Beranda > Tanggapan, Tulisanku > Tanggapan atas Tulisan Berjudul “Soal Tanggapan Mas Ressay”

Tanggapan atas Tulisan Berjudul “Soal Tanggapan Mas Ressay”

Berikut ini adalah tanggapan saya atas tulisan yang berjudul “Soal Tanggapan Mas Ressay” yang ada di blog kerajaan agama.

BAGIAN PERTAMA
Pertama saya akan coba menanggapi tulisan beliau yang berjudul Tanggapan Atas Tulisan “(Astaghfirullah) Mu’awiyyah bin Abi Sufyan dikatakan Murtad oleh Ressay

Baik, saya juga insya Allah akan menanggapi balik.

Segala puji hanya bagi Allah Rabbul ‘Alamin, Pencipta seluruh makhluk, Yang membagikan rezki kepada segenap hamba-Nya, baik kaum muslimin maupun kaum kafir, dan Dia-lah yang menjadikan kesuksesan di akhirat bagi para muwahhidin mu`minin. . Shalawat dan Salam kepada Rasul yang diutus kepada bangsa jin dan manusia semuanya, kepada bangsa ‘Arab dan non Arab. Allah telah menjadikan syari’at beliau sebagai batu ujian bagi segenap syari’at sebelumnya, agama beliau sebagai penghapus seluruh agama para rasul sebelum. Barangsiapa yang mengikuti bimbingan dan sunnah beliau, maka akan Allah muliakan dia dan dan Allah tinggikan kedudukannya. Dan barangsiapa menentang perintah beliau, menjauhi bimbingan beliau maka Allah tetapkan atasnya kehinaan dan kerendahan. Serta kepada keluarganya, sahabat-sahabatnya, serta kepada umatnya yang lurus. Benarlah perkataan Umar, Sang Pembeda, bahwa kehinaan lah bagi mereka (orang-orang yang mengaku Islam) yang hendak mencari kemuliaan selain dengan Islam. Semoga Allah menjauhkan kita dari aliran-aliran sesat semisal, Syi’ah, Khawarij, Murji’ah, Mu’tazilah, Ahmadiyah, dan lainnya. Amin!

Saya memuji Allah dengan memohon kelengkapan Rahmat-Nya dengan tunduk kepada Keagungan-Nya dan mengharapkan keselamatan dari ber-buat dosa kepada-Nya. Saya memohon pertolongan-Nya karena memerlukan kecukupan-Nya (untuk perlindungan). Orang yang ditunjuki-Nya tidak tersesat, orang yang memusuhi-Nya tidak mendapat perlindungan, orang yang didukung-Nya tidak akan tetap kekurangan. Pujian adalah yang paling berat dari semua yang ditimbang dan paling berharga dari semua yang disimpan.

Saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah Yang Esa. Tidak ada yang menyerupai-Nya. Kesaksian saya telah teruji dalam keterbukaannya, dan hakikatnya adalah iman kami.

Saya juga bersaksi bahwa Muhammad SAWW adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya. Allah mengutus-Nya dengan agama yang cemerlang, syiar yang efektif, Kitab yang terpelihara, cahaya yang bersinar, nyala yang kemilau, dan perintah yang tegas untuk mengusir keraguan, mengajukan bukti-bukti yang jelas, menetapkan peringatan melalui tanda-tanda, dan memperingatkan akan hukuman. Pada waktu itu manusia telah jatuh ke dalam kemungkaran yang dengan itu tali agama telah diputuskan, tiang-tiang keimanan telah tergoncang, prinsip-prinsip telah dicemari, sistem telah jungkir balik, pintu-pintu sempit, lorong-lorong gelap, petunjuk tidak dikenal, dan kegelapan merajalela.

Allah tidak ditaati, iblis diberi dukungan, dan keimanan telah dilupakan. Akibatnya, tiang-tiang agama runtuh, jejak-jejaknya tak terlihat, lorong-lorongnya telah dirusakkan dan jalan-jalannya telah binasa. Manusia menaati iblis dan melangkah pada jalan-jalannya. Mereka mencari air pada tempat-tempat pengairannya. Melalui mereka lambang-lambang iblis berkibar dan panjinya diangkat dalam kejahatan yang menginjak-injak manusia di bawah tapak kakinya, dan melangkah di atasnya dengan kaki mereka. Kejahatan berdiri (tegak) di atas jari-jari kakinya dan manusia yang tenggelam di dalamnya menjadi bingung, jahil dan terbujuk seakan-akan dalam suatu rumah yang baik dengan tetangga-tetangga yang jahat. Sebagai ganti tidur, mereka terjaga, dan sebagai celaknya adalah air mata. Mereka berada di suatu negeri di mana orang berilmu terkekang (mulut mereka tertutup) sementara orang jahil dihormati.

Begitulah Khutbah Imam Ali bin Abi Thalib saat kembali dari Shiffin.

Ya Allah, tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus, jalan mereka yang Kau beri nikmat, bukan jalan mereka yang murkai.

Maka, teguhkanlah kami di jalan Islam Muhammadi. Bantulah kami untuk tetap berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Ahlulbayt sebagaimana perintah Nabi-Mu. Kami berlepas diri dari Islam hasil rekayasa para penguasa dzalim.

