Bismillahirrahmanirrahim

Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa Aali Sayyidina Muhammad.

Berikut ini adalah tanggapanku atas adanya pernyataan sikap bersama yang dikeluarkan oleh “Ahlussunnah Indonesia” yang menyatakan bahwa syi’ah tidak bisa bersatu dengan Ahlussunnah dan menuntut syi’ah dilarang aktivitasnya. Sengaja aku beri tanda kutip (“) pada kata Ahlussunnah, karena aku masih yakin, mereka tidak mewakili Ahlussunnah.

Berikut Pernyataan sikap yang dibawahnya aku berikan tanggapan:

Pernyataan Sikap Bersama Ahlussunnah Indonesia

Kami Ahlussunnah Indonesia menyatakan sikap bersama tentang keberadaaan Syiah Imamiyyah Itna’asyariyyah di Indonesia sebagai berikut:

What? Ahlussunnah? ah paling ngaku-ngaku ahlussunnah padahal khawarij, tukang pemecah belah umat.

MENIMBANG

  1. Ajaran Ahlussunnah adalah Ajaran dan jalan Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam, keluarga dan Sahabatnya hingga hari kiamat. (Q.S An Nisa 115 dan Al Hasyr : 7)

Ajaran Syi’ah juga ajaran Allah, Rasulullah, keluarga, dan sahabat Nabi yang setia hingga akhir kiamat. So, situ klaim, sini klaim juga. Kenapa tidak saling menghormati saja antara pengklaim? Bro, Allah saja berfirman begini:

“Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan“. [QS An Nahl [16]:93 )

2. Siapapun yang tidak sesuai dan bahkan menyelisihi Ahlussunnah wal jama’ah, berarti menyelisihi kebenaran, maka dia tersesat. (Q.S Yunus : 32 dan Al An’am 55)

Setahuku nih bro ustadz:

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka, dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS AL AHZAB: 36)

Jadi yang sesat itu yang menyelisihi ketetapan Allah dan Rasulnya, bukan menyelisihi ketetapan ulama Ahlussunnah. Siapakah yang menyelisihi ketetapan Allah dan Rasul-Nya? Coba deh bro ustadz, baca surat An-Nahl ayat 125.

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Ahlussunnah meyakini bahwa Al Qur’anul Karim adalah Kitab yang diturunkan kepada Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam, tetap terjaga dari penambahan dan pengurangan hingga hari kiamat (Q.S Al Hirr :9). Sedangkan syi’ah meyakini bahwa Al- Qur’an yang ada terdapat pengurangan dan tidak otentik. Ulama besar Syi’ah Husein bin Muhammad Taqi An Nuri At Tabarsi dalam kitabnya “Fashlul Khithob fi Itsbat Tahrif Kitab Rabbil arbab” berkata : “Ahlun Naqli Wal Atsar dari kalangan khusus (Syi’ah) dan umum (Ahlussunnah) sepakat bahwa Al Qur’an yang ditangan ummat Islam saat ini bukanlah Al Qur’an seutuhnya”. Dan Al-Qur’an versi Syi’ah disebut dengan mushhaf Fathimah berjumlah 17.000 ayat dan akan dibawa oleh Imam Mahdi (AlKafi juz, 2 hal. 597, cet Beirut danFaslul Khithab hal 235).

Aduh, bro ustadz boong nih. Orang kerdil senantiasa mengatakan mazhab syiah meyakini tahrif dengan mengutip riwayat-riwayat syiah. Padahal ternyata dalam riwayat sunni juga terdapat hal-hal serupa. Jika orang kerdil salafy itu berkesimpulan Syiah meyakini tahrif dengan riwayat seperti itu maka hendaknya dia juga berkesimpulan yang sama yaitu Sunni meyakini tahrif dengan adanya riwayat serupa. Kalau orang kerdil itu mau membantah kalau faktanya Sunni tidak meyakini tahrif maka bukalah mata lebar-lebar dan saudara kita yang Syiah pun tidak ada yang meyakini tahrif Al Qur’an.

حدثنا إسماعيل بن إبراهيم عن أيوب عن نافع عن ابن عمر قال لا يقولن أحدكم قد أخذت القرآن كله وما يدريه ما كله ؟ قد ذهب منه قرآن كثير ولكن ليقل قد أخذت منه ما ظهر منه

Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Ibrahim dari Ayub dari Nafi’ dari Ibnu Umar yang berkata “Janganlah ada salah seorang diantara kalian mengatakan ‘sungguh aku telah mengambil Al Qur’an seluruhnya’. Tahukah ia apa seluruhnya itu?. Sungguh telah hilang darinya Al Qur’an yang banyak, hendaknya ia mengatakan “sungguh aku telah mengambil darinya apa yang ada [nampak] darinya saja” [Fadha’il Qur’an Qaasim bin Sallam no 578]

Riwayat ini sanadnya shahih. Selain Abu Ubaid [Qaasim bin Sallaam] riwayat ini juga diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur dalam Sunan Sa’id bin Manshur no 137 dengan sanad yang sama seperti riwayat Abu Ubaid.

  • Isma’il bin Ibrahim adalah Isma’il bin Ibrahim bin Miqsaam Al Asdiy yang dikenal dengan sebutan Ibnu ‘Ulayyah. Dia adalah perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat. Syu’bah meriwayatkan darinya [berarti tsiqat menurut Syu’bah]. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat ma’mun shaduq”. Abu Dawud berkata “tidak ada seorangpun dari kalangan muhaddis melainkan ia pernah salah kecuali Isma’il bin Ulayyah dan Bisyr bin Mufadhdhal”. Nasa’i berkata “tsiqat tsabit”. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat tsabit dalam hadis hujjah”. Yaqub bin Syaibah berkata “tsabit jiddan”. Ibnu Syahin memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Ali bin Madini berkata “tidak ada yang mengatakan bahwa ada orang yang lebih tsabit dari Ibnu ‘Ulayyah dalam hadis”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 1 no 513]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat hafizh [At Taqrib 1/90]
  • Ayub bin Abi Tamimah As Sakhtiyatiy adalah perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat. Syu’bah mengatakan kalau Ayub pemimpin para fuqaha. Ibnu Uyainah berkata “aku belum pernah bertemu orang seperti Ayub”. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat dan ia lebih tsabit dari Ibnu ‘Aun”. Ibnu Sa’ad menyatakan ia tsiqat tsabit dalam hadis. Abu Hatim menyatakan tsiqat. Nasa’i berkata “tsiqat tsabit”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Daruquthni berkata “Ayub termasuk hafizh yang tsabit” [At Tahdzib juz 1 no 733]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat tsabit hujjah termasuk fuqaha besar dan ahli ibadah [At Taqrib 1/116]
  • Nafi’ Abu Abdullah Al Madaniy mawla Ibnu Umar adalah tabiin faqih masyhur termasuk perawi kutubus sittah. Malik bin Anas meriwayatkan darinya [berarti tsiqat menurut Malik]. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat banyak meriwayatkan hadis”. Bukhari berkata “sanad yang paling shahih adalah Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar”. Al Ijli, Ibnu Khirasy dan Nasa’i menyatakan tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Al Khalili menyatakan Nafi termasuk imam tabiin Madinah imam dalam ilmu disepakati shahih riwayatnya. [At Tahdzib juz 10 no 743]. Ibnu Hajar menyatakan Nafi’ tsiqat tsabit faqih masyhur [At Taqrib 2/239]

Syi’ah menyelisihi Ahlussunnah dalam rukun iman. Ahlussunnah meyakini Rukun Iman ada Enam yaitu Iman kepada Allah, Iman kepada Malaikat, Iman Kitab-kitab Allah, Iman kepada para Rosul Allah, Iman kepada Hari Kebangkitan, dan Iman kepada Qadar-Nya, baik ataupun buruk. Sedangkan Syi’ah meyakini bawa Rukun Iman ada 5 yaitu At Tauhid, An Nubuwwah, Al Imamah, Al Adl, Al Ma’ad.

hehehe…persoalannya, Syiah itu meyakini atau menyelisihi dari poin-poin rukun iman menurut Ahlussunnah? ternyata tidak, Syi’ah pun beriman kepada Allah, kepada malaikat, kepada kitab2 Allah, kepada Rasul Allah, kepada hari kebangkitan, kepada Takdir Ilahi. Sama bro ustadz….

Syi’ah menyelisihi Ahlussunnah dalam rukun Islam. Ahlussunnah meyakini Rukun Islam ada 5 yaitu Dua kalimat Syahadat, Shalat, Zakat, Puasa, dan Haji. Sedangkan Syi’ah meyakini bawa Rukun Islam ada 5 yaitu Shalat, Puasa, Zakat, Haji, dan wilayah, bahkan Al wilayah lebih utama di banding rukun Islam lainnya dalam kitab Ushul Kafi.

Hehe…ini juga sama bro ustadz. Orang Syi’ah, sepengetahuan saya nih, syahadat juga, shalat juga, zakat juga, puasa juga, haji juga bro ustadz. So, janganlah mengada-ada bro ustadz.

Ahlussunnah telah sepakat bahwa Manusia yang terbaik dari Ummat ini setelah Rosulullah adalah Sayyidina Abu Bakar Ash Shiddiq dan Sayyidina Umar Rodhiyallahu ‘anhuma. Sedangkan menurut syi’ah mereka berdua adalah kafir dan dilaknat oleh Allah, para malaikat dan manusia. (Al Kafi juz 8 hal. 246, Haqqul Yaqin hal. 367 dan 519)

Oh tidak bro. Ada umat yang lebih baik dari para sahabat Nabi bro ustadz.

أبو جمعة قال تغدينا مع رسول الله صلى الله عليه و سلم ومعنا أبو عبيدة بن الجراح قال فقال يا رسول الله هل أحد خير منا اسلمنا معك وجاهدنا معك قال نعم قوم يكونون من بعدكم يؤمنون بي ولم يروني

Diriwayatkan dari Abu Jum’ah RA yang berkata “Suatu saat kami pernah makan siang bersama Rasulullah SAW dan ketika itu ada Abu Ubaidah bin Jarrah RA yang berkata “Wahai Rasulullah SAW adakah orang yang lebih baik dari kami? Kami memeluk Islam dan berjihad bersama Engkau. Beliau SAW menjawab “Ya, ada yaitu kaum yang akan datang setelah kalian, yang beriman kepadaKu padahal mereka tidak melihat Aku”.

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad Ahmad juz 4 hal 106 hadis no 17017 tahqiq Syaikh Syu’aib Al Arnauth dimana beliau berkata حديث صحيح hadis ini shahih.

Ahlussunnah sepakat bahwa Mut’ah hukumnya Haram. Sedang Syiah menghalalkan Mut’ah.

Bro ustadz, ada juga lho orang sunni yang menganggap nikah mut’ah itu halal. Persoalannya nih bro, bukan nikah mut’ah haram menurut Ahlussunnah, halal menurut syi’ah. Tetapi persoalannya nih bro, apakah hukum nikah mut’ah itu halal atau haram sampai hari kiamat bro? Mari didialogkan bro ustadz.

Ahlussunnah meyakini bahwa ‘Ishmah (kema’shuman) hanya dimiliki oleh para Nabi dan Rosul. Sedangkan syi’ah meyakini bahwa ‘Ishmah juga dimiliki oleh para Imam yang dua belas.

So what bro? Konsep Ahlussunnah terhadap kema’shumannya Nabi pun tidak konsisten bro ustadz. Disatu sisi dikatakan Nabi itu terjaga dari salah dan dosa. Tapi disisi lain, dikatakan Nabi pernah bermuka masam kepada seorang buta. Apa itu tidak melukai hati Nabi bro ustadz?

Syi’ah Imamiyyah Itsna ‘asyariyah telah berdusta atas nama ahlul bait dalam hal menetapkan pokok-pokok ajaran.

Tau dari mana bro ustadz? jangan-jangan Anda semua yang berdusta atas nama Allah? Astaghfirullah.

Ahlussunnah dimata orang syi’ah adalah kafir (Murtad), anak zina, halal darah dan hartanya.

Oh tidak bro ustadz. Ahlussunnah itu adalah muslim yang memiliki penafsiran yang berbeda dengan syi’ah. BTW, yang dibantai itu orang syi’ah oleh orang yang mengklaim diri mereka ahlussunnah bro ustadz. Jadi, janganlah bro ustadz memanipulasi fakta.

Majelis Ulama Indonesia dalam Rapat Kerja Nasional bulan Jumadil Akhir 1404 H./Maret 1984 M merekomendasikan tentang faham Syi’ ah sebagai berikut: Faham Syi’ah sebagai salah satu faham yang terdapat dalam dunia Islam mempunyai perbedaan-perbedaan pokok dengan mazhab Sunni (Ahlus Sunnah Wal Jamm’ah) yang dianut oleh Umat Islam Indonesia. Mengingat perbedaan-perbedaan pokok antara Syi’ah dan Ahlus Sunnah wal Jama’ah seperti tersebut di atas, terutama mengenai perbedaan tentang “Imamah” (pemerintahan)”, Majelis Ulama Indonesia menghimbau kepada umat Islam Indonesia yang berfaham ahlus Sunnah wal Jama’ah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya faham yang didasarkan atas ajaran Syi’ah.

Hehehe…Syi’ah dan Ahlussunnah Tuhannya sama bro, tetapi cara pandang mereka terhadap Tuhan yang berbeda. Nabinya pun sama, tetapi cara pandang mereka terhadap Nabinya berbeda. Kitab mereka sama bro, Al-Qur’an. Hanya saja penafsiran mereka terhadap Al-Qur’an yang berbeda. So, ini soal penafsiran dan cara pandang bro. Janganlah ente-ente semua ini menjadi Tuhan-Tuhan baru di negeri ini. Karena kalau begitu, ente-ente semua sudah musyrik bro ustadz. Bro ustadz, bukan kalian yang lebih mengetahui siapa yang tersesat, melainkan Allah yang lebih mengetahui. (QS An-Nahl ayat 125).

  1. Surat Edaran Departemen Agama Nomor D/BA.01/4865/1983, tanggal 5 Desember 1983 perihal “Hal Ikhwal Mengenai Golongan Syi’ah”
  2. Pada poin ke-5 tentang Syi’ah Imamiyah (yang di Iran dan juga merembes ke Indonesia, red) disebutkan sejumlah perbedaannya dengan Islam. Lalu dalam Surat Edaran Departemen Agama itu dinyatakan sbb: “Semua itu tidak sesuai dan bahkan bertentangan dengan ajaran Islam yang sesungguhnya. Dalam ajaran Syi’ah Imamiyah pikiran tak dapat berkembang, ijtihad tidak boleh. Semuanya harus menunggu dan tergantung pada imam. Antara manusia biasa dan Imam ada gap atau jarak yang menganga lebar, yang merupakan tempat subur untuk segala macam khurafat dan takhayul yang menyimpang dari ajaran Islam.” (Surat Edaran Departemen Agama No: D/BA.01/4865/1983, Tanggal: 5 Desember 1983, Tentang: Hal Ikhwal Mengenai Golongan Syi’ah, butir ke 5).

Aneh nih bro ustadz, justru pemikiran sangat berkembang di syi’ah. Stahu saya, banyak ulama2 syi’ah yang menyusun buku filsafat Islam yang meruntuhkan filsafat barat tidak dengan AL-Qur’an, melainkan dengan filsafat yang diperkuat dengan Al-Qur’an.

Ijtihad juga berkembang kok bro di Syi’ah.Jadi, janganlah berdusta bro, ndak baik itu. Departemen Agama? Siapa tuh bro? mau donk dialog dengan orangnya.

MENYATAKAN

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas dan pandangan dari para nara sumber, yang mewakili ormas-ormas Islam, mengambil kesimpulan dan menyatakan bahwa:

1. Ahlussunnah tidak dapat dipersatukan dengan Syiah, karena berbeda dalam Ushuluddin (Aqidah/Tauhid).

Bro ustadz, Ahlussunnah sangat mungkin bersatu dengan syi’ah. Tuhan mereka sama, Nabi mereka sama, Kitab mereka sama. So, apalagi bro ustadz? Sudahlah bro ustadz, janganlah Anda menjadi pembangkang Allah. Allah sndiri telah memerintahkan kita semua untuk bersatu bro ustadz. Eh ente malah memecah belah bro ustadz.

“Dan berpegang teguhlah kalian semua dengan tali Allah dengan berjama’ah dan jangan berpecah belah.” (Q.S. Ali Imran: 103)

Tuh bro ustadz, ente mau mengikuti perintah Allah atau tidak? kalau mengikuti maka beriman, maka gak maka kafir lho bro ustadz.

Syiah berbahaya bagi agama, bangsa dan negara.

Oh tidak, justru kalian itulah yang berbahaya bagi agama, bangsa dan negara, bro ustadz. Bro ustadz, IJABI yang katanya syi’ah, dan Dewan Masjid Indonesia yang katanya sunni sudah bersatu dalam wadah Majelis Ukhuwah Sunni Syi’ah Indonesia (MUHSIN). Tetapi kalian belakangan muncul dengan membawa isu perpecahan.
Jadi siapa yang hendak melemahkan umat Islam, Bangsa, dan Negara ini? Syi’ah ataukah ente-ente semua yang tukang pemecah belah batu eh salah maksudnya umat.

Mendesak MUI untuk mengeluarkan fatwa lagi tentang sesatnya Syi’ah secara tegas.

Kalau akal orang-orang MUI masih waras dan ingin tunduk kepada perintah Allah untuk bersatu, maka yang seharusnya diberikan cap sesat adalah ente-ente semua yang menghembuskan perpecahan ditengah-tengah umat Islam, Bangsa, dan Negara ini.

Menedesak Pemerintah agar melarang Syi’ah dan aktifitasnya di seluruh wilayah Indonesia, Agar tidak timbul konflik seperti di Irak, Yaman, Pakistan dan Negara lain.

Dan seharusnya kalianlah yang dilarang.

Kami Ahlussunnah (Muslimin Indonesia) sangat menolak keras MUHSIN (Forum Ukhuwah Sunni-Syiah) yang digagas beberapa waktu yang lalu oleh aktivis aktivis syiah dan oknum yang mengatas namakan Muslimin Indonesia di Jakarta.

Tuh kan, jadi kelihatan siapa yang pingin umat ini bersatu dan kuat? tentu bukan kalian bro ustadz. Jadi kelihatan siapa yang pingin memecah belah umat Islam, bangsa, dan negara ini? tentu kalian bro ustadz.

—-

Kepada saudara-saudaraku, mari kita ikuti perintah Allah.

“Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan“. [QS An Nahl [16]:93 )

“Dan berpegang teguhlah kalian semua dengan tali Allah dengan berjama’ah dan jangan berpecah belah.” (Q.S. Ali Imran: 103)

Perbedaan pemahaman tidak dapat dihindari karena akan adanya kesalahpahaman. Kita paham yang pasti benar hanyalah Al Qur’an dan Hadits

“Sebenar benar perkataan adalah kitabullah(alquran) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam.” (HR.Muslim).

Pendapat, pemahaman, perkataan manusia selain kedua pokok itu, bisa diambil dan bisa pula ditolak

Imam Daarul Hijroh (Malik bin Anas) mengatakan, “Setiap dari kita diambil dan ditolak darinya kecuali pemilik kubur ini,” seraya menunjuk kepada junjungan kita, Rasulullah Muhammad Shollallahu Alaihi Wasallam.”

Bagi mereka yang biasa berdiskusi, bertukar pendapat, dan berdialog pasti mengenal ungkapan, “Pendapatku benar, tetapi mungkin juga salah. Dan pendapat lawanku salah, tetapi mungkin juga benar.

Mari, kita berdialog dengan santun tanpa ada cap sesat dan kafir yang keluar dari congor (ups sorry, mulut maksudnya) kita. hihihi…:D

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. An-Nahl ayat 125)