal ini ialah istri-istri Nabi.

Sebuah Tanggapan

Saya tergerak untuk sekedar menanggapi pendapat kawan saya tadi. Semoga tanggapan ini tidak dimaknai sebagai sikap merasa diri paling benar sendiri. Apa yang saya lakukan ini hanyalah sebuah usaha untuk memahami dan memaknai ayat-ayat Al-Qur’an.

Metode yang digunakan oleh beliau tidaklah salah. Tetapi, menurut saya, proses penafsirannya yang masih cacat. Ada hal yang sama sekali tidak ia singgung, salah satunya ialah persoalan penggunaan kata ganti.

Mari kita simak Surat Al-Ahzab tersebut dari ayat 30-34.

Mulai dari Surat-Ahzab ayat 30-34 memang Allah berbicara soal istri-istri Nabi. Tetapi jika kita jeli, dalam surat Al-Ahzab ayat 33 itu sebetulnya terdiri dari dua kalimat:

1. dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahuludan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya.

2. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.

Pada kalimat yang pertama, Allah berbicara dengan menggunakan kata ganti jamak perempuan.

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ

wa qarna fii buyutikunna. Dan hendaknya kamu (perempuan) tetap dirumahmu (perempuan).

Tetapi pada kalimat yang kedua, Allah berbicara dengan menggunakan kata ganti jamak laki-laki perempuan:

إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرا

Innamaa Yuriidullaahu Liyudzhiba ’Ankumurrijsa Ahlalbayti Wayuthahhirakum Tathhiiraa. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.

Antara kalimat pertama dan kedua, terdapat perbedaan penggunakan kata ganti. Kalimat pertama menggunakan kata ganti “kunna” sedangkan kalimat kedua menggunakan kata ganti “kum”.

Jika kita hadapkan ini pada pendapat kawan saya diatas bahwa surat Al-Ahzab ayat 33 itu turun kepada perempuan, maka tidak sepenuhnya benar. Karena dalam surat Al-Ahzab ayat 33 tersebut ada kalimat yang menggunakan kata ganti laki-laki perempuan.

JADI ANGGAPAN BAHWA SURAT AL-AHZAB AYAT 33 YANG BERBICARA TENTANG AHLULBAYT ITU TURUN KEPADA PEREMPUAN ATAU ISTRI-ISTRI NABI, MAKA SUDAH DAPAT DIPASTIKAN ITU MENGADA-NGADA…ALIAS NGAWUR…

Saya menggunakan pendekatan bahasa terlebih dahulu untuk menafsirkan surat Al-Ahzab ayat 33 tersebut. Selain itu, saya juga menggunakan metode lain untuk mengetahuai siapakah Ahlulbayt yang dimaksud dalam ayat tersebut.

Bagi saya, ayat “Innamaa Yuriidullaahu Liyudzhiba ’Ankumurrijsa Ahlalbayti Wayuthahhirakum Tathhiiraa.” (QS Al Ahzab 33) adalah ayat yang turun sendiri terpisah dari ayat sebelum maupun sesudahnya.  Apa alasannya?

Saya menggunakan metode penafsiran ayat dengan asbabun nuzul yang itu ada dalam kitab-kitab hadits standar Ahlulsunnah.

Dalam Sunan Tirmidzi hadis no 3205 dalam Shahih Sunan Tirmidzi Syaikh Al Albani

عن عمر بن أبي سلمة ربيب النبي صلى الله عليه و سلم قال لما نزلت هذه الآية على النبي صلى الله عليه و سلم { إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا } في بيت أم سلمة فدعا فاطمة و حسنا و حسينا فجللهم بكساء و علي خلف ظهره فجللهم بكساء ثم قال اللهم هؤلاء أهل بيتي فأذهب عنهم الرجس وطهرهم تطهيرا قالت أم سلمة وأنا معهم يا نبي الله ؟ قال أنت على مكانك وأنت على خير

Dari Umar bin Abi Salamah, anak tiri Nabi SAW yang berkata “Ayat ini turun kepada Nabi SAW {Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya.} di rumah Ummu Salamah, kemudian Nabi SAW memanggil Fatimah, Hasan dan Husain dan menutup Mereka dengan kain dan Ali berada di belakang Nabi SAW, Beliau juga menutupinya dengan kain. Kemudian Beliau SAW berkata “ Ya Allah Merekalah Ahlul BaitKu maka hilangkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah Mereka sesuci-sucinya. Ummu Salamah berkata “Apakah Aku bersama Mereka, Ya Nabi Allah?. Beliau berkata “Kamu tetap pada kedudukanmu sendiri dan kamu dalam kebaikan”.