Amma ba’d,
Sabtu, 28 Agustus 2010, senja hari, ketika hujan menghujami bumi dimana saya berada, saya sempatkan untuk berselancar di dunia maya melalui hp. Lantas, mampir ke Kerajaan Agama. Dan, saya tercengang dengan postingan Inilah Dusta Ressayresse Syi’ah. Kenapa? Karena, karena dua tulisan saya yang dipublikasikan di sini, mengakibatkan pendiri blog ini terbawa-bawa. Jadi, izinkan saya di sini untuk memohon maaf kepada Mbak Fitri, semoga kejadian ini tidak menjadikan pemutus hubungan di antara kita, dan saya masih boleh untuk mempublikasikan tulisan di sini, kan?

Saya ingin memberikan klarifikasi bahwa awalnya saya menganggap bahwa tulisan yang saya kritik merupakan tulisan pemilik blog kerajaan agama (entah namanya siapa). Jadi, ini karena ketidaktahuan saya, bukan karena saya tidak bisa membaca nama penulis yang ditulis dalam huruf arab seperti yang dituliskan oleh pemilik blog kerajaan agama dalam komentarnya. Semoga bisa dipahami. Hanya Allah yang lebih mengetahui apakah saya jujur atau tidak.

Kali ini, saya mencoba menanggapi tanggapan saudara Ressay atas keduabuah tulisan saya. Sebelumnya, saya akan mencoba mengikuti apa yang saudara Ressay harapkan, dalam beberapa kesempatan, saudara Ressay selalu menganjurkan agar kita semua mencontoh Akhlak Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, saya sependapat, dan terima kasih sudah diingatkan. Karena memang Rasul sendiri bersabda dalam sebuah haditsnya, “Sesungguhnya orang yang paling aku sukai di antara kalian, dan yang paling dekat duduknya denganku pada hari kiamat kelak ialah orang yang paling baik akhlaknya di antara kalian” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, Ath Thabarani, di-shahih-kan oleh Al-Albani) Dan, menurut riwayat bahwa Akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an. Adalah sebuah kewajiban bagi setiap kita untuk menjadikan Rasulullah teladan, karena beliau adalah Samudra Uswah. Tapi, adalah sebuah ketidakmungkin kita bisa menyamai 100%, jadi maaf jika dalam beberapa kesempatan, jika akhlak saya tidak sesuai dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Saya salut kepada saudara Ressay, yang memang ‘sangat’ meneladani Rasulullah, karena memang harus begitu, bukan malah meneladani para Imam dan atau sahabat siapapun itu melebihi Rasulullah!

Mari kita menjadikan Rasulullah sebagai uswatun Hasanah. Ambillah apa yang berasal dari Rasulullah, karena apa yang beliau ucapkan bukan berdasarkan hawa nafsu melainkan wahyu semata.

Mari kita sama-sama mengikuti perintah Rasulullah untuk berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Ahlulbaytnya.

Jazahumullah khairan katsiran atas waktunya untuk menanggapi tulisan saya. Terus terang itu hanya pandangan saya saja, dan tidak berupaya untuk membius pembaca, karena bagi saya itu tidak ada untungnya. Ini hanya sebagai upaya menyampaikan apa yang sejauh ini saya ketahui. Baiklah, lain kali saya akan mencoba tidak menggunakan banyak referensi.

Mari kita sama-sama berlomba-lomba dalam kebaikan. Kita sampaikan hikmah dan pengetahuan dengan cara yang santun, ilmiah, dan dengan pola pikir yang benar. Jangan sampai kita mengutip banyak referensi, tetapi kita keliru dalam mengambil kesimpulan dari referensi-referensi tersebut.

Alhamdulillah, jikalau begitu. Karena kita tidak boleh sembarangan mengufurkan seseorang, sebagaimana Syi’ah mengufurkan (menurut anggapan mereka) Thalhah, Zubeir, Mu’awiyyah, dan Abu Sufyan. Walaupun tidak semua Syi’ah begitu, ada sebagian yang hanya menyatakan mereka itu fasiq. (lihat Abul Hasan Isma’il Al-Asy’ari, Prinsip-Prinsip Dasar Aliran Theologi Islam terjemah dari kitab Maqaalaat Al-Islaamiyiin waikhtilaaf Almushalliin, Jilid I, Ditahkik oleh Prof. DR. Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid, Pustaka Setia, 1998, h. 117, bab IV Prinsip-Prinsip Dasar Ajaran Rafidhah). Lalu, apa tujuan saudara menulis tulisan seperti itu? kalau menurut hemat saya, jika saudara juga tidak menganggap Mu’awiyyah itu murtad, maka untuk apa membuat tulisan dengan judul yang terlalu berlebihan. Menurut saya, justru itu hanya akan menimbulkan perpecahan dan menyulut perdebatan, atau memang begitukah tujuannya? Wa Allahu A’lam.

Sungguh indah jika tidak ada orang yang menganggap dirinya paling benar sendiri dan menganggap orang lain sesat bahkan kafir. Saat saya belajar sejarah Islam, yang saya bayangkan adalah sejarah yang indah, namun semakin dalam saya mempelajari sejarah Islam semakin kelam yang saya dapatkan.

Keindahan yang saya bayangkan ternyata berbanding terbalik. Diantara sahabat Nabi, bukan hanya saling kafir mengkafirkan melainkan sampai pada bunuh membunuh.  Padahal Rasulullah telah bersabda, “Janganlah kalian mencaci sahabatku.”

Bayangkan saudaraku, Nabi kita yang tercinta memerintahkan kita untuk tidak mencela sahabat Nabi, tetapi ternyata sahabat Nabi adalah generasi pertama yang melanggar perintah Nabi itu. Mereka bukan hanya mencela sahabat Nabi, saudaraku, mereka bahkan saling membunuh. Astaghfirullah…

Pada tulisan saya “Khalifah Islam yang Bernama Muawiyah Ternyata Murtad?” saya ingin mengajak berpikir para pembaca bahwa ada konsekuensi logis dari perkataan Imam Malik bahwa yang mencela sahabat adalah termasuk golongan di luar Islam.

Konsekuensi logisnya apa? Semua orang yang mencela sahabat Nabi, walaupun yang mencela sahabat Nabi juga, maka yang mencela itu termasuk golongan di luar Islam.

Dalam fakta sejarah, Muawiyah mencaci maki Ali bin Abi Thalib yang merupakan sahabat Nabi. Maka kesimpulannya, Muawiyah itu termasuk golongan di luar Islam. Sekali lagi, saya hanya ingin menunjukkan ada konsekuensi logis dari perkataan “luar biasa” dari Imam Malik.

Alhamdulillah kalau begitu, sekarang kan jelas, kalau begitu, saudara menganggap Mu’awiyyah sahabat nabi, kan? Dan, kalau begitu saudara sependapat dengan saya kan, bahwa para sahabat (salaf) itu merupakan orang-orang pilihan dan generasi terbaik, di antara umat Islam terdahulu, sehingga mereka perlu diteladani segala kebaikannya dengan menyisihkan apa yang kurang baik dari mereka, dan adalah bukan urusan kita, apalagi saya yang tidak punya kapasitas untuk mengufurkan seseorang, apalagi jika dia termasuk sahabat Nabi, entah dengan saudara, semoga saudara tidak seperti Khawarij yang dengan mudahnya mengkufurkan kaum muslimin.

Banyak kalangan umat Islam yang menganggap bahwa Muawiyah adalah sahabat Nabi. Tetapi walaupun begitu, bukan berarti dirinya terlepas dari kritikan.

dalam sebuah redaksi hadits
Mereka (para sahabat) bertanya : “Siapakah satu kelompok itu wahai Rasulullah?”, maka beliau menjawab : “Mereka yang mengikuti jejakku dan jejak para sahabatku” (HR. Imam at-Tirmidzi, dan yang lainnya)

Maka jelas, dalam tanggapan saya sebelumnya, cukuplah bagi kita mengikuti apa-apa yang baik dari para sahabat,. ketika ada cela, maka kita tidak perlu memperbesar-besarkannya, bukankah sesama muslim kita harus saling menutupi aib? Tidak ada faedahnya sekali kita hanya menyibukkan dengan keburukan para sahabat. Jadi tolong jelaskan, dengan perkataan saudara berikut

Jika ada orang yang mengatakan bahwa kita harus menutup-nutupi penyimpangan yang dilakukan oleh sahabat Nabi, maka bagaimana dengan para ahli hadits saat mengutipkan riwayat-riwayat penyimpangan yang dilakukan oleh sahabat Nabi? Apakah para ahli hadits tersebut telah berbuat sesuatu yang mungkar dan ingin memecah belah umat Islam? Tentu tidak. Marilah kita jujur pada sejarah agama kita sendiri. Tampilkan fakta sejarah apa adanya bahwa generasi sahabat Nabi yang Anda katakan sebagai generasi terbaik itu ternyata merupakan generasi yang dipenuhi dengan pertumpahan darah. Diantara mereka saling bunuh membunuh.

Generasi terbaik menurut Rasulullah adalah:

Diriwayatkan dari Abu Jum’ah RA yang berkata “Suatu saat kami pernah makan siang bersama Rasulullah SAW dan ketika itu ada Abu Ubaidah bin Jarrah RA yang berkata “Wahai Rasulullah SAW adakah orang yang lebih baik dari kami? Kami memeluk Islam dan berjihad bersama Engkau. Beliau SAW menjawab “Ya, ada yaitu kaum yang akan datang setelah kalian, yang beriman kepadaKu padahal mereka tidak melihat Aku”.

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad Ahmad juz 4 hal 106 hadis no 17017

Dengan pendapat Imam Malik rahimahullah, maka apa sebenarnya konklusi yang saudara dapatkan? Jujurlah, saudara secara pribadi mengufurkan Mu’awiyyah atau tidak?

Saya jadi ingat, Asy Syafi’i rahimahullah berkata, “Aku biasa mengatakan ‘Rasulullah Bersabda’. Sementara kamu biasa mengatakan, “Atha, Thawus, Al Hasan, dan Ibrahim berkata. Padahal mereka tidak melihat hal itu. Apakah seseorang punya argumen terhadap ‘Rasulullah’? (saya nukil dari kibat Syarah Arb’ain An-Nawawiyah, hal. 25, AkbarMedia, 2009).

Nah, Rasulullah telah menetapkan, “Mereka yang mengikuti jejakku dan jejak para sahabatku” Maka, cukuplah bagi kita untuk mengikuti yang baik-baik, dan tidak membahas segala cela dari sahabat, karena pada dasarnya semua sahabat itu pasti pernah berbuat atau memiliki cela ketika atau sebelum memeluk Islam. Wa Allahu A’lam.

Maksud dari tulisan saya jelas bahwa perkataan Imam Malik itu menimbulkan konsekuensi. Berangkat dari perkataan Imam Malik, maka dengan berat hati kita harus mengatakan bahwa Muawiyah itu bukan termasuk golongan Islam. Itu kesimpulan yang seharusnya kita ambil jika kita meyakini bahwa perkataan Imam Malik itu benar, kecuali jika kita menganggap bahwa perkataan Imam Malik itu perkataan yang ngawur.

Saya jadi ingat, Asy Syafi’i rahimahullah berkata, “Aku biasa mengatakan ‘Rasulullah Bersabda’. Sementara kamu biasa mengatakan, “Atha, Thawus, Al Hasan, dan Ibrahim berkata. Padahal mereka tidak melihat hal itu. Apakah seseorang punya argumen terhadap ‘Rasulullah’? (saya nukil dari kibat Syarah Arb’ain An-Nawawiyah, hal. 25, AkbarMedia, 2009).

Nah, Rasulullah telah menetapkan, “Mereka yang mengikuti jejakku dan jejak para sahabatku” Maka, cukuplah bagi kita untuk mengikuti yang baik-baik, dan tidak membahas segala cela dari sahabat, karena pada dasarnya semua sahabat itu pasti pernah berbuat atau memiliki cela ketika atau sebelum memeluk Islam. Wa Allahu A’lam.

Semoga kita tidak mengikuti jejak para sahabat Nabi yang menumpahkan darah sahabat Nabi yang lainnya.

Tentu, siapa saja bisa berbalik kebelakang (murtad), saya tidak berbeda pendapat tentang hal ini, masalahnya, apakah dengan demikian, tolong katakan menurut saudara, atau sikap saudara terhadap Mu’awiyyah, ia murtad atau tidak? itu saja! Sebenarnya, kemurtadan seseorang itu kalau ia sendiri tidak menyatakan secara langsung, misalnya, “Saya Murtad” atau “Saya keluar dari Islam”, maka yang terjadi hanyalah prasangka, bukankah kita diwajibkan untuk menghindari prasangka?

Saya harap Anda paham, bahwa bukan persoalan apakah Muawiyah itu murtad atau tidak. Tetapi persoalannya ialah konsekuensi logis dari perkataan Imam Malik. Kalau Anda dan saya mempercayai kebenaran akan perkataan Imam Malik bahwa yang mencela sahabat Nabi itu termasuk golongan di luar Islam, maka konsekuensi logisnya Muawiyah yang telah mencela Ali bin Abi Thalib adalah termasuk golongan di luar Islam.

Tidak ada prasangka disini, tetapi saya ingin menunjukkan kenyataan yang harus Anda dan kita semua hadapi jika kita meyakini bahwa perkataan Imam Malik itu benar, yaitu Muawiyah bukan termasuk golongan Islam.

Maafkan saya, karena saya tidak punya musnad imam Ahmad, maka memang hadits itu saya ambil dari sini. Jika memang hadits tersebut tidak benar adanya, mohon berikan koreksinya. Karena saya percaya dengan sumber dari yang saya kutip maka, rasanya saya tidak perlu harus mengkroscek, jika pun saudara ragu, kan itu jelas riwayat siapa dan siapa yang metakhrij-nya, silahkan dikroscek. Insya Allah, saya juga selalu mengkrocek setiap ilmu yang saya dapatkan ketika ada waktu luang.

Hadits tersebut sudah dibahas disini.

boleh saya tahu dikitab apa Ibnu Jawzy rahimahullah menyebutkan pernyataan tersebut, kenapa? karena beliau rahihamullah adalah salah satu ulama-psikolog yang saya kagumi, dan sejauh ini saya hanya punya karya beliau yang berjudul al-Thibb al-Rûhânî. Mohon kiranya disertakan sumbernya, Jazahumullah.

Silakan Anda baca al-Mawdhû’at karya Ibnu al Jawzi 1/335.

O ya, adalah sebuah kemungkinan ketika sebuah hadits yang tadinya tidak shahih, maka dishahihkan oleh para ahli hadits kemudian, tapi yang tidak mungkin adalah hadits shahih di tidak shahihkan oleh ahli hadits berikutnya.

Waduh…saya baru tau kalau ada kaidah seperti itu. Darimana Anda mendapatkan kaidah tersebut?

Untuk masalah ini, cukuplah para ahli hadits yang bertugas, semisal pakar hadits abad ini, Muhamamd Nashiruddin Al-Albani rahimahullah. Wa Allahu A’lam

Ada banyak juga kalangan yang menolak kredibilitas pakar hadits yang Anda maksud tersebut.

Saya menyarankan Anda untuk berhenti menganggap bahwa Muawiyah itu orang yang dipenuhi dengan keutamaan-keutamaan. Semua sahabat pasti memiliki keutamaan dan kekurangan, dan itu sebuah keniscayaan.

Lalu mengapa Anda tiba-tiba berkomentar:

Kalau begitu, berhenti jugalah saudara menganggap bahwa keduabelas Imam itu maksum! (itu jika saudara memang Syi’ah, kalau bukan, justru harus seperti kebanyakan kaum muslimin yakni menolak kemaksuman keduabelas Imam Syi’ah)

Aduhai, saya pikir itu ndak nyambung. Kita tengah memperbincangkan soal Muawiyah, knapa Anda loncat ke Imam-Imam Syi’ah? Marilah kita fokus pada pembahasan soal Muawiyah saja. Jangan melebar kemana-mana.

Menarik sekali, Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, mengakhiri nama Ali dengan Alaihissalam, bukan radhyallahu anhu?

Kayaknya sih iya deh.

Sungguh, saya penulis artikel ini, tidak membenci Ali, justru kami memberikan haknya sebagai seorang sahabat yang mana harus dimuliakan, didoakan, dan sebagainya. Tapi, tidak melebihkannya dibandingkan dengan Rasulullah. Saya pun hanya mencoba mengingatkan saudara agar jangan juga menggunjing Mu’awiyyah bin Abi Sufyan radhyallahu anhu, tapi saya yakin saudara kan berakhlak maka tidak akan menggunjing kesalahan orang lain, kan?

Alhamdulillah jika Anda tidak membenci Imam Ali. Anda tidak melebihkan, dan semoga Anda tidak merendahkan Imam Ali dari kedudukannya yang sudah ditetapkan oleh Nabi.

Saya tidak mempergunjingkan Muawiyah. Semoga para ahli sejarah dan ahli hadits tidak Anda tuduh sedang mempergunjingkan sahabat Nabi saat mereka memaparkan fakta sejarah tentang mereka.

Sesungguhnya, saya mencintai Ali bin Abi Thalib radhyallahu anhu, akan tetapi cinta saya kepada Allah dan Rasul-Nya melebihi kecintaan saya kepada siapa pun.

Jika Anda mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka cintailah apa yang dicintai Allah dan Rasullah. Maka Cintailah apa yang dicintai oleh orang-orang orang yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya juga. Semoga Anda bisa memahami kata-kata saya tersebut.

BAGIAN KEDUA
Kali ini saya akan mencoba menanggapai tulisan saudara Ressay yang berjudul Tanggapan atas tulisan “Ressay (atau Syi’ah), (yang) berdusta?

Terima kasih atas tanggapannya. Dibawah ini saya juga akan menanggapi balik tulisan Anda.

Terus terang saya memang tidak punya kitab sahih muslim, atau pun ringkasan sahih muslim. Jadi saya harus mencari tahu dengan jalan ke perpustakaan atau ketoko buku. Di rumah saya hanya punya Al-Jami Al-Sahih, Imam Al-Bukhari rahimahullah, dan Kitab hadits Arbain An Nawawiyah karya Imam An Nawawiyah, serta kitab hadits Riyadhus Shalihin karya Imam An Nawawi rahimahullah. Jika pun punya, saya harus kroscek, karena saya bukanlah ahli hadits yang hafal hadits dengan sanad maupun matannya. Saya hanyalah sang pembelajaran yang suka membaca. Sebenarnya saya ingin sekali punya semua kitab hadits yang sering dijadikan rujukan lainnya, semisal muslim,. ibnu majah, tirmidzi, an-nasai, ibnu hibban, dan lainnya. Sayangnya keuangan saya tidak cukup, maka jalan keluarnya ya kadang pinjam ke perpustakaan atau baca di toko buku. Kalau Mas Ressay punya ya? Subhanallah….Tapi, kata teman saya, yang mengambil jurusan Tafsir Hadits, dua kitab yang harus jadi pegangan, Al-Qur’an dan Al Jami Al Sahih itu sudah cukup. Wa Allahu A’lam.

Riwayat itu saya kutip dari http://ahlulhadiits.wordpress.com/

memang jika melihat redaksi hadits yang dibawakan bahwa Rasulullah selain mempersaksikan Allah dan Rasul-Nya juga mempersaksikan Nabi Isa Alaihissalaam. Yang ingin saya tahu, apakah itu berupa perintah boleh menambahkan, ataukah Rasulullah hanya mengatakan bahwa siapa saja yang berkata seperti redaksi hadits tersebut akan masuk surga? Nah, apakah Rasul juga mengabarkan bahwa siapa saja yang mempersaksikan Allah dan Rasul-Nya dan apa pun tambahannya yang tidak sesaui denga hadit itu, maka ia juga akan masuk surga? Misalnya tambahannya ketika bersyahadat, Ali adalah wali-Nya, atau bersaksi pula Khoemini adalah wali-Nya? Apakah dengan hadits itu, kita boleh mempersaksikan siapa saja dalam konteks bersyahadat? Lalu yang ingin masuk Islam sekarang ini, harus menambahkan apa yang ketiganya itu? sesuka hatinya kah? atau cukup dengan dua kalimah syahadat saja?

Jadi begini saudaraku, pada dasarnya, kita semua memiliki kesaksian atas semua yang kita yakini kebenarannya bukan? Anda bersaksi gak bahwa Al-Albani itu adalah ahli hadits? Ketika Anda menganggap bahwa beliau itu ahli hadits, maka sebetulnya Anda telah bersaksi atasnya.

Pada dasarnya pula, kesaksian kita akan dipertanggungjawabkan di pengadilan-Nya.

Kalau Anda bersaksi bahwa Al-Albani itu adalah ahli hadits, maka siap-siaplah untuk mempertanggungjawabkannya di akhirat kelak. Sama dengan orang-orang yang bersaksi bahwa Ali adalah Wali Allah, Al-Mahdi itu adalah Hujjatullah, maka mereka juga akan mempertanggungjawabkannya.

Lalu bolehkah kita mempersaksikan sesuatu selain bersaksi kepada Allah dan Rasulullah? Maka jawabnya ialah boleh-boleh saja. Karena pada dasarnya ketika kita meyakini suatu kebenaran, maka kita telah bersaksi akan kebenaran itu sendiri.

Lalu apa manfaatnya jika kita mempersaksikan sesuatu yang lain? apakah kita akan masuk surga?

Maka berdasarkan riwayat yang saya kutip, jika kita bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya dan bersaksi bahwaNabi Isa as. adalah hamba Allah dan anak hamba-Nya, serta kalimat-Nya yang dibacakan kepada Maryam dan dengan tiupan roh-Nya, bahwa surga itu benar dan bahwa neraka itu benar, maka sesuai janji Nabi, Allah akan memasukkannya melalui pintu dari delapan pintu surga mana saja yang ia inginkan.

Lalu gimana jika kita mempersaksikan bahwa Ali adalah Wali Allah? Apakah kita akan mendapatkan janji Nabi pada riwayat diatas? Tentu tidak donk, tetapi kesaksian kita bahwa Ali adalah Wali Allah jelas akan dipertanggungjawabkan.

karena saya mengikuti prinsip ittiba terhadap Rasulullah. Ok, sekarang Syi’ah-kan memaksumkan keduabelas Imam, apakah itu sebuah kebenaran yang telah Rasulullah kabarkan? Ingat, kita membahas persaksian dalam konteks syahadat, bukan persaksian seseorang di muka pengadilan atau khalayak ramai!

Lho…lho…nyambungnya ke syi’ah dan kedua belas Imamnya lagi. Yang sedang kita perbincangkan itu syahadat atau persaksian bahwa Ali adalah Wali Allah yang katanya diucapkan oleh Syi’ah.

Persaksian konteksnya tetap pada syahadat. Jika Anda menganggap bahwa persaksian kita tidak mengandung konsekuensi  di Pengadilan Allah, maka sesungguhnya semua persaksian kita baik persaksian kita kepada Nabi Isa, Surga dan Neraka, Ali adalah wali Allah, Al-Albani itu adalah ahli hadits, itu akan kita pertanggungjawabkan. Bahkan persaksian kita di muka pengadilan, akan kita pertanggungjawabkan.

yang kita bahasa adalah syahadat! kenapa saudara mengajak saya untuk mempermasalahkan persaksian di muka pengadilan yang notabene itu soal interaksi dengan manusia? Ini masalah, syahadat yang mana seseorang baru dikatakan masuk Islam kalau sudah bersyahadat, khususnya bagi mereka yang ingin masuk Islam. Sekarang begini sajaa, tolong berikan saya sebuah kisah atau riwayat, salah satu sahabat nabi, yang awalnya pasti kafir, lalu masuk Islam, seperti apakah syahadat mereka? Ali bin Abi Thalib radhyallahu anhu, menurut saudara syahadatnya tiga atau dua? Cukup sampai di sini, Ahlussunnnah wal Jama’aah sepakat bahwa Syahadat itu terdiri dari dua kalimat, yang mana pertama ialah syahadat tauhid, yang kedua syahadat rasul. Kecuali saudara termasuk yang menyelisihi, maka saya berlepas diri dari saudara. Cukuplah bagi saya Allah dan Rasul-Nya. Sejauh yang saya pelajari dari berbagai litelatur di Fakultas Agama Islam Universitas Ibn Khaldun Bogor tidak saya dapati pemahaman yang seperti saudara bahwa ketika kita bersyahadat maka kita boleh mempersaksikan yang lainnya setelah Allah dan Rasul-Nya. Tolong berikan referensinya, jika memang ada yang membolehkan hal itu, bukan berarti saya meragukan kapasitas keilmuan saudara, hanya saja itu akan lebih ilmiah dan saya bisa lebih mengerti, oh, saya harus lebih banyak belajar lagi.

Makanya saya meminta Anda untuk memahami lebih baik lagi tulisan saya. Syahadat atau persaksian pokok yang menjadi ukuran seseorang itu muslim atau tidak adalah TIADA TUHAN SELAIN ALLAH DAN MUHAMMAD ADALAH RASUL ALLAH. Tetapi Apakah boleh kita bersaksi atas sesuatu yang lain? Maka jawabannya, bukan hanya boleh melainkan itu adalah sesuatu hal yang niscaya sifatnya. Ketika Anda meyakini sesuatu itu sebagai sebuah kebenaran, maka otomatis Anda telah bersyahadat akan kebenaran itu.

Mohon Klarifikasi jika salah;
Saya menganggap bahwa saudara Ressay itu adalah golongan Syi’ah. Meski saya belum pernah membaca pengakuannya secara tertulis; “Saya Syi’ah”. Bagaimana, tolong jujur, saudara berpaham Syi’ah? Maaf jika anggapan saya ini salah.

Saya bukan Syi’ah dan bukan Sunni, bukan pula salafy, wahabi, JT, atau apapun itu. Saya adalah seorang yang bersyahadat bahwa TIADA TUHAN SELAIN ALLAH DAN MUHAMMAD ADALAH UTUSAN ALLAH. Semoga tulisan saya ini bisa Anda pahami dengan baik.

PERNYATAAN
Saya Usup Supriyadi اسوب سوبرييادي, adalah penulis tamu di Kerajaan Agama ini, dan blog pribadi saya adalah de Go Blog. Jangan takut, saya bukanlah fiktif, beberapa sahabat blogger telah bertemu dengan saya. Dan saya termasuk orang yang Anti-Syi’ah! Segala yang benar datang dari Allah, yang salah murni dari saya pribadi. Mohon maaf kepada semua pihak yang merasa tidak sejalan. Semoga Allah memberikan terang kepada kita semua yang berusaha menelusuri rambu-rambu meniti jalan yang lurus. Jazahumullah khairan katsiran.

Saya Yasser Arafat adalah pemilik blog ini. Jangan takut, saya pun bukanlah fiktif. Beberapa blogger Bengawan paham siapa saya dan dimana saya belajar. Dan saya termasuk orang yang TIDAK ANTI SYI’AH. Mohon maaf jika saya tidak sejalan atau sepemikiran dengan Anda. Saya juga meminta maaf jika ada perkataan saya yang melukai hati Anda.

Wallahu a’lam bish-shawabi.

  1. syafiin
    September 3, 2010 pukul 11:35 am

    Imam Bukhari meriwayatkan hadis yang mengindikasikan bahwa muawiyah si anak hindun dan abu sufyan adalah pemimpin golongan yang masuk neraka..(SHAHIH BUKHARI, KITAB الصلاة BAB التعاون في بناء المسجد )

    wah kalo begitu menurut sdr Usup Supriyadi اسوب سوبرييادي Bukhari termasuk orang yang mencaci sahabat dan membongkar aib sahabat?

    berdasarkan hadis itu dan hadis2 yg lain ditambah trak recordnya yang di abadikan dalam buku2 sejarah- maka saya haqqul yakin Muawiyah adalah penghuni neraka!

    kalo ada pemuja muawiyah yang keberatan khususnya golongan nawashib salafi/wahhabi silahkan protes kepada ahli hadis dan sejarawan yang membongkar kejahatan dan kemunafikan si anak hindun ini…!

    mau menuduh saya syi’ah, atau apa itu urusan anda, karena segala perbuatan kita pertanggung jawabkan kepada Allah SWT bukan kepada syekh Albani atau syekh Muqbil dll.

    wassalam
    syafiin123@yahoo.com

    • joko
      Desember 27, 2010 pukul 3:04 pm

      kalo memang anda jujur dan ada hadis seperti itu tolong anda kutip secara lengkap jangan bilang diindikasikan bila perlu dicantumkan teks bahasa arabnya…

  2. jawiroquai
    September 9, 2010 pukul 7:02 am

    Sejarah sudah membuka banyak fakta. Kepahitan itu tidak semua orang mau terima dengan akal dan jiwa yang terbuka.

  3. masmpep
    Oktober 27, 2010 pukul 2:14 am

    Nah, kalo dialog kayak gini kan sip. tradisi intelektual memang perlu dijaga.

  4. Oktober 28, 2010 pukul 6:27 am

    mantab boss..atikelnya..i like it….salam kenal yach…

  5. Tony Kohar
    Desember 2, 2010 pukul 8:43 am

    Salam kenal untuk Yaser arafat..

    Anti Syiah = Anti Ahlus Sunnah

    • Desember 9, 2010 pukul 11:21 am

      salam kenal juga.

      maksudnya anti syi’ah = anti ahlulsunnah tuh apa?

  6. Beni Z
    Desember 10, 2010 pukul 9:20 am

    Ass Wr Wbr Mas Ressay, banyak dari saudara kita yang tidak mengetahui sabda Beliau SAW bahwa Beliau SAW dan Ahlul Baitnya ibarat bahtera NUH as, banyak juga yang bisa baca Kitab Suci Al qur’an dan hapal namun hanya diartikan secara harfi’ah, makna batiniahnya terlupakan. Mengaku bisa baca Kitab Suci Al Qur’an namun tidak tahu diturunkan untuk siapa?, banyak yang mengaku-ngaku sebagai Ahl Adz-Dzikr padahal itu hanya untuk Ahl Bait Baginda SAW, pada kesempatan ini saya mengajak sdr2ku agar sungguh-sungguh tunduk, patuh, dan taat kepada Beliau SAW secara universal. “Kalau bukan karena Engkau Muhammad2x, tidak AKU ciptakan Alam Semesta ini”. Mari kita sadari bersama apakah kita berasal dari satu pohon dengan para Ahl Bait, kalau tidak mari kita sama-sama menghormati kedudukan mereka sebagaimana kita mendudukkan maqom Beliau SAW dalam hidup yang diperjalankan ini. Mas Ressay, saking jauhnya jarak antara Beliau SAW dengan masa kita saat ini, banyak dari sdr2 kita hanya memperoleh pengetahuan lahiriahnya saja melalui referensi, alangkah baiknya mari bertafakarun dan beristiqro secara batiniah agar kita mengetahui dengan sebenarnya terkait dengan pengetahuan yang kita peroleh selama ini. Pandangan mata zahir dan logika bisa menipu namun unsur Zat Suci yang berasal dari Hakekat Beliau SAW didalam diri kita tidak akan berbohong. Sukses selalu Mas Ressay, Billaahi Taufiq wal hidayah wa minnarosulihi SAW as safa’ah wamin qhouts wa nadhroh wal barokah wass wr wbr.

    • Desember 24, 2010 pukul 1:10 am

      Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.

  7. joko
    Desember 27, 2010 pukul 2:56 pm

    buat teman2 yang ingin mengetahui apa dan bagaimana syiah..silahkan kunjungi situs hakekat.com…..dijamin mutu dan akan mengetahui serta mengenal syiah dengan jelas….selamat mencoba…..

  8. Desember 28, 2010 pukul 6:16 am

    salam kenal ya
    postingannya emang mantap, bkn sekedar tulisan🙂

  9. syiahjawi
    Januari 27, 2011 pukul 2:46 am

    GERAK BAHTERA AL SAFINAH GERAK MAUJUD MENUJU WUJUD GERAK MENGADA MENUJU ADA

    Para Nabi, Rasulullah dan Para Imam Ahlul Ba’it adalah manusia’-manusia… yang sukses menempuh terjalnya Perjalanan…
    kafilah itu terus berjalan… menuju Tuhan….
    bukan pergi… menghindari atau bahkan menjauhi Tuhan
    kepada Abu Dzar… Salman… Miqdad dan Amar Rasulullah.. berwasiat
    sekiranya seluruh makhluk bumi berjalan ke satu arah… dan Ali berjalan ke arah lain…
    MAKA IKUTILAH ALI…
    …kepada umatnya Rasulullah bersabda… Ikutilah… Ahlul Ba’itku…

    Dan bersama Ahlul Ba’it… akan ditempuh empat perjalanan manusia menuju TUHAN
    1. Perjalanan dari makhluk menuju Allah (min al Khaq ila al haqq)
    2. Perjalanan dalam Allah bersama Allah (fi al Haqq ma’a al haqq)
    3. Perjalanan dari Allah menuju makhluk bersama Allah (min al haqq ila al khalq ma’a al haqq)
    4. Perjalanan dalam makhluk bersama Allah (fi al Khalaq ma’a al haqq)…

    Ketika… cinta sang Nabi memanggilmu….
    sambutlah ia dengan sayapmu
    meski sayapmu terluka bahkan patah..
    tetaplah melangkah menuju keabadian…..
    sehingga engakau tak menyebut Tuhan ada dalam dirimu
    tapi dirimu ada di dalam Tuhan………

    Muhammadku…
    Fatimahku..
    Aliku…
    Hasanku..
    Husainku..
    dan imam-imam ahlul bayt….
    ….

  10. delvitapraba
    Mei 25, 2011 pukul 7:35 am

    kunjungi website kami di http://www.hajarabis.com

  11. Juli 31, 2011 pukul 1:42 am

    Pokoknya yang mencintai ahlul bait itu syiah.Harus mengutamakan abu bakar dulu kemudian Umar lalu Usman lalu Ali.Muawiyah tidak boleh dicaci maki. begitu juga Yazid,Walupun yazid memerintahkan membunuh Husain cucu rasulullah.Yazid tidak boleh di cela, yazid anak Muawiyah sedang Muawiyah adalah tabirnya sahabat. siapa yang menghina muawiyah berarti menghina sahabat ,anda akan masuk neraka.Biarlah itu masa lalu.Walaupun muawiyah selau mencela Ali bin Abi thalib, dia sudah dijamin masuk surga begitu juga Yazid.Biarlah sahabat membunuh sahabat ,sahabat mencela sahabat.Membunuh cucu rasulullah itu ijtihad,mungkin salah mungkin benar,yang penting tabirnya sahabat ,Umar banyak jasanya terhadap islam ,Begitu juga Amr bin Alash tak apa apa dalam masalah tahkim itu kan urusan politik

  12. Juli 31, 2011 pukul 1:45 am

    komentar yang kontradiktif dengan komentar Anda sendiri. aneh…kalau memang mencela sahabat itu masuk neraka, maka Muawiyah juga masuk neraka cuy. perbaikilah cara berpikir Anda.

  13. November 26, 2011 pukul 1:40 pm

    Ane ngga paham gan permasalahannya apa😀

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: