Bicara soal handphone, maka saat ini ia bukan termasuk barang mewah yang hanya dapat dinikmati oleh sebagian kecil kalangan. Sekarang, hampir setiap orang memiliki handphone, baik dengan teknologi seadanya sampai handphone dengan teknologi super canggih.

Berbeda dengan zaman aku SMA dulu atau mungkin zaman SMP ku. Paling banter hanya 1 orang saja dari satu sekolahan yang memiliki handphone itu pun dengan tarif yang masih sangat mahal.

Tetapi sekarang, dengan handphone berteknologi gprs, Anda sudah dapat terhubung dengan banyak orang melalui koneksi internet dengan tarif yang sangat murah. Apalagi jika handphone yang Anda miliki telah dilengkapi teknologi musik, semakin multifungsi saja handphone yang Anda miliki.

Saya jadi ingin berbagi cerita soal handphone-handphone pribadiku yang pernah aku miliki sampai saat ini.

Motorola T190

For your information, aku baru diperkenankan memiliki handphone saat duduk dibangku SMA. Itupun karena aku harus meninggalkan kampung halaman untuk menuntut ilmu di Bandung. Ya, SMA ku di bandung, tepatnya SMA Plus Muthahhari Bandung. Untuk memperlancar komunikasiku dengan orang tua, maka aku dibelikan handphone.

Inilah handphone pertamaku, Motorola T190.

Handphone ini masih berwarna hitam putih. Fasilitasnya hanya sms, telphone, dan beberapa fitur-fitur sederhana seperti kalkulator, alarm, ringtone. Masih sangat standar fasilitasnya.

Banyak memori indah yang ditinggalkan dari handphone ini. Selain karena ini adalah handphone pertamaku, juga karena dengan handphone ini, aku bisa menghubungi beberapa teman-teman chatingku yang salah satunya menjadi wanita spesial dihati saat itu. Ya…dulu aku maniak chating. Aku kenal dengan banyak orang hingga akhirnya aku ketemu dengan satu wanita yang aku memiliki perasaan khusus dengannya. Hingga akhirnya kami mengalami masalah dan saking kesalnya aku lempar handphone itu ke dinding dan patahlah antena handphone tersebut.

Seingatku, saat itu aku masih duduk di bangku kelas 1 SMA dan aku masih tinggal di asrama.

Nokia 2100

Beranjak kelas 2 SMA, kalau tidak salah, aku dibelikan handphone baru menggantikan handphone T190 (dibaca: TIGO). Saat ibuku datang ke bandung, beliau mengajakku untuk melihat-lihat berbagai macam handphone. Dengan budget yang tidak terlalu banyak, saat itu, aku memutuskan untuk membeli Nokia 2100.

Mungkin Anda bertanya-tanya mengapa aku selalu memilih handphone yang kecil bentuknya? Aku orangnya tidak ingin repot membawa sesuatu. Aku ingin yang simple-simple saja. Handphone pun sebisa mungkin aku pilih yang kecil bentuknya, mudah untuk digenggam dikantongin dalam saku.

Fasilitas handphone ini tidak terlalu berbeda jauh dengan handphoneku sebelum ini. Hanya saja, aku tertarik dengan adanya tempat foto yang ada di bagian belakang handphone.

Seingatku…handphone inilah yang membantuku untuk menjalin komunikasi dengan salah seorang wanita yang sampai saat ini telah menjalin hubungan denganku selama hampir 7 tahun.

Jadi, ceritanya, saat kelas 2 SMA aku jomblo, sebutan bagi orang yang tak memiliki pasangan. Kemudian aku meminta kepada salah seorang teman untuk mencarikan aku pacar hingga akhirnya ia menawarkan satu orang wanita. Segera saja aku minta nomor handphone dia yang ternyata itu sebetulnya nomor handphone ibunya. Dengan handphone ini, aku terus berkomunikasi dengan wanita itu walaupun kadang ibunya yang membalas. Ya iyalah, kan itu handphone ibunya.

Akhir cerita, aku beranikan diri untuk menyatakan cinta pada wanita itu. Tanpa disangka, ia menerima ajakan cinta monyetku saat itu. Jujur, saat itu aku berpikiran, “Ah pacaran ini paling cuman 3 bulan doank. Buat senang-senang saja.” Tetapi kehendak manusia terbatas, hingga akhirnya hubungan itu sampai berjalan hampir 7 tahun, walaupun sekarang kandas sih. Hiks…hiks…

Lalu apakah handphone ini masih ada? Tidak…Nokia 2100 ku ini sudah rusak dan sekarang entah dimana. Aku pun lupa lagi apa penyebab rusaknya.

Siemens M55

Merasa iri dengan teman satu sekolah yang sudah punya handphone berwarna dan berkamera, aku iseng beli Siemens M55. Ya walaupun jika dibandingkan dengan handphone teman-temanku, masih kalah jauh. Kebanyakan teman-temanku saat itu memiliki handphone Nokia 3530, 6600, dll.

Siemens M55 ini sering disebut orang sebagai handphone scorpio. Bagian belakang dari handphone ini bermotif mirip seperti scorpio.

Ada beberapa hal yang aku suka dari handphone ini. Handphone ini berbentuk mungil tapi gagah. Selain gambarnya sudah berwarna, juga ada dua lampu disamping kanan kirinya sebagai tanda adanya reaksi dari fungsi handphone tersebut. Jadi jika ada telpon masuk, lampu tersebut nyala. Jika ada sms masuk, nyala lampu tersebut berbeda dengan nyala lampu saat ada telpon masuk. Semua itu bisa diatur dalam pengaturan handphonenya.

Handphone ini terbilang handphone yang paling lama aku miliki. Seingatku, sampai kuliah semester 4, aku masih memegang handphone ini.

Jika teman-teman kuliah handphonenya sudah banyak yang memiliki fasilitas GPRS, M55 ku baru sebatas WAP.  Tetapi lumayanlah setidaknya bisa buka internet dari HP walaupun lambreta alias lambat.

Sama dengan handphone T190, M55 ku ini rusak juga karena aku banting. Dengan masalah yang sama. Tempramen banget yah? hehehehe…ya begitulah…

Sony Ericsson K610i

Karena M55 ku rusak, aku dibelikan handphone Sony Ericsson K610i. Bisa dibilang, aku begitu bahagia saat dibelikan K610i. Betapa tidak, fasilitas 3G sudah dibandrolnya. Kamera pun memiliki kekuatan 2 Megapixel. Apalagi warna merahnya, bikin gak tahan pingin pamerin ke orang-orang. hehehehe…

Saat itu masih gencar-gencarnya iklan telpon dengan menggunakan 3G. Itulah salah satu motivasi aku membeli K610i. Tapi saat sudah terbeli, bingung juga mau telpon siapa. Tidak banyak orang yang menggunakan fasilitas ini karena memang saat itu masih baru sekali promosi 3G. Pacar pun tidak memiliki handphone yang support 3G.

Esia

Karena tuntutan LDR (Long Distance Relationship), aku harus punya handphone yang menawarkan tarif telpon murah, yang saat itu diusung oleh Esia. Handphone termurah yang pernah aku miliki. Pacarku pun disana membeli handphone dengan merk yang sama. Sehingga komunikasi yang terjalin lebih intens karena dukungan telpon murah.

Nokia 5300 Black.

For your information, aku dulu sempat kerja di Warnet. Dan dari pekerjaan itu, aku setidaknya bisa mengumpulkan uang tiap bulannya 500ribu. Itu didapatkan dengan menggabungkan uang hasil kerja di warnet dengan uang hasil tabungan.  Karena pacarku saat itu handphonenya belum canggih, aku kepikiran untuk membelikan dia handphone. Saat itu uangnya masih kurang beberapa ratus ribu hingga akhirnya kami putuskan untuk menjual handphone Esia kami masing-masing.

Alhamdulillah terbelilah Nokia 5300 Black.

Handphone berbentuk slide ini memiliki kelebihan di fitur musiknya. Karena saat itu aku berpikir pacarku doyan dengerin musik, aku belikan saja 5300 black ini. Tetapi handphone ini tidak bertahan lama, karena beberapa bulan kemudian aku berpikir mengapa tidak aku belikan saja handphone yang punya fitur 3G sehingga handphone 3G ku tidak mubadzir.

Dengan tekad bulat, aku jual Nokia 5300 ini dan aku belikan K610i dengan warna silver untuk pacarku. Dan ini pun dengan uang sendiri. Uh…bahagianya…

Setelah pacarku punya handphone K610i, barulah kami berdua dapat berkomunikasi dengan menggunakan layanan 3G. Aku bisa lihat wajah dia saat menelpon, begitu juga dia. Rasa kangen yang teramat sangat terobati dalam sekejap.

Uh…panjang banget ceritanya yah…jadi capek pingin nulis lagi. Aku akhiri aja deh…

Akhir cerita, ada dua lagi handphone yang pernah aku miliki, yaitu Handphone Telkomsel Bundle Promo yang bermerk Tiphone dan Handphone Sony Ericsson W950i.

Untuk yang dua ini aku males ceritanya karena yang ada cerita menyedihkan…

Terakhir dari yang paling akhir, aku saat ini masih menggunakan Handphone Sony Ericsson K610i, tapi dari lubuk hati yang paling dalam, aku ingin beli handphone Sony Ericsson P1i. Sumpah…