Beranda > News > PBNU Serukan Pegang Teguh Nilai Keberagaman

PBNU Serukan Pegang Teguh Nilai Keberagaman

JAKARTA – Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Slamet Effendy Yusuf mengatakan kelompok aliran Syiah tidaklah bertentangan dengan Islam. Syiah dalam Islam diakui sebagai bagian aliran beberapa mazhab yang ada. Meskipun kata dia, Syiah memiliki beberapa perbedaan terkait cara pandang.

“MUI dalam rekomendasi pada 1984 menyatakan Syiah itu bagian dari mazhab dalam Islam, karena itu memang didalam mazhab, ada perbedaan-perbedaan tentang beberapa pandangan,” kata Slamet kepada okezone, Senin (1/1/2012).

Beberapa perbedaan dalam cara pandang antara lain terkait hadis dan imamah. “Seperti pandangan terhadap hadis, kalau Sunni, semua hadis yang diriwayatkan oleh para sahabat dan tabiin, oke. Sementara Syi’ah tidak. Soal Imamah di Sunni tidak mewajibkan tapi di Syiah mewajibkan, Terjemahan dalam solat antara Sunni dan Syiah ada perbedaan,” ujarnya.

Slamet yang juga Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), menilai konflik Sunni-Syiah yang terjadi di Kecamatan Karang Penang, Sampang lebih banyak dilatarbelakangi oleh konflik personal antara kedua bersaudara Rois dan Tajul Muluk. Konflik itu akhirnya berkembang hingga menyeret masyarakat luas.

“Perbedaan Rois dan Tajul Muluk, keduanya lulusan Pondok Pesantren Yayasan Pendidikan Islam (Yapi) Pasuruan. Setelah lulus, Tajul Muluk meneruskan dakwahnya, namun Rois kembali keorganisasi mayoritas, Ahlussunnah Waljama’ah atau Sunni. Tapi konfliknya meluas dan menyeret-nyeret masyarakat,” jelasnya.

“Dulu sudah ada perjanjian di Muspida dan disitu ada tokoh agama, pemerintah, Rois dan Tajul Muluk. Ada perjanjian Syiah tak boleh menyebarkan dakwahnya, lalu akhirnya Tajul Muluk pindah ke Malang. Tapi kan di sana ada penerusnya yang mungkin melanjutkan,” imbuhnya.

Slamet meminta semua pihak bisa meredakan suasana. Selain itu dia juga menyerukan kepada masyarakat agar membiasakan diri hidup berdampingan dan menjaga teguh nilai-nilai keberagaman.

“Sebaiknya yang terpenting saat ini cooling down, masyarakat harus mulai terbiasa dengan lingkungan perbedaan, kita harus memegang teguh prinsip tasamuh (toleransi),” pungkasnya.

  1. Agustus 8, 2012 pukul 1:04 pm

    I have read so many posts about the blogger lovers except this piece of writing is actually a fastidious article, keep it up.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: