Beranda > Tanggapan, Tulisanku > Tanggapan atas Tulisan “Ressay (atau Syi’ah), (yang) Berdusta!?”

Tanggapan atas Tulisan “Ressay (atau Syi’ah), (yang) Berdusta!?”

Tulisan ini sengaja saya tulis untuk meluruskan kesalahan berpikir yang tengah mendera pemilik blog kerajaan agama. Semoga saja kesalahan berpikir yang beliau alami, bukan karena besarnya hawa nafsu beliau saat menulis tulisan itu. Ya Allah, aku berlindung dari orang-orang yang dipenuhi dari hawa nafsu saat belajar agama.

Saya tidak akan menanggapi komentar-komentarnya tentang riwayat hadits yang mengabarkan kepada kita bahwa Nabi pernah mencontohkan menambahkan kalimat syahadat:

Hadis riwayat Ubadah bin Shamit ra., ia berkata:

Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa mengucapkan: Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya dan bersaksi bahwaNabi Isa as. adalah hamba Allah dan anak hamba-Nya, serta kalimat-Nya yang dibacakan kepada Maryam dan dengan tiupan roh-Nya, bahwa surga itu benar dan bahwa neraka itu benar, maka Allah akan memasukkannya melalui pintu dari delapan pintu surga mana saja yang ia inginkan. (Ringkasan Shahih Muslim, No.41)

Karena ia sendiri masih “buta” apakah riwayat itu shahih atau tidak. Saya juga berasumsi, jangan-jangan beliau sendiri tidak tau apakah riwayat itu ada di dalam shahih muslim atau tidak karena saya masih ragu beliau memiliki kitab shahih muslim.

Dari riwayat hadits diatas, jelas sekali bahwa Nabi pernah mencontohkan bahwa ternyata beliau tidak hanya bersyahadat 2 kalimat saja, melainkan ada penambahan disana.

Yang ingin saya tanggapi adalah kritikan pemilik blog kerajaan agama tersebut soal persaksian dengan bunyi sebagai berikut:

Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya dan bersaksi bahwa Ali bin Abi Thalib adalah wali-Nya (atau tambahan yang lainnya, karena kata dia boleh tambah-tambahan sesuai selera kali, ya?)

Kemudian ia menantang saya:

Maka, Ressay BERDUSTA ATAS NAMA MUHAMMAD Shallallahu Alaihi wa Sallam!

Tolong Tunjukkan, hadits yang didalamnya Rasul-Nya juga mempersaksikan Ali bin Abi Thalib disamping Allah dan Rasul-Nya? Itu saja! Beres perkara! Kalau Rasul-Nya tidak pernah mencontohkan, maka Ressay berdusta, lawong Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak pernah ngomong begitu! Segala ucapan kita yang kita katakan itu bagian dari agama ini, harus ada contohnya diucapkan oleh Rasul!

Disinilah letak kesalahan berpikirnya. Ia menganggap bahwa seperti apapun persaksian kita walaupun persaksian kita itu merupakan suatu kebenaran, jika tidak pernah dicontohkan oleh Nabi, maka itu batil.

FYI, Inti dari tulisan saya mengenai syahadat 3 kalimat itu bahwa Nabi pernah mencontohkan kepada kita mempersaksikan sesuatu yang lain, yang mana hal itu tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam.

Mempersaksikan bahwa Isa itu adalah hamba Allah dan anak hamba-Nya, maka itu benar. Dan boleh saja kita bersaksi seperti itu. Tetapi jika kita bersaksi bahwa Isa itu adalah Tuhan, maka itu tidak benar, dan kita tidak boleh mempersaksikan itu.

Jangan-jangan saudara kita yang satu itu tidak memperbolehkan seseorang untuk bersaksi di muka pengadilan? Karena kita tidak boleh mempersaksikan sesuatu yang lain yang Nabi tidak pernah mencontohkannya? hehehe…lucu bukan? Teramat sangat lucu memang, begitulah pola pikir orang-orang yang cara berpikirnya belum diatur dengan benar.

Kita diperbolehkan mempersaksikan sesuatu yang lain, walaupun tidak pernah dicontohkan oleh Nabi, selama hal itu tidak bertentangan dengan kebenaran atau ajaran Islam sendiri.

Ketika kita menjadi saksi di muka pengadilan atas kasus perzinahan, itu boleh-boleh saja. Bukankah untuk kasus perzinahan diharuskan saksi 4 orang?

Persaksian itu tidak harus diungkapkan dalam kata formal, “Aku bersaksi…” Ketika kita memanggil seseorang dengan panggilan “ustadz”, maka sebetulnya kita telah bersaksi bahwa orang itu adalah ustadz, tanpa perlu kita berucap “Saya bersaksi bahwa orang itu adalah ustadz.”

Inti dari persaksian ialah sikap yang dipengaruhi oleh persaksian tersebut. Ada juga orang yang bersaksi bahwa Tiada Tuhan selain Allah, tetapi sikapnya tidak mencerminkan itu.

Lalu, apakah boleh bersaksi bahwa Ali adalah Wali Allah?

Tentu boleh, karena tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam.

Karena itu sesuai dengan surat Al-Maidah ayat 55:

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُواْ الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ

Sesungguhnya wali kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). (QS. Al-Maidah ayat 55)

Abu Ishaq ats-Tsa’labi dalam kitab tafsirnya meriwayatkan hadits dari Abu Dzar Al-Ghifari yang berkata: “Aku mengerjakan shalat bersama Rasulullah pada waktu Dzuhur, lalu ada seseorang pengemis di masjid meminta-minta dan tidak ada seorangpun yang memberi. Kemudian si pengemis itu mengangkat kedua tangannya ke langit sambil berdoa: “Ya Allah, saksikanlah aku meminta di masjid Muhammad Nabi Mu dan tidak ada seorang pun yang memberikan padaku sesuatu.” Saat itu Imam Ali sedang melaksanakan shalat dalam keadaan rukuk lalu beliau mengisyaratkan pada pengemis tersebut agar mengambil cincin yang ada di jari kelingking kanannya, sehingga pengemis itu mendekati Ali dan mengambil cincinnya. Kejadian itu disaksikan langsung oleh Rasul Saw. Kemudian beliau mengangkat tangannya ke langit seraya berdoa: “Ya Allah, Tuhan kami, mudahkanlah untukku urusanku dan lepaksakanlah kekakuan dari lidahku supaya mereka mengerti perkataanku dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, yaitu Harun saudaraku. Teguhkanlah dengan dia kekuatanku dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku.” (QS Thaha : 25-32). Lalu Engkau menurunkan Firman-Mu, “Kami akan kuatkan engkau dengan saudaramu dan Kami akan menjadikan untukm berdua kekuasaan dimana mereka tidak dapat sampai kepada kamu berdua.” Ya Allah, sesungguhnya aku Muhammad, Nabi Mu dan pilihan Mu, maka lapangkanlah untukku dadaku dan mudahkanlah untukku urusanku dan jadikanlah untukku pembantuku dari keluargaku, yaitu Ali serta teguhkanlah dengan dia kekuatanku.” Abu Dzar berkata: “Belum selesai Rasul Saw berdoa, sehingga Jibril turun atas perintah Allah untuk membawakan satu ayat pada Rasul seraya berkata: “Wahai Muhammad, bacalah ‘Sesungguhnya pemimpin kamu adalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat seraya mereka tunduk kepada Allah (dalam keadaan ruku’).”

Banyak kalangan ahli tafsir yang menyampaikan riwayat berkenaan dengan kejadian tersebut, diantara mereka Ath-Thabari dalam kitab tafsirnya, juz 6, halaman 165 dari jalur Ibnu Abbas, Utbah bin Abi Hakim serta Mujahid. Ar-Razi pun menyebutnya dalam kitab tafsirnya, juz 3, halaman 431, dari ‘Atha’ dari Abdullah bin Salam, dan Ibnu Abbas dan juga hadits Abu Dzar diatas, dll.

Allamah Dr Muhammad Tahir ul Qadri al-Hanafi dlm buku beliau mengenai hadis2 keutamaan Imam Ali [as] ‘Kanzul Muttalib fee Fadail Manaqib Ali ibn Abi Talib’ mencatatkan ini pada hlm 62:

”Imran bin Husain meriwayatkan bahawa Nabi saaw bersabda, ‘Sesungguhnya Ali dariku dan aku dari Ali. Ali adalah wali setiap mukmin sesudahku’..

[Sahih al-Tirmidhi, jilid 5, hlm 236, al Sahih Ibn Habban jilid 1 hlm 383, Mustadrak al Hakim , jilid 3, hlm 119, Sunan al Nasai jilid 5 hlm 132, Ibn Abi Shaiba jilid 6 hlm 383 Musnad Abu Yala jilid 1 hlm 293]”

Jadi, apa yang ditulis oleh pemilik blog kerajaan agama tersebut tidaklah benar dan hanya mengada-ada. Semoga tulisan itu ia buat bukan untuk mendeskriditkan saya, tetapi hanya ingin menyampaikan pendapatnya saja.

Semoga Allah memberikan kita petunjuk-Nya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

———–

KLARIFIKASI:

Tulisan yang saya kritik dalam tulisan ini adalah tulisan dari اسوب سوبرييادي yang dipostingkan di weblog Kerajaan Agama.

  1. Agustus 27, 2010 pukul 3:11 am

    @ mas resse
    rupanya anda yang tidak bisa memahami dengan baik.Masalah Syahadat yang dipermasalahkan adalah ketika seseorang dengannya masuk kedalam Islam,dan ini adalah merupakan satu ibadah yang agung bahkan pokok dari ibadah dan asas agama ini,sehingga harus Ittiba’ terhadap Rasulullah,seperti halnya lafadz-lafadz dalam adzan,bolehkah ditambahi dengan kalimat lain?Hal ini berbeda ketika seseorang bersaksi di pengadilan,yang mana hal ini asalnya adalah masalah mu’amalah,menjadi ibadah ketika diniatkan untuk itu dan itupun harus tetap memperhatikan rambu rambu yang telah ditetapkan oleh Rasulullah.Dan dalam masalah ibadah yang ditetapkan Syariat kita harus mencontoh Rasul baik dari segi pengamalannya,waktunya,bentuknya,tata caranya maupun jenisnya.misalnya: membaca Al qur’an,ini ibadah yang agung,tetapi melakukannya dengan mengkhususkan pada hari tertentu setelah kematian fulan sekian hari,maka ini tidak boleh,membaca Al fatihah dalam sholat lalu menambahnya dengan kalimat lain walaupun itu haq apakah boleh?Demikian pula Asy _Shahadah yang jadi perbincangan disini.Jadi jangan melebar kepada persaksian di pengadilan dan sebagainya dong…Kalau melebar seperti itu nanti baca Syahadatnya bisa disambung dengan:…dan saya bersaksi bahwa Daud ayah Sulaiman,Bilqis masuk Islam setelah bertemu Suliman,dan Musa Nabimu,Fir’aun musuhmu,Iblis itu terlaknat dicipta dari api……dan saya bersaksi bahwa WC tempat buang hajat/BEOL(Nggak bertentangan dengan kebenaran to?,berarti boleh dong.)

    • Agustus 27, 2010 pukul 3:57 pm

      Justru Anda sendiri yang tak paham dengan tulisan saya. Pahami dulu tulisan saya, baru Anda berceloteh disini.

      • orang awam
        Desember 8, 2010 pukul 4:27 pm

        mungkin mas ressay kebanyakan nonton film “preman in love”

  2. Joy
    Agustus 27, 2010 pukul 7:02 am

    justru penulis blog kerajaanagama itu yang dusta, syahadat syiah sama aja dengan syahadat sunni yaitu Aku bersaksi tiada Tuhan Selain Allah dan Muhammad [SAAW] adalah Utusannya. penulis itu kagak ngerti apa yang lagi diomongin, jelas-jelas siapapun orang islam bisa saja bersaksi atas kebenaran hal-hal lain misalnya nih. Saya bersaksi kalau Allah SWT adalah Maha Besar, Saya bersaksi kalau Allah SWT yang menurunkan Al Qur’an kepada manusia, Saya bersaksi bahwa Ibrahim adalah Nabi Allah SWT yang mulia, saya bersaksi Ali adalah Wali Allah atau persaksian yang lainnya. Sejak kapan persaksian seperti ini dilarang, sejak muncul dustanya penulis blog kerajaanagama itu kali ya:mrgreen:

    • Agustus 27, 2010 pukul 4:00 pm

      betul sekali. itulah maksud dari tulisan saya.

      • orang awam
        Desember 8, 2010 pukul 4:29 pm

        tapi itu bukan syahadat kan mas????

        • Desember 9, 2010 pukul 11:24 am

          apa definisi syahadat?

    • GALANG
      September 2, 2010 pukul 7:32 am

      Boleh saja, tetapi rasulallahnya hanya Muhammad saja yg menerima wahyu tdk ada selainh beliau

  3. Joy
    Agustus 27, 2010 pukul 7:53 am

    sodara Ressay kayaknya sampean top banget di tunggu-tunggu mereka di blog kerajaanagama. Saya dah komen disana, ehhh tahunya saya dikira sampean. ke ke ke mereka udah rindu banget kakaleee sama sampeaan, sampai-sampai saya Joy dikira Ressay😆

    • Agustus 27, 2010 pukul 3:59 pm

      saya males berdialog disana….

  4. Agustus 29, 2010 pukul 2:59 am

    @resse
    Jawaban klise…

  5. wawan
    Oktober 11, 2010 pukul 7:17 pm

    setuju gan.. gua dah pengalaman!!

  6. wawan
    Oktober 11, 2010 pukul 7:18 pm

    setuju gan….
    gua dah pengalaman!

  7. orang awam
    Desember 8, 2010 pukul 4:36 pm

    gk ada d dalam al qur’an dan al hadist bukan berarti gk da di dunia nyata ini kan???
    contohnya nyangkul.gk ada dalam al qur’an gk ada dalam al hadist,tapi tetap dilakukan sampai sekarang.bahkan dilakukan oleh para petani jika mau berladang(ini versi orang awam)tapi mungkin jadi lebih indah jika dibawakan oleh orang yang intelek.syahadat dan bersaksi dipengadilan?????kada ada hubunganya kak ae!!!

  8. April 7, 2011 pukul 2:40 am

    SAUDARAKU SEIMAN .

    KENAPA MASALAH SAHADAT DI RIBUTKAN .
    BAGI SAYA NIH ,,, SELAMA KITA BERPEGANG PADA AL’QUR’AN DAN SUNAT MENGAPA KALIAN SALING MENCAP ORANG SESAT.YANG PENTING SELAMA ORANG ITU MENGAKUI NABI MUHAMAD ADALAH NABI TERAKHIR DAN AL.QUR’AN KITAB SUCI KITA,MASALAH PERBEDAAN CARA IBADAH DALAM TATA GERAK LAKU TOH ALLAH YANG KUASA MEMBERIKAN PUTUSAN DITERIMA ATAU TIDAK.
    SING PENTING NABINE MUHAMAD KITABNYA AL.QUR’AN DAN SUNATNYA KITA IKUTI DARI YANG NABI CONTOHKAN BAIK YANG TERSIRAT DI AL QUR’AN ATAU KITAB HADIS.
    KALAU ADA YANG MENAMBAHKAN SYAHADAT DENGAN KATA PERNATAAN IMAM ALI RA SEBAGAI WALI ALLAH LHA ITU ADALAH SUATU UNGKAPAN RASA PENGHORMATAN DAN CINTA SATU KAUM KEPADA BELIAU, MAKANE MEREKA MENAMBAHKAN KALIMAT SYAHADAT.
    DISINI KITA KEMBALIKAN YANG PATUT DAN BERHAK MENERIMA AMALAN KITA ADALAH ALLAH SWT.
    TOLONGLAH KITA SESAMA MUSLIM JANGAN SAMPAI BERSELISIH SEPERTI YANG DI RAMALKAN NABI TERNYATA SAAT INI TERJADI .
    KARNA KALIAN HARUS SADAR DALAM PERSELISIHAN ITU ADA YANG SANGAT BERSUKARIA DENGAN PERSELISIHAN SESAMA UMAT MUSLIM YAITU KAUM ZIONIS KAUM NASHARA TERUTAMA IBLIS LAKNATULLAH.
    SAYA BERI POIN JANGAN KITA BERSELISIH TAPI BERPEGANG LAH PADA AKAR YANG KUAT YAITU AL QUR’AN DAN SUNAT SERTA HANYA MENGAKUI SATU NABI TERAKHIR YAITU MUHAMMAD SHALALLAHU ALAIHI WASALAM.
    SUPAYA SAUDARAKU TAU.
    ADA SATU PENGALAMAN YANG MEMBUAT HATI SAYA TERBUKA.
    SEWAKTU SAYA KETEMU TIDAK SENGAJA DENGAN TEMAN SEKOLAH SAYA WAKTU SMP, SAYA DIAJAK BERKUNJUNG KE RUMAHNYA YANG DISEKITARNYA KEBANYAKAN ETNIS AGAMA NON MUSLIM
    DI SITU BANYAK ETNIS KONHUCU HINDU DAN BUDHA KAWAN SAYA BERAGAMA BUDHA DAN WAKTU SHOLAT MAGRIB TIBA SAYA SAYUP2 MENDENGAR ADJAN BERATI DI WILAYAH INI JAUH DARI MUSHALA ATAU MASJID.
    TEMAN SAYA TAU SAYA MUSLIM DIA MENAWARKAN SAYA ” KALAU MAU SHALAT BISA DI KAMAR TAMU… TAPI KAMI TIDAK PUNYA PERLENGKAPAN SHOLAT… ”
    DISITU HATI SAYA TERBUKA ORANG BUDHA SAJA YANG JELAS BEDA ALIRAN KEPERCAYAAN MENGHARGAI SAYA,,SEBAGAI MUSLIM.
    LANTAS SAYA BERPIKIR MENGAPA KITA SESAMA MUSLIM SATU KITAB AL QUR’AN DAN NABI TERAKHIR KITA MUHAMAD KITA SALING BERSELISIH HANYA KARNA BEDA CARA TATA DAN LAKU BER IBADAH,,, INGAT DI ISLAM ITU ADA BEBERAPA MAHJAB DAN ALIRAN NAMUN KITA HARUS SALING DAMAI DALAM PERBEDAAN. YANG TERPENTING BERPEGANGLAH PADA AL QUR’AN DAN SUNAT YANG DI CONTOHKAN NABI KITA MUHAMMAD SHALALLAHU ALAIHI WASALAM.
    PERKARA SATU KAUM MENAMBAHKAN TATALAKU ATAU KEBIASAAN YANG KADANG ORANG MENYEBUTNYA BID’AH ATAU SESAT ,, KITA KEMBALIKAN KE ALLOH SUBHANAHU WATAALLA
    YANG BERHAK MENENTUKAN DITERIMA ATAU TIDAKNYA AMALAN KITA.
    INGAT JIKA KITA BERSELISIH MAKA ADA YANG BERSUKA CITA DENGAN PERSELISIHAN KITA YAITU KAUM ZIONIS , KAUM NASHARA YANG MEMUSUHI UMAT MUSLIM DAN IBLIS LAKNATULLAH.
    DAN TERNYATA RAMALAN NABI KITA TELAH TERBUKTI :

    ” Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,?Yahudi terpecah menjadi 71 firqah, nasrani terpecah seperti itu juga. Sedankgan umatku terpecah menjadi 73 firqah.” (HR. At-Tirmizy, nomor 2564 – Kitabul iman bab Ma Ja’a fi iftiraqi hazdhihil ummat. Abu Isa mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih).

    Tentunya makna 71, 72 dan 73 bukan berarti jumlahnya demikian, melainkan hal ini mengisyarahkan bahwa memang dalam agama-agama tersebut akan banyak golongan-golongan di dalamnya.SUNI,AHLULSUNANH.AHMADIAH.LDII DAN LAIN2 adalah salah satu dari 73 golongan dalam Islam tersebut.

    WASALAM.

    PENCARI SYAFAAT.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: