Apakah diantara kita masih ingat Darsem? Seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang lolos dari hukuman pancung itu kini tengah menjadi sorotan setelah menjadi miliarder.

Darsem, mantan TKI asal Kabupaten Subang, Jawa Barat, kembali ke kampung halamannya pada Rabu (13/7) setelah terbebas dari hukuman pancung di Arab Saudi setelah dibantu pemerintah dengan diyat sebesar Rp 4,7 miliar. Ia juga mendapat bantuan dari para pemirsa sebuah stasiun televisi swasta sebesar Rp 1,2 miliar sehingga kini menjadi miliarder.

Banyak orang mengecam Darsem sebagai orang tidak tahu diri lantaran Darsem kini hidup bergelimang harta. Bahkan para tetangganya menyebut Darsem sebagai ”toko emas berjalan” lantaran ke mana-mana pakai emas, sudah seperti toko berjalan.  Pengacara Darsem, Elyasa Budianto, pun menuturkan hal serupa.

Darsem nampaknya telah lupa diri. Ia kini asyik menikmati sumbangan yang mengalir ke dirinya, di tengah derita banyak orang papa dan TKW di negeri ini.

Kita harus mendudukkan kembali peruntukan sumbangan bagi Darsem itu. Uang itu bukanlah untuk keperluan pribadi sehari-hari apalagi keperluan untuk kemewahan.

Dana yang dikumpulkan dari masyarakat itu sedianya untuk membayar diyat. Namun karena pemerintah telah membayar seluruh diyat, maka uang sumbangan itu kemudian diserahkan kepada Darsem.

Memang, Darsem telah menyisihkan sebagaian uang itu untuk keperluan sosial. Namun tidak dapat dibenarkan pula jika uang tersebut untuk keperluan konsumtif pribadi. Ini merupakan tindakan pengkhianatan, jika tidak dikatakan dzalim karena telah mengalihkan peruntukkan dana sumbangan tersebut untuk hal-hal yang tidak sesuai dengan peruntukkan pada awal dana tersebut dikumpulkan.

Para pemirsa televisi yang menyumbang untuk Darsem juga mengecam tingkah laku Darsem saat ini. Mereka menuntut Darsem untuk sadar diri.

Kekesalan para pemirsa televisi tersebut tidak pas jika langsung kita cap sebagai bentuk ketidakikhlasan. Ia lebih tepatnya dikatakan sebagai bentuk kekesalan atas sikap Darsem yang tidak sadar diri.

Orang akan kesal jika apa yang telah diberikannya kepada orang lain justru disalahgunakan. Bukan hanya persoalan uang saja, bahkan persoalan ilmu pengetahuan pun bisa. Orang yang telah diberikan pengetahuan tetapi digunakan untuk hal-hal yang tidak baik, tentu akan memunculkan kecaman terhadapnya.