Beberapa kali saya berdialog dengan teman-teman, terkadang muncul beberapa ungkapan atau argumen yang diselingi dengan kalimat-kalimat yang sebetulnya termasuk fallacy.

Terkadang ketika emosi sudah tak terkontrol lagi, kata-kata kasar, porno, menjatuhkan martabat dan kehormatan lawan diskusi, pun tak terelakkan diucapkan.

Berangkat dari pengalaman saya ketika martabat dan kehormatan saya dijatuhkan dalam diskusi tersebut, ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan disini.

Bahwa sering kali kita berdialog atau berdakwah dengan cara-cara yang tidak baik. Bisa jadi kita memang argumen kita sudah benar, tetapi cara penyampaian kita yang belum benar.

Allah dalam firman-Nya memerintahkan kita untuk berargumen dengan hikmah dan cara yang baik.

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. An-Nahl : 125)

Selain itu, Allah juga melarang kita menjelek-jelekkan suatu kaum dan memanggil mereka dengan panggilan buruk.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.(QS. Al-Hujarat : 11)

Perbedaan pendapat diantara umat Islam, tak perlu kita sikapi dengan sikap-sikap tercela. Masih banyak cara untuk mendialogkan semua perbedaan yang ada. Diperlukan kedewasaan berpikir dan bersikap disini.

Wallahu a’lam bishawab.