Bisa jadi tidak banyak orang mengetahui istilah Fallacy. Fallacy yang berasal dari bahasa Yunani dan Latin masih asing di telinga, namun mungkin saja ia kerap dilakukan oleh seseorang.

Fallacy dapat diartkan suatu kerancuan atau kesalahan berpikir. Ada dua pelaku Fallacy ini, yakni Sofisme dan Paralogisme, yang sadar atau sengaja melakukan kerancuan berpikir dan yang tidak sadar atau tidak sengaja melakukannya.

Entah termasuk pelaku yang manakah, pimpinan DPR RI, Marzuki Ali, yang baru-baru ini kembali mengeluarkan pernyataan yang memunculkan kontroversi di tengah masyarakat. Dua poin penting dari pernyataan Marzuki Ali tersebut yang menjadi sorotan yakni dibubarkannya KPK jika lembaga super body tersebut sudah mengecewakan dan tidak dapat dipercaya serta soal pemberian maaf bagi para pelaku korupsi terdahulu.

Dari pernyataan tersebut, setidaknya didapati dua bentuk kerancuan berpikir. Pertama, apa yang disebut dengan Fallacy of Dramatic Instance, yakni kecenderungan untuk melakukan analisa masalah dengan penggunaan satu dua kasus untuk mendukung argumen yang bersifat general. Dalam pemaknaan lain, bisa kita sebut sebagai sikap yang over generalisation.

Adanya dugaan penyimpangan yang dilakukan satu dua orang pejabat KPK, tentu tidak lantas disimpulkan bahwa KPK secara keseluruhan lembaga telah menyimpang. Oleh sebab penyimpangan tersebut, maka KPK layak untuk dibubarkan.

Tentu kesimpulan itu terlalu over generalisation. Bagaimana jika seandainya cara berpikir Marzuki Ali itu kita terapkan pada DPR. Jika ada beberapa anggota DPR yang melakukan penyimpangan, lalu kita simpulkan bahwa seluruh angota DPR itu menyimpang.

Kedua, Marzuki Ali telah melakukan Fallacy Argumentum ad Misericordiam, sesat pikir yang sengaja diarahkan untuk membangkitkan rasa belas kasihan lawan bicara dengan tujuan untuk memperoleh pengampunan/ keinginan. Contoh Fallacy ini misalnya: Maafkanlah saya, bukankah manusia itu merupakan makhluk yang tidak luput dari kesalahan dan dosa?

Pernyataan Marzuki Ali termasuk dalam jenis kesalahan berpikir ini. Bangsa Indonesia, menurutnya, harus bisa memaafkan seluruh koruptor karena Tuhan pun memaafkan semua manusia.