Jadi jelaslah sudah bahwa kata Ahlulbayt dalam surat Al-Ahzab ayat 33 itu merujuk kepada Ali, Fathimah, Hasan, dan Husain. Anggapan bahwa Ahlulbayt dalam ayat tersebut itu turun kepada perempuan atau istri-istri Nabi, maka itu adalah anggapan yang teramat sangat ngawurnya.

Semoga Allah menjauhkan diri kita dari berbagai macam kengawuran seperti itu.

Wallahu a’lam.

  1. Agustus 20, 2010 pukul 6:01 am

    kalo modialog bebas soal Syi’ah tanpa moderasi dan sunat-sunatan bisa disini

    http://haniifa.wordpress.com/2010/08/19/riwayat-hadits-palsu-tentang-ahlulbayt/

    • Agustus 20, 2010 pukul 5:35 pm

      terima kasih.
      FYI, blog saya berbeda dengan blog yang Anda maksud tidak ada sunat-sunatan itu. Saya hanya akan menerima komentar-komentar yang ilmiah, santun, dan fokus pada pembahasan.

      Saya sambut baik tulisan haniifa tersebut walaupun saya kecewa karena ada hal-hal yang tak ada hubungannya dengan tema diskusi, tetapi ia tampilkan semata-mata untuk meluapkan kebenciannya terhadap mazhab tertentu. Saya pikir itu bukanlah sikap yang baik. Apa yang saya tulis bukan untuk mengatasnamakan Syi’ah, melainkan ini hanya pemikiran pribadi. Salah, menurut saya, jika kemudian tulisan yang dikritik oleh haniifa adalah tulisan saya, tetapi ia malah menulis:

      Dasar Agama syi’ah selalu sesat dan menyesatkan, apakah menurut sampean Istri Nabi Muhammad s.a.w melahirkan Nabi Ishaq a.s dan Nabi Yaqub a.s.

      Baiklah, saya akan coba menanggapi tulisan haniifa. Ingat, saya mengkritisi tulisan haniifa, bukan mazhab atau agama yang dianut oleh haniifa. Karena bisa dimungkinkan haniifa sendiri salah memahami mazhab atau agamanya itu.

      Tulisan beliau emang ada yang ilmiah, tetapi ada kesalahan berpikir yang ia alami dan kesalahan berpikir ini sering dialami oleh orang banyak tanpa disadarinya. Oleh karena itu, izinkanlah saya disini menyadarkan akan kesalahan berpikir beliau sebagai bentuk وتواصو بالحق وتواصو بالصب

      Tanggapan saya singkat saja, tak perlu panjang2 dan melebar kemana-mana.

      Memang ada metode menafsirkan ayat dengan ayat Al-Qur’an, tetapi hal itu tidak bisa dilakukan dengan gegabah meskipun keduanya menggunakan kata atau ungkapan yang sama. Masing-masing ayat memiliki tafsir dan maknanya sendiri-sendiri. Sebagai contoh, surat al-A’raf ayat 206, kata “Rabb” pada ayat ini bermakna Tuhan: “Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi Tuhanmu (‘inda Rabbika) tidaklah merasa enggan menyembah-Nya.” Namun pada surat Yusuf ayat 42, kata “Rabb” pada ayat ini bermakna tuan/majikan: “Dan Yusuf berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat di antara mereka berdua: ‘Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu (‘inda Rabbika)’.”

      Demikian pula dengan kata “auhaina” yang dulu pernah saya dialogkan dengan haniifa. kata “auhaina” dalam surat an-Nisa ayat 163 dan surat al-qashash ayat 7 berbeda. Nanti kalau sama, dikira bukan agama Islam lagi. hehehe…:D

      Uniknya, haniifa juga mengutipkan riwayat shahih muslim mengenai perkataan Zaid tentang siapa Ahlulbayt itu. Nampaknya beliau ingin mengkonfrontasikan riwayat yang saya kutip pada tulisan diatas dengan riwayat perkataan Zaid sebagai berikut:

      Riwayat perkataan Zaid tentang Siapa Ahlulbayt

      Shahih Muslim (IV/1873; 2408) meriwayatkan dari Hushain, dia berkata kepada Zaid ibn al-Arqam:

      «وَمَنْ أْهْلُ بَيْتِهِ يَا زَيْدٌ؟ أَلَيْسَ نِسَاؤُهُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ؟». قَالَ: «إِنَّ نِسَاءَهُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ. وَلَكِنَّ أَهْلَ بَيْتِهِ مَنْ حُرِمَ الصَّدَقَةُ بَعْدَهُ». قَالَ: «وَمَنْ هُمْ؟». قَالَ: «هُمْ آلُ عَلِيٍّ، وَآلُ عَقِيْلٍ، وَآلُ جَعْفَرٍ، وَآلُ عَبَّاسٍ». قَالَ: «أَكُلُّ هَؤُلاَءِ حُرِمَ الصَّدَقَةُ؟». قَالَ: «نَعَمْ»

      “Siapakah Ahlul bait-nya wahai Zaid? Bukankah istri-istri beliau adalah ahlul baitnya? Dia berkata: “Sesungguhnya istri-istri beliau adalah termasuk ahlul bait beliau. Akan tetapi ahlul bait beliau adalah mereka yang diharamkan memakan sedekah setelah beliau.” Dia berkata: “Siapakah mereka?” Dia menjawab: “Mereka adalah Keluarga Ali, Keluarga ‘Aqil, keluarga Ja’far, dan keluarga ‘Abbas.” Dia berkata: “Apakah setiap mereka diharamkan dari harta sedekah?” Dia menjawab: “Ya.”

      Saya ingin menunjukkan keunikannya, jika tidak ingin disebut keanehan.

      Jawaban Zaid tersebut berasal dari ra’yu (pendapat)-nya sendiri, bukan berasal dari Nabi saww. Dan telah dibuktikan di atas dari sabda Nabi saww sendiri bahwa nisbat surat 33 ayat 33 tentang Ahlul Bait Nabi saww hanyalah Ali, Fatimah, Hasan dan Husein as:

      Dalam Sunan Tirmidzi hadis no 3205 dalam Shahih Sunan Tirmidzi Syaikh Al Albani

      عن عمر بن أبي سلمة ربيب النبي صلى الله عليه و سلم قال لما نزلت هذه الآية على النبي صلى الله عليه و سلم { إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا } في بيت أم سلمة فدعا فاطمة و حسنا و حسينا فجللهم بكساء و علي خلف ظهره فجللهم بكساء ثم قال اللهم هؤلاء أهل بيتي فأذهب عنهم الرجس وطهرهم تطهيرا قالت أم سلمة وأنا معهم يا نبي الله ؟ قال أنت على مكانك وأنت على خير

      Dari Umar bin Abi Salamah, anak tiri Nabi SAW yang berkata “Ayat ini turun kepada Nabi SAW {Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya.} di rumah Ummu Salamah, kemudian Nabi SAW memanggil Fatimah, Hasan dan Husain dan menutup Mereka dengan kain dan Ali berada di belakang Nabi SAW, Beliau juga menutupinya dengan kain. Kemudian Beliau SAW berkata “ Ya Allah Merekalah Ahlul BaitKu maka hilangkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah Mereka sesuci-sucinya. Ummu Salamah berkata “Apakah Aku bersama Mereka, Ya Nabi Allah?. Beliau berkata “Kamu tetap pada kedudukanmu sendiri dan kamu dalam kebaikan”.

      Dari riwayat Zaid yang dikutip haniifa dalam tulisannya, justru menyatakan bahwa Ahlul Bait Nabi saww yang dimaksud dalam hadits tsaqalain itu tidak mencakup isteri-isteri Nabi saww. Sungguh aneh jika pada awal tulisan haniifa berjuang mati-matian untuk membawa para pembaca mengambil sebuah kesimpulan bahwa ahlulbait dalam surat al-ahzab ayat 33 itu turun kepada perempuan/istri2 Nabi, tetapi diakhir tulisan ia justru mengutipkan riwayat yang membantah tulisannya yang awal bahwa Ahlulbayt ialah Keluarga Ali, Keluarga ‘Aqil, keluarga Ja’far, dan keluarga ‘Abbas yang mana setiap mereka diharamkan dari harta sedekah. Sungguh kontradiksi yang nyata. Dalam logika aristotelian, itu bukan kebenaran.

      Hal ini semakin terlihat jelas pada hadits setelahnya, dimana Zaid dengan tegas menyatakan bahwa isteri-isteri Nabi saww tidak termasuk dalam pengertian Ahlul Bait Nabi saww, tepat dibawah hadits yang haniifa kutipkan. Tetapi sayang haniifa tidak mengutipkannya untuk kita semua.

      فقلنا من أهل بيته ؟ نساؤه ؟ قال لا وايم الله إن المرأة تكون مع الرجل العصر من الدهر ثم يطلقها فترجع إلى أبيها وقومها أهل بيته أصله وعصبته الذين حرموا الصدقة بعده

      “Kami berkata “Siapa Ahlul Bait? Apakah istri-istri Nabi? . Kemudian Zaid menjawab ” Tidak, Demi Allah seorang wanita(istri) hidup dengan suaminya dalam masa tertentu jika suaminya menceraikannya dia akan kembali ke orang tua dan kaumnya. Ahlul Bait Nabi adalah keturunannya yang diharamkan untuk menerima sedekah”.

  2. Ridwankara
    November 1, 2010 pukul 4:36 pm

    Assalamu’alaikum, ini cerita klasik yang menarik sering saya hindari terbuka, cukup baik untuk merangsang alur pikir dan pengenalan arah kesejatian diri. Berbeda dengan mereka yang terkategori telah terangsang yakni bukan pada tahapan penelusuran siapa “ahlul bayt” itu tapi apa yang dapat diteruskan dari semua sikap n langkah terbaik dari ketauladanan keluarga dan sahabat Nabi Suci SAW. Termakasih bung ressay, selamat berjuang, billahi fi sabilil haq, wassalam

    • November 1, 2010 pukul 7:22 pm

      salam kenal…

  3. army alghifari
    Februari 26, 2011 pukul 4:13 am

    Ternyata saya terdampar disini. Ba’da nge-DM antum, ternyata antum sudah pernah bahas disini ya. Good job. Innallaha ma’ana.

    • Februari 26, 2011 pukul 3:19 pm

      iya, saya sudah bahas persoalan siapa Ahlulbayt itu. Memang ada pengertian secara bahasa, dan ada pengertian maknawi dan kontekstual.

      seperti ijtihad secara bahasa artinya bersungguh-sungguh. Tetapi bukan berarti semua orang yang bersungguh-sungguh kita sebut sebagai mujtahid.

  4. ismit ulam raja
    Oktober 22, 2011 pukul 4:15 am

    tuan mentafsir tanpa menyebut kitab tafsir, ini sifat shiah yang suka mencipta tafsir mengikut hawa nafsu . tafsir tuan tiada dalam tafsir muktabar. TAnpa rujukan muktabar sesat namanya.

  5. taswin
    November 27, 2011 pukul 3:39 pm

    orang jaman sekarang lucu,selalu meribut hal2 yang mereka tidak tau kebenaran akan hal yang di ributkanx,hanya berpatokan pada hasil dan buah pemikiran sang penulis itu sendiri.satu hal yang harus kita ingat wajah kita tak sama,jadi cara pandang dan berfikir kita berbeda,perbedaan itu adalah dinamaki hidup.mengapa kita masih saja meributkan tentang siapakah yang di maksudkan dengan ayat(QS Al Ahzab 33),hanya ALLAH dan rasulnya yang tau pada siapa kata itu di tujukan.tapi itu tidaklah logis jika diributkan,coba kita ingat atau baca sejarah peristiwa karbala adakah imam huzain dan keluarga membawah nama syi’ah atau sunni,pada saat dia di boikot.dan dia berjuang bukan untuk syi’ah ataupun sunni,tapi dia memperjuangkan ajaran RASULULLAH S A W yang telah diajarkan secara lansung kepada mereka,dan memperjuangkan akan kesucian atau keaslian isi ALQUR’AN,dan Agama ALLAh S W T.

  6. Mei 2, 2012 pukul 1:51 am

    ALLAHHUMA SALI ALA MUHAMMAD WA ALI MUHAMMAD

  7. Lights
    September 7, 2012 pukul 12:34 am

    Ia adalah Imam Mahdi.

  8. Agustus 6, 2015 pukul 4:08 am

    kita juga menggunak kum, untuk salam ke banyak orang.

  9. sa
    November 23, 2015 pukul 6:54 am

    “Ahlul bait” , yaitu keluarga rumah tangga Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. semuanya, anak,cucu,menantu,istri, di mana Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menjadi kepala rumah tangga utamanya.

    anda orang syiah cuma cari2 alasan saja supaya mengelak bahwa siti ‘Aisyah radhiallahuanha termasuk ahli bait dalam hal ini.

    dengan anda menghina siti ‘Aisyah radhiallahuanha anda telah melukai rasulullah shallallahu’alaihi wsallam.

    COBA PIKIR KALAU PUNYA AKAL,,,

    • April 30, 2016 pukul 4:03 pm

      Saya bukan orang syiah dan saya tidak membenci sayyidah Aisyah.

Comment pages
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: