Siang tadi capek betul setelah seharian kuliah dan menemani seorang kawan diskusi ngalor-ngidul. Nampaknya, capek ini pun semakin saja bertambah saat harus melihat hujanan intrupsi para peserta sidang paripurna DPR RI di televisi. Lelah juga jika harus melihat hujanan interupsi itu.

Tak lama kemudian kericuhan pun mulai muncul saat pimpinan sidang Marzuki Ali menutup sidang paripurna tersebut dengan tanpa mengindahkan interupsi yang masih saja terdengar.

Tampaknya, kearoganan seorang Marzuki Ali itulah yang menyebabkan munculnya kericuhan yang bahkan sempat mengarah pada tindakan kekerasan. Untuk aparat keamanan dan peserta sidang paripurna yang lain sigap mengamankan orang-orang yang dijadikan sasaran amukan.

Di luar gedung DPR pun massa yang tergabung dalam beberapa aliansi mulai marah dengan melempari batu. Bentrok fisik dengan polisi pun sempat akan terjadi. Untung saja, karena kedua belah pihak saling menahan diri untuk tidak bertindak di luar batas, maka bentrokan tersebut pun tak semakin melebar.

Bagiku, Marzuki Ali telah melakukan blunder yang sebetulnya tidak perlu. Sikapnya yang menutup sidang tanpa mengindahkan para peserta sidang yang masih saja melayangkan interupsi, terkesan arogan.

Banyak pihak menduga, Marzuki Ali bersikap arogan seperti itu adalah merupakan bagian dari skenario untuk terus menerus mengaburkan proses pengusutan kasus bank century ini.

Terlepas dari benar atau tidaknya dugaan tersebut, bagi saya, apa yang ditampilkan oleh Marzuki Ali tadi di sidang paripurna, bukanlah sikap seorang yang dewasa. Perlu bagi dia untuk menghargai interupsi yang diajukan. Adalah hak peserta sidang paripurna untuk menyampaikan pendapat.

Tak boleh seroang pimpinan sidang menuntup begitu saja sidang sedangkan arus interupsi masih saja terdengar. Rapat dapat dimulai dan diakhiri, dengan kesepakatan para peserta yang hadir.

Disamping itu, bukankah pimpinan sidang bukan hanya dia? Mengapa dia tidak konsultasi dengan pimpinan sidang yang lain dan lebih memilih untuk menutup sidang secara sepihak?

Entahlah, namun dari kejadian ini,  hanya membuat aku semakin benci saja dengan partai demokrat dan petinggi-petingginya.