Beranda > Tulisan Orang > Sudarsono; Abu Dzar dari Jember

Sudarsono; Abu Dzar dari Jember

Namanya biasa dan singkat, Sudarsono. Usianya juga sudah tegolong “veteran”. Tapi jiwanya bak singa. otaknya cerdas. Kemampuan retorika dan orasinya, terutama saat memimpin demo anti korupsi atau anti Zionisme atau saat melakukan advokasi dalam ruang pengadilan, benar-benar istimewa karena berpadu dengan power suaranya yang menggelegar.

Hampir seluruh pejabat teras dan wartawan serta aktivis di kota Jember mengenalnya. Dialah aktivis antikorupsi yang menolak tawaran 70 juta dari oknum pejabat Pemda Jember demi mengurungkan niatnya untuk membeberkan kasus korupsi.

Sang Abu Dzar dari Jember sedang berorasi. Polisinya mingkem kayak curut...

Ketua sebuah LSM yang mengawasi Pemda Jember ini memang dikenal berani dan pantang suap. Karena itulah, mantan bupati, walikota dan beberapa pejabat amat geram terhadapnya. Ia menjadi ‘musuh bersama’.

Saat pertama menabuh genderang anti korupsi dan penyalahgunaan wewenang, banyak aktivis yang mendukungnya, hingga berhasil menjebloskan sejumlah koruptor ke hotel Prodeo. Tapi saat dia diserbu oleh para koruptor yang melakukan segala jenis rekayas untuk menghentikan langkah-langkahnya, Darsono ditinggalkan. Rakyat kecil, para buruh perkebunan tembakau dan kopi yang telah merasakan manfaat dari advokasinya tentu tidak bisa berbuat apa-apa.

Rakyat Jember Mengantar Sudarsono Sang Pembela Mereka... KEADILAN TELAH DIINJAK-INJAK!

Mantan wartawan koran lokal Surya dan Duta Masyarakat ini pun harus rela menghadapi kenyataan buram. Memanggul idealisme di tengah belantara materialisme sungguh berisiko tinggi. Penegakan hukum tidak mesti menciptakan tegaknya keadilan. Jebolan SMA 1 Jember dan fakultas filsafat UGM ini harus menuai hasil perjuangannya. Pengadilan menjatuhkan vonis penjara atas pidana
pencemaran nama baik.

Ternyata Darsono punya banyak keistimewaan yang baru saya ketahui dari seorang teman. Aktivis yang miskin bin kere ini punya sekolah rakyat di sebuah dusun yang menampung anak-anak miskin dan terlantar.

Ini foto Rakyat Jember Saat Melepas Sudarsono di Kejaksaan Negeri Jember untuk kemudian DIPENJARA

Meski menanggung banyak derita termasuk merawat adiknya yang ‘menunggu waktu’ di rumahnya dan merawat istri yang punya penyakit ginjal, Darsono tidak pernah menerima tawaran uang suap dari para pejabat lokal Jember.

Beberapa bulan lalu Kejaksaan Negeri Jember mengambangkan status hukumnya, meski Darsono siap menjalani hukuman penjara sebagai konsekuensi sikapnya yang anti korupsi seraya memberinya kesempatan untuk melakukan PK ke MA. Malah Kejaksaan sempat memberi janji tidak akan mengeluarkan surat penahanan seraya bersumpah dengan jabatannya sebagai taruhannya. Belum sempat melakukan PK, Kejari Jember ingkar janji. Ia mendapatkan surat penjemputan paksa untuk menjalani eksekusi penjara tiga bulan.

Apabila ada hati yang tergerak dan punya sedikit uang untuk disumbangkan (dan percaya pada saya sebagai penyalur), mohon disampaikan dalam blog ini.Mohon maaf atas gangguan ini. Kepada yang tidak mampu memberikan sumbangan material, dimohon memberikan sumbangan spiritual berupa doa.

Anak-anak yatim-miskin yang dibiayai Sudarsono menangis histeris saat mengantar Sudarsono Ke Kejaksaan utk Dibui. Mereka terancam kelaparan!

Tapi, bagi teman-teman seperjuangannya, vonis penjara atas tuduhan pencemarannama baik pejabat yang korup hanyalah akan menambah panjang daftar prestasi dan karir perjuangannya sebagai pecinta keadilan. Itu menjadi pendar kebanggaan bagi putrinya yang terpilih sebagai pemenang lomba baca puisi se Jatim. Darsono, bagi kita, teman-temannya di Jember, Lumajang, Malang dan lainnya, adalah makin mulia. Dialah salah satu dari sedikit rekan yang membumikan ajaran suci Nabi dan keluarga dalam format yang membumi dan konkret, bukan sekadar wacana dan ritus.

Baginya, penjara tentu bukanlah sesuatu yang menakutkan. Ia mengungkapkan itu seraya mengutip perkataan Nabi Yusuf “Penjara lebih aku sukai” dalam surah Yusuf. Saat ia melaoprkan kasusnya ke Komnas HAM dan YLBHI, maka itu karena desakan teman-temannya, dan ia melakukannya demi alasan memanfaatkan ruang perlawanan yang masih tersedia, sebelum hilang sama sekali.

Dia mungkin bisa dijuluki “Abu Zar dari Jember”. Mari kita dukung dengan cara kita masing-masing. Join dalam grup facebook BEBASKAN SUDARSONO PEGIAT ANTI-KORUPTOR (IBW)

Sumber: http://www.facebook.com/group.php?gid=275873704634

BALADA SUDARSONO

Foto anak-istri Sudarsono Saat Melepas Sang Ayah Di Kejaksaan Negeri Jember

Sudarsono mungkin nama terakhir yang ingin didengar banyak pejabat di negeri ini. Aslinya dia orang Jember, Jawa Timur. Orang biasa. Usia malah sudah sepuh. Tapi catatan hidupnya dalam sepuluh tahun terakhir seperti menghidupkan kembali dua pribadi sekaligus: Mochtar Lubis dan Munir. Tapi yang paling menakutkan mungkin ada di bagian ini: dia membawa harapan dan contoh kalau orang kecil bisa berpolitik, bisa punya suara. Dan dengan sedikit keberanian, semua itu bisa menguncang kegelapan yang paling pekat sekalipun.

Pada 2002, bekas wartawan di sebuah koran kecil di Jember ini menjadi pionir dalam “sweeping” atas pemakaian kendaraan dinas pemerintah daerah di luar jam kantor. Pada suatu Sabtu dan Minggu di tahun itu, dia berkeliling kota mencari mobil pemerintah yang dipakai untuk keperluan pribadi. Dia datang ke parkiran toko minimarket, ke pasar, ke pusat perbelanjaan. Dia mencacat nomer kendaraan, siapa supirnya dan untuk keperluan apa mereka ada di tempat publik.

Tapi itu baru separuh cerita. Di setiap kendaraan dinas yang dia dapati, dia menempel sebuah stiker besar. Radar Jember, koran terbesar di daerahnya, bahkan memasangnya sebagai foto headline keesokan harinya:

“Ingat! Kendaraan ini dibeli dengan uang rakyat. Tidak untuk kepentingan pribadi.”

“Pesan moral ini disampaikan oleh Indonesian Birocration Watch demi tegaknya pemerintahan yang bersih dan berwibawa. ”

IBW adalah organisasi lokal di Jember. Sudarsono, bersama belasan aktivis lainnya di Jember, mendirikannya di tahun yang sama untuk apa yang dia sebut sebagai sebagai “kontrol atas kekuasaan kepala daerah yang nyaris absolut”.

Dan cerita selebihnya adalah sejarah. Radar Jember belakangan menobatkan dia sebagai Man of The Year 2008. Setahun itu, dia sukses membawa beberapa kasus korupsi ke ranah publik. Daftarnya cukup panjang: dugaan korupsi eks gedung BHS senilai Rp 5 milliar, kasus sekoci Rp 1 milliar, kasus korupsi Dinsos soal Losisi Puger, dan kasus pembangunan Al Qodiri, kasus pemalsuan surat kenaikan pangkat di Dinas Tenaga Kerja, Plesterisasi, korupsi Best FM, dan kasus korupsi dana operasional DPRD.

Tapi kini Darsono sepertinya harus membayar mahal semua keberaniannya. Beberapa hari yang lewat, sebuah surat sampai ke rumahnya. Dari Kejaksaan Jember; Darsono harus menjalani hukuman tiga bulan penjara untuk sebuah kasus lama.

Pada tahun 2002, seorang pejabat merasa telah dinistakan namanya karena aksi sweeping mobil dinas ala Sudarsono itu. Si pejabat kemudian membawa kasus itu ke pengadilan dan, ironisnya, menang. Di persidangan, Sudarsono dinyatakan terbukti “telah melakukan penistaan nama baik” dan karena itu harus mendekam tiga bulan di penjara.

Sudarsono kini ada di Jakarta. Dia mencari keadilan. Dia telah mengadu ke LBH. Dia juga berencana mengadu ke KOMNAS HAM. Ini mungkin harapan terakhirnya.
AH (Milis Jurnalisme)
Darsono bisa dihubungi di nomor ini: +6281249195499 dan 087880447069. (AH)

sumber: detik.com

  1. sudarsono
    Maret 6, 2010 pukul 6:08 am

    dulurrr lekkk,,,,aq pengemar andaaaaaaaa

  2. sudarsono
    Maret 6, 2010 pukul 6:12 am

    aq adalah pengemar annnda,,tlong berikn jlan kluar hbis dri scool aq hrus kmna??

  3. sudarsono
    Maret 6, 2010 pukul 6:13 am

    sudarsono :
    aq adalah pengemar annnda,,tlong berikn jlan kluar hbis dri scool aq hrus kmna??

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: