Beranda > Tulisan Orang > [Persona] Jalaluddin Rakhmat: Menuju Agama Madani

[Persona] Jalaluddin Rakhmat: Menuju Agama Madani

— Ilham Khoiri dan Myrna Ratna

HINGGA kini Indonesia masih saja tak lepas dari konflik antarumat beragama. Agama, yang semestinya bersemangat pembebasan dan menebarkan kedamaian bagi sesama manusia, ternyata justru kerap memicu pertentangan, bahkan mengusik keutuhan bangsa yang majemuk ini. Bagaimana jalan keluarnya?

JALALUDDIN RAKHMAT (KOMPAS/PRIYOMBODO)

Kita perlu mengembangkan pemahaman agama madani. Ini bukan agama baru, melainkan pemahaman yang mengambil nilai-nilai universal dalam setiap agama dan berkonsentrasi memberikan sumbangan bagi kemanusiaan dan peradaban,” kata Jalaluddin Rakhmat (62), cendekiawan Muslim asal Bandung.

Kang Jalal—demikian sapaan akrabnya—fasih mengulas hal ini. Maklum saja, dia punya pengalaman bergumul dengan persoalan hubungan antaragama, mengkaji berbagai pemikiran keagamaan, berjumpa banyak tokoh dunia, serta menulis sejumlah buku. Dia juga aktif mengajar di kampus dan mengentalkan gagasan pluralisme lewat sejumlah lembaga keagamaan.

”Pemahaman agama madani paling cocok untuk dikembangkan dalam kehidupan modern dan demokratis, seperti di Indonesia sekarang ini,” katanya ketika ditemui setelah memberikan ceramah keagamaan di Paramadina, Pondok Indah, Jakarta Selatan, pertengahan Januari lalu.

Bagaimana persisnya pemahaman agama madani itu? Kang Jalal mengutip filsuf kelahiran Swiss, Jean Jacques Rousseau, yang hidup pada zaman Revolusi Perancis (abad ke-18 Masehi). Ketika menceritakan gagasan kontrak sosial, Rousseau menyebut la religion civile (agama civil), sebagai pemahaman yang paling cocok bagi kehidupan modern. Ini pengembangan dari dua tipe sebelumnya, yaitu agama yang menyatukan kebangsaan serta agama institusional—sebagaimana dianut banyak orang sekarang.

Berangkat dari tafsir atas pemikiran itu, Kang Jalal mengusung wacana agama madani dan memetakan fenomena pemahaman keislaman di Indonesia. Bagi dia, ada tiga jenis pemahaman Islam: Islam fiqhiy, Islam siyasiy, dan Islam madani. Islam madani merupakan pencapaian akhir dari dua tahapan pemikiran sebelumnya.

Islam fiqhiy memusatkan perhatian pada ajaran fikh yang dipraktikkan sehari-hari. Islam menjadi sangat ritual. Kesalehan diukur dari ritual. Pemahaman ini umumnya hanya memandang kelompoknya yang benar dan orang lain salah. ”Islamnya itu rahmatan limutamadzhibin atau rahmat bagi mazhabnya saja,” katanya.

Setelah itu berkembang Islam siyasiy atau Islam politik. Menjadikan Islam sebagai kegiatan politik, pemahaman ini memusat pada perjuangan untuk merebut kekuasaan lewat konsep negara Islam, menegakkan syariat Islam, atau mendirikan khilafah. Keselamatan bukan untuk sekelompok Islam, tetapi untuk seluruh umat Islam, rahmatan lilmuslimin.

Bagi Islam fikhiy, kaum Muslimin mundur karena dianggap meninggalkan Al Quran dan Sunah. Untuk maju, kita mesti kembali berpedoman kepada dua sumber itu. Mereka meyakini bahwa zaman para Nabi dan sahabatnya adalah zaman paling ideal.

Islam politik melihat kemunduran umat Islam akibat dominasi dan konspirasi Barat yang menghancurkan Islam. Mereka mengajak kita kembali merujuk zaman Islam menguasai seluruh dunia, yaitu masa khilafah Ustmaniyah. Itu dianggap zaman ideal yang harus diperjuangkan lagi.

Kedua pemikiran itu mengantarkan kita pada Islam madani. Semua agama bisa bertemu, dengan mengkaji apa yang bisa kita sumbangkan bagi kemanusiaan dan peradaban. Ada usaha untuk mengambil nilai-nilai universal dalam setiap agama.

Wacana Islam madani berpusat pada kasih sayang kepada sesama manusia sehingga Islam menjadi rahmat bagi semua orang, rahmatan lil’alamin. Kesalehan diukur dari kadar cinta seseorang kepada sesama. Setiap pemeluk agama bisa memberikan makna dalam kehidupannya dengan berkhidmat pada kemanusiaan.

Jika Islam fiqhiy itu berkutat pada urusan fikh dan Islam siyasiy pada politik, Islam madani berpusat pada karakter, akhlak. Tujuannya untuk membangun akhlak yang baik pada sesama manusia dalam kehidupan yang majemuk.

Perjalanan pribadi

Ketiga pemahaman itu dialami Kang Jalal dalam perjalanan hidupnya. Dia besar dalam keluarga Nahdlatul Ulama (NU) di Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Saat kecil dia ditinggalkan ayahnya pergi ke Sumatera untuk perjuangan Islam. Ayahnya aktif dalam Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) yang bercorak Islam politik.

Jalal melanjutkan sekolah di Kota Bandung. Dia berkenalan dengan paham PERSIS (Persatuan Islam) yang menurutnya sangat fikhiyah, dan kemudian menjadi kader Muhammadiyah. ”Saya pernah berusaha mengubah masjid NU di kampung menjadi masjid Muhammadiyah. Caranya, dengan menyingkirkan beduk. Ketika mau shalat Jumat, jemaah masjid itu kehilangan beduknya,” katanya mengenang.

Jalal muda lantas bersentuhan dengan kelompok-kelompok yang dulu bergabung dengan Masyumi yang kental warna politiknya. Dari berbagai pelatihan, tumbuh keinginan untuk melanjutkan perjuangan ayah mendirikan sistem politik Islam. Ketika melanjutkan studi S-2 ke Iowa State University, Amerika Serikat, tahun 1980, dia juga terpengaruh gagasan Ikhwanul Muslimin.

Pulang ke Tanah Air, Jalal menerbitkan buku-buku dari Ikhwanul Muslimin, seperti karya Hasan Al-Banna, tokoh garis keras dari Mesir. Hingga tahun 1990-an dia aktif memperjuangkan syariat Islam, terutama lewat pelatihan di kampus-kampus. ”Saya termasuk penentang asas tunggal Pancasila karena merupakan produk sekuler,” katanya.

Dia pernah berdebat dengan Nurcholish Madjid (almarhum) di ITB. Cak Nur mewakili cendekiawan sekuler propemerintah, sementara Jalal dikelompokkan sebagai fundamentalis antipemerintah. ”Saya sempat dipanggil Bakorstanasda, bagian dari Pangkopkamtib, dan diberhentikan sebagai dosen oleh Dekan Universitas Padjadjaran,” katanya.

Pemahaman keagamaan Kang Jalal bergeser secara perlahan, terutama setelah diundang Cak Nur untuk ikut mengisi acara-acara kajian di Paramadina tahun 1990-an. Dia juga banyak berdiskusi dengan kelompok Islam modernis, seperti Alwi Shihab, Gus Dur, dan Dawam Rahardjo.

Di luar itu, saat mengikuti konferensi internasional di Kolombo, dia bertemu dengan sejumlah ulama Syiah yang membawa perspektif Islam lain yang masuk akal dan sangat pluralistik. Pulang ke Indonesia, dia bawa buku-buku Syiah dan menerbitkannya lewat Mizan.

Salah satunya, buku-buku Ali Syariati yang menempatkan ideologi Islam bukan untuk menegakkan syariat, melainkan untuk menentang kezaliman, penindasan. Pemikir Syiah lain, Murtadha Muthtahhari, punya pandangan pluralis. Bagi dia, Tuhan adil sehingga pasti memberi pahala bagi siapa pun yang berbuat baik, apa pun agamanya. Hukuman diberikan kepada yang berbuat jahat, apa pun agamanya.

”Apakah menolong orang menjadi amal saleh karena pelakunya Muslim, dan menjadi amal salah karena pelakunya orang bukan Islam? Amal itu baik pada dirinya. Semua itu menggugah saya,” katanya.

Kang Jalal akhirnya menjadi cendekiawan Muslim yang mengembangkan gagasan Islam madani yang pluralis. Bagi dia, semua kelompok agama itu selamat, dan kelebihannya ditentukan oleh amal saleh dan kontribusinya terhadap kemanusiaan.

Belakangan, dia juga suntuk menekuni tasawuf, jenis keislaman yang dasarnya cinta. Dengan cinta, setiap agama bisa bertemu dan berbicara pada bahasa yang sama, memasuki kebun yang sama, baik itu Islam, Buddha, Kristen, Katolik, maupun Hindu.

Indonesia

Ketiga pemahaman Islam tadi tumbuh di Indonesia. Islam siyasiy tampak bangkit lagi lewat partai-partai politik Islam serta dalam kelompok keagamaan di kampus-kampus umum. Islam fiqhiy juga masih ada meski mulai berkurang. Beberapa organisasi masih bertahan dengan Islam fikh.

Namun, Islam madani juga berkembang. Secara umum masyarakat sudah bertambah pluralis. Keterbukaan lewat internet membuat orang mudah memahami kelompok lain. Itu pengantar efektif untuk mendorong orang menjadi pluralis dalam kehidupan global.

”Ketiga jenis Islam itu bertarung dalam wacana, tapi kadang memercik dalam tindakan kerusuhan. Itu terjadi jika dibakar oleh kelompok kepentingan tertentu,” katanya.

Kang Jalal menilai agama madani sangat pas dikembangkan di Indonesia. Pemahaman ini bisa menyatukan bangsa yang sudah lama tercabik-cabik oleh paham keagamaan. ”Kita bisa tingkatkan toleransi itu dari saling menghakimi, menjadi memahami, dan kemudian saling mengalami. Pada tingkat paling tinggi, kita menikmati kehadiran orang lain dalam kehidupan,” katanya.

Bagaimana pemerintah berperan mengembangkan pluralisme? ”Buat kita, itu anjuran. Buat pemerintah, itu keharusan,” katanya.

Secara moral, pemerintah wajib melindungi kelompok minoritas dengan memberi hak dan peluang yang sama. Pemerintah mestinya bersikap tegas dalam melindungi kelompok-kelompok minoritas.

Pluralisme juga bisa dikembangkan lewat sistem pendidikan. Akhlak atau karakter yang baik, seperti penghargaan kepada orang lain atau sikap empati terhadap sesama, bisa ditanamkan lewat program-program pelatihan di sekolah. Pendidikan paling layak disebut pendidikan karena mengajarkan karakter.

Menurut Jalal, secara keseluruhan negara memang masih lemah. ”State sudah menetapkan sesuatu, katakanlah undang-undang yang melindungi kebebasan beragama, tapi tak jalan di lapangan. Menurut UUD 1945, tak boleh ada satu kelompok agama diserang hanya karena beda mazhab. Tapi, penyerangan itu terjadi,” ujarnya.

Negara lemah karena hukum kita lemah. Hukum lemah karena politik Indonesia itu ditentukan hubungan dan kepentingan kelompok. Pemerintah, kata Kang Jalal, lebih mempertimbangkan kepentingan politik, bukan lagi undang-undang yang membela hak asasi manusia.

Sumber: Kompas, Minggu, 6 Februari 2011

  1. Ummati
    Februari 6, 2011 pukul 3:44 pm

    Apa kabar Bos, lama nggak publish postinga?

    Kang Jalal emang terkenal fenomenal, he he he….

    • Februari 11, 2011 pukul 7:22 pm

      baik ustadz. maaf, saya sudah lama gak update blog ini. Karena sibuk meliput berita. hehehe…

  2. Februari 7, 2011 pukul 2:58 am

    Mohon ijin copas/nge-link untuk di share ya.

  3. Februari 7, 2011 pukul 1:41 pm

    mantap…

  4. co_ang
    Februari 8, 2011 pukul 5:49 am

    Salam kepada udztad kang jalal, yang telah memberikan kami ceramah dalm kunjungan ke sultra, hari arbain. semoga dapat memberikan ilmu yang bermanfaat bagi semua, terutama keluara saya.

  5. Februari 8, 2011 pukul 7:19 am

    wah…nice article…
    sangat bermanfaat…sangat membangun..
    sukses selalu, slam kenal
    http://www.hajarabis.com
    Follow twitter kami di @hajarabis

  6. Februari 10, 2011 pukul 4:52 am

    Kita perlu seorang tokoh unutk menjadi contoh bahwa berbeda itu indah..

    • Februari 11, 2011 pukul 7:24 pm

      sepakat sekali.

  7. ShiNJo
    Februari 11, 2011 pukul 11:32 am

    Setelah baca artikel diatas, saya jadi bertanya, bagaimana kedudukan orang-orang non muslim yang beramal baik di akhirat kelak? Bagaimana Allah membalas kebaikan-kebaikan mereka? Apakah mereka akan dimasukkan ke dalam surga?

    • Februari 11, 2011 pukul 7:25 pm

      Beli buku pluralisme dalam Al-Qur’an karya Jalaluddin Rakhmat.

  8. ShiNJo
    Februari 11, 2011 pukul 11:36 am

    Terutama adalah bagian ini

    Kang Jalal akhirnya menjadi cendekiawan Muslim yang mengembangkan gagasan Islam madani yang pluralis. Bagi dia, semua kelompok agama itu selamat, dan kelebihannya ditentukan oleh amal saleh dan kontribusinya terhadap kemanusiaan.

    Bukankah hanya Islam satu-satunya agama yang diridhai Allah? Syukron sekiranya Mas Ressay bisa membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan saya.

    Salam

    • kunderemp
      Februari 16, 2011 pukul 2:15 am

      ShiNJo :
      Terutama adalah bagian ini

      Kang Jalal akhirnya menjadi cendekiawan Muslim yang mengembangkan gagasan Islam madani yang pluralis. Bagi dia, semua kelompok agama itu selamat, dan kelebihannya ditentukan oleh amal saleh dan kontribusinya terhadap kemanusiaan.

      Bukankah hanya Islam satu-satunya agama yang diridhai Allah? Syukron sekiranya Mas Ressay bisa membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan saya.
      Salam

      @Shinjo
      1. Diin terlalu sempit bila diartikan agama dalam pemahaman modern sekarang;
      2. Coba baca2 lagi apa arti Islam. Zaman sekarang orang sering memahami ‘Islam’ sebagai label agama padahal arti Islam jauh lebih luas.

      Jadi menghargai perbedaan tidak bertentangan dengan pernyataan ‘Islam sebagai Diin yang diridhai Allah’.

      Sekedar catatan, coba lirik AlBaqarah : 62. Kalau ente memahaminya sempit, ente akan menganggap ayat tersebut bertentangan dengan AlImron:85 dan mungkin langsung bilang yang satu di-nasakh oleh yang satunya lagi.

      • independent
        April 30, 2013 pukul 1:03 pm

        Apakah dibenarkan pluralisme kang jalal yg menyatakan bahwa seluruh kelompok agama selamat?, kalau begitu dg logika mudah bisa kita pikirkan, utk apa adanya sebuah kepercayaan masing-masing kalau begitu?, untuk apa tiap-tiap rasul diturunkan berjuang membawa risalah kebenaran?, untuk apa pula ada istilah muallaf dan murtad?, ngapain berdakwah islam capek-capek?. toh pd akhirnya kang Jalal menghakimi seluruh kelompok agama selamat, andai saya mau gonta-ganti agama ya jangan diprotes yang penting apa yg saya yakini benar ya saya selamat toh?.
        apakah ini tidak melecehkan ajaran islam sendiri? Seolah islam sbg kebenaran tidak diperlukan lagi, seolah pemikiran kang Jalal bersandar pd maslahat materialisme semata. Masing agama saja meyakini kebenarannya sendiri. Saya melihat kang Jalal beserta pengikutnya berpikir moderat mencari-cari rasionisasi dalam ayat ataupun tafsir berdasarkan perasaan, bukan kembali pada ketentuan-ketentuan yg sdh mutlak dari Allah, justru seolah kang jalal ini yang paling ngerti maunya Tuhan.

        Yang saya ketahui dari marja’ syiah saja tidak ada yang berfaham seperti kang Jalal, bahkan menolak pluralisme.

        Yang mengecewakannya lagi, kang Jalal menyatakan tidak berartinya Fiqh dan Siyasiy dalam berislam, lalu apa gunanya syariat atau berkehidupan sesuai tuntutan islam?.
        saya tau beberapa kawan syiah yang kontra dg kang jalal

  9. ogut
    Februari 15, 2011 pukul 1:18 pm

    Mungkin kang jalal ini punya surga sendiri, jadinya bisa bagi2 sama org2 non muslim🙂

    • Februari 17, 2011 pukul 11:30 am

      ah moso’?

  10. ShiNJo
    Februari 19, 2011 pukul 3:07 pm

    @Shinjo
    1. Diin terlalu sempit bila diartikan agama dalam pemahaman modern sekarang;
    2. Coba baca2 lagi apa arti Islam. Zaman sekarang orang sering memahami ‘Islam’ sebagai label agama padahal arti Islam jauh lebih luas.
    Jadi menghargai perbedaan tidak bertentangan dengan pernyataan ‘Islam sebagai Diin yang diridhai Allah’.
    Sekedar catatan, coba lirik AlBaqarah : 62. Kalau ente memahaminya sempit, ente akan menganggap ayat tersebut bertentangan dengan AlImron:85 dan mungkin langsung bilang yang satu di-nasakh oleh yang satunya lagi.

    Menghargai perbedaan itu pasti, saya sepakat untuk hal ini, karena Al-Quran memang memerintahkan demikian. Tapi yang aye sangsikan, apa bener semua kelompok agama itu selamat seperti kata kang Jalal?

    • Februari 26, 2011 pukul 3:19 pm

      itu sudah dibahas dalam buku beliau Pluralisme dalam Al-Qur’an.

  11. Februari 21, 2011 pukul 6:39 am

    Nice article… Sangat bermanfaat dan juga membangun. Salam kenal dan sukses selalu!

  12. Maret 4, 2011 pukul 4:40 am

    Asalamualaikum Akhi
    Saya rasa sorga bukan monopoli satu keyakinan tertentu…
    Tuhan lebih luas pengetahuanya untuk menentukan nilai-nilai
    ketimbang kesempitan kita menetapkan nilai-nilai
    wasalam…

    • independent
      Mei 1, 2013 pukul 12:34 am

      maaf, tapi secara logika disiplin ilmu saja, pernyataan anda sudah tidak berdasar. anda tau tidak apa maksud dari keyakinan atau kepercayaan?, kalau toh anda ragu terhadap apa yang anda percayai dan yakini, untuk apa ada yang namanya keyakinan atau kepercayaan itu sendiri, kita sbg manusia cukup mengimani dan mengikuti ketentuan-ketentuan fundamental yg sdh ditetapkan dalam agama kita, sedangkan hal-hal yg tidak ada dasarnya kita cari-cari rasionalisasi untuk dimasukan ke dalam akidah, astagfirullah, kalau seperti itu apa bedanya dg orang tersebut sendiri yang seolah paling mengerti maunya Tuhan alias bertuhan menurut egonya sendiri

  13. Maret 5, 2011 pukul 11:10 am

    pak jalal… bisa menempatkan antara hal yg personal dan yg bersifat sosial,… antara isu2 pluralisme kang jalal, gus dur, cak nur,… mempunyai definisi sendiri2… kang jalal syiah, tapi menempatkan nilai toleransi pada ranah sosial muslim sunni…

  14. Maret 21, 2011 pukul 4:02 pm

    asalamualaikum,,, salam kenal sodara”ku… ditunggu kunjungannya di blog saya….

  15. ccpromli@gmail
    Mei 10, 2011 pukul 8:39 am

    terima kasih banyak Mas, izin copast ya. salam

  16. muchson
    Mei 29, 2011 pukul 7:29 pm

    Bila semua kelompok agama itu selamat, maka tidak ada artinya itu agama. Agama adalah keyakinan masing-masing sebagai jalan menuju keselamatan di akherat. Bagi masing-masing pemeluk agama pasti berkeyakinan bahwa jalan mereka yang paling benar dan mendapatkan pahala surga. Keyakinan tersebut harus saling dihormati, sebagai hak asasi dalam menentukan pilihan. Inilah pluralisme yang sejati. Namun bila dipaksakan pemahaman bahwa setiap pemeluk agama pasti masuk surga, atau setiap perbuatan baik mendapatkan pahala, pemaksaan demikian justru bertentangan dengan pluralisme itu sendiri.

  17. Juli 24, 2011 pukul 5:15 pm

    assalamualaikum,wr.wb
    salam kenal mas……
    semoga bermanfaat bagi kita semua,amien.

  18. Abdullah
    September 20, 2011 pukul 10:39 pm

    Di dalam Al-Quran berkali-kali Allah dengan tegas menyatakan kafirnya Yahudi, Kristen dan Musyrikin. Mereka kekal selamanya disiksa di dalam neraka. Mereka adalah seburuk-buruknya makhluk. Siapa saja yang mengatakan Yahudi dan Kristen tidak kafir, maka ia kafir keluar dari Islam. Siapa saja yang mengatakan Kristen dan Yahudi bakal masuk surga, maka ia kafir. Karena ia telah menentang perkataan Allah. Maka takutlah kepada Allah yang siksaNya amat keras!

    • Oktober 8, 2011 pukul 3:49 pm

      itu kan menurut tafsiran ente cuy, belum tentu menurut tafsiran orang lain. emang tafsiran ente paling bener sendiri cuy? ente Tuhan?

  19. Oktober 2, 2011 pukul 3:35 pm

    Ketika patokan dasarnya hanya akhlak, maka pertanyaan mendasarnya adalah :
    1. Apakah Rasulullah Saw mendakwahkan islam hanya pada orang2 kafir dan musyrik yang berakhlak buruk saja?
    2. Ketika manusia sudah memiliki ‘akhlak baik’ apakah ia tidak perlu lagi didakwahi untuk masuk islam?
    3. Tolak ukur akhlak itu dari apa? Penilaiannya oleh siapa? Undang-undangnya apa? Tuntunannya apa? Siapa yang berhak menyatakan seseorang telah berakhlak baik? Kang jalal? atau anda?
    4. Kesalahan fatal si Jalal ini adalah membagi islam dalam 3 kategori seperti di atas. Tahukah dia bahwa islam lebih komplit dan sempurna dari itu? Tahukah dia bahwa islam telah mengajarkan dari tata cara buang hajat sampai mengurus negara? Tahukah ia islam telah menjelaskan tentang masa depan hingga ciri-ciri kiamat yang itu satu persatu terbukti kebenarannya? Apakah itu tidak modern?
    5. Tahukah ia islam ini berasal dari Allah SWT yang Maha Tahu Segalanya? Mungkinkah Allah menurunkan syariat yang tidak berlaku pada suatu masa?

    Yang pasti, konsep yang sangat aneh. Dan dia sendiri pun tidak akan mampu untuk melaksanakannya, kenapa mengajak orang lain?

    • Oktober 8, 2011 pukul 3:46 pm

      pertanyaan yang terlalu besar kadar tendensinya sehingga ngawur dan melenceng dari fokus bahasan Kang Jalal.

  20. abdullah
    Oktober 2, 2011 pukul 5:11 pm

    kitakan pecinta ahlulbait.
    ngapain kita dengerin atau baca omongan atau tulisan kanda jalal? dia itukan bukan keturunan ahlulbait?

  21. Oktober 12, 2011 pukul 8:09 am

    salam kenal .
    join to hajarabis
    http://www.hajarabis.com

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